Winie The Pooh

My Widget

Jumat, 29 Desember 2017

MAKALAH WACANA BAHASA INDONESIA : UNSUR-UNSUR WACANA (EKSTERNAL)



MAKALAH WACANA BAHASA INDONESIA
UNSUR-UNSUR WACANA (EKSTERNAL)
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pertama mata kuliah Wacana

Disusun Oleh :
KELOMPOK 1
Ramiati Raman
NIM : 2015-35-043
Ivander Y. C. Pattiruhu
NIM : 2015-35-069
Andi Nurlela
NIM : 2015-35-050
Yona Witra Rumborry 
NIM : 2015-35-036

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas pertama, dalam mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia tentang Unsur-unsur Wacana (Eksternal). Dan juga penulis berterimakasih kepada bapak dosen mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas ini kepada kami kelompik 1.
Adapun makalah Wacana Bahasa Indonesia ini diambil dari berbagai referensi seperti buku dan internet, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Makalah ini berisi tentang unsur-unsur wacana (eksternal) yang terdiri dari implikatur, preposisi, referensi, inferensi, dan konteks. 
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca serta dapat menambah wawasan mengenai unsur-unsur wacana terutama unsur eksternalnya. Memang makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.


Ambon, September 2017
                                                                                                           PENULIS

DAFTAR ISI

Halaman Judul ...................................................................................................................... i
Kata Pengantar ..................................................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................................................... iii
Bab I : Pendahuluan
1.1. Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .............................................................................................. 1
1.3.Tujuan Penulisan ................................................................................................. 1

Bab II : Pembahasan
2.1. Pengertian Wacana ............................................................................................. 2
2.2. Unsur-unsur Wacana (Eksternal) ....................................................................... 2  
2.2.1.      Implikatur ................................................................................................. 3  
2.2.2.      Presuposisi ................................................................................................ 4   
2.2.3.      Referensi .................................................................................................. 4  
2.2.4.      Inferensi ................................................................................................... 5  
2.2.5.      Konteks .................................................................................................... 6  

Bab III : Penutup
3.1. Kesimpulan .................................................................................................................... 7
Daftar Pustaka ...................................................................................................................... 8  


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
 Wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa. Dengan kesatuan makna, wacana dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Di samping itu, wacana juga terikat pada konteks. Sebagai kesatuan yang abstrak, wacana dibedakan dari teks, tulisan, bacaan, dan tuturan yang mengacu pada makna yang sama, yaitu wujud konkret yang terlihat, terbaca, atau terdengar. Pemahaman terhadap wacana akan memudahkan kita memahami bahasa secara lebih luas tidak saja dari struktur formal bahasa tetapi juga dari aspek di luar bahasa (konteks).
Wacana memiliki dua unsur pendukung utama, yaitu unsur dalam (internal) dan unsur luar (eksternal). Unsur internal berkaitan dengan aspek formal kebahasaan, sedangkan unsur eksternal berkaitan dengan hal-hal di luar wacana itu sendiri. Unsur eksternal wacana merupakan sesuatu yang menjadi bagian wacana, tetapi tidak nampak secara eksplisit. Kehadiran unsur eksternal berfungsi sebagai pelengkap keutuhan wacana. Unsur-unsur eksternal ini terdiri atas implikatur, presuposisi, referensi, inferensi, dan konteks. Pada makalah ini lebih berfokus pada unsur ekternal dari wacana.

1.2. Rumusan Masalah
Dari utaian latar belakang di atas dapat kita rumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1)    Apa yang dimaksud dari wacana ?
2)    Apa sajakah unsur eksternal wacana serta bagaimanakah penjelasannya ?

1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengerjakan tugas mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia mengenai unsur eksternal dari wacana yang terdiri atas implikatur, preposisi, referensi, inferensi, dan konteks. 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Wacana  
Kata wacana dalam bahasa indonesia dipakai sebagai padanan (terjemahan) kata discourse dalam bahasa inggris. Secara etimologis kata discourse itu berasal dari bahasa latin discursus ‘lari kian kemari’. Kata discourse itu diturunkan dari kata discurrere. Bentuk discurrere itu merupakan gabungan dari dis dan currere ‘lari, berjalan kencang’ (Wabster dalam Baryadi 2002:1). Wacana atau discourse kemudian diangkat sebagai istilah linguistik. Dalam linguistik, wacana dimengerti sebagai satuan lingual (linguistic unit) yang berada di atas tataran kalimat (Baryadi 2002:2).
Menurut Douglas dalam Mulyana (2005: 3), istilah wacana berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak, yang artinya berkata, berucap. Kata tersebut kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi wacana.
Kridalaksana dalam Yoce (2009: 69) membahas bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam hirearki gramatikal tertinggi dan merupakan satuan gramatikal yang tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, seperti novel, cerpen, atau prosa dan puisi, seri ensiklopedi dan lain-lain serta paragraph, kalimat, frase, dan kata yang membawa amanat lengkap. Jadi, wacana adalah unit linguistik yang lebih besar dari kalimat atau klausa.

2.2. Unsur-unsur Wacana (Eksternal)
Unsur eksternal (unsur luar) wacana adalah sesuatu yang menjadi bagian wacana, namun tidak nampak eksplisit. Sesuatu itu berada di luar satuan lingual wacana. Kehadirannya berfungsi sebagai pelengkap keutuhan wacana. Unsur-unsur eksternal ini terdiri atas implikatur, preuposisi, referensi, inferensi, dan konteks. Analisis dan pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut dapat membantu pemahaman tentang suatu wacana.

2.2.1.      Implikatur
                        Implikatur adalah ujaran yang menyiratkan maksud yang berbeda dari apa yang diucapkan. Maksud yang berbeda itu tidak dikemukakan secara eksplisit, tetapi implisit, hanya disiratkan. Dengan kata lain, implikatur ialah maksud, keinginan, atau ungkapan hati yang tersembunyi.
                        Di bidang wacana, implikatur berarti sesuatu yang terlibat atau menjadi bahan pembicaraan. Implikatur berfungsi menjadi penghubung antara ''yang diucapkan" dan "yang diimplikasikan''. Dialog yang mengandung  implikatur  selalu berkaitan dengan  penafsiran. dalam komunikasi verbal, implikatur biasanya sudah diketahui peserta tuturan, tidak per1u dieksplisitkan tetapi  justru sering disembunyikan agar yang diimplikasikan itu tidak mencolok.
-          Contoh : [Dengan malu-malu, seorang  ibu minta  dibelikan  baju hangat kepada anaknya yang akan pergi berbelanja].
                                       Ibu: Sekarang ujan melulu, ibu sering  kedinginan. lbu
enggak punya baju hangat.. Di pasar ada, ya?
                          Anak : Ada, nanti dibelikan. Ukurannya M apa L, ya, Bu?
                       
                        lmplikarur berkaitan dengan konvensi  kebermaknaan yang terjadi di dalam proses komunikasi (Nababan, 1987:28). Konsep kebermaknaan itu diperlukan untuk menemukan perbedaan antara apa yang diucapkan dan apa yang diimplikasikan. Jika di dalam suatu pembicaraan, salahsatu pesertanya tidak paham dengan arah pembicaraan (komunikasi itu) seringkali ada pertanyaan, '' Lalu, apa maksud ucapan Anda?''
                        Sebenamya ada dua macam implikatur yaitu implikatur konvensional (conventional  implicature) dan implikatur percakapan (conversation implicature) (lihat Grice, 1975:44).
                        lmplikatur  konvensional  ialah  implikatur yang  bersifat umum dan konvensional. Semua orang umumnya sudah maklum akan maksud atau pengertian hal tertentu itu. Lihat contoh berikut.
-          Contoh : “Obama kemarin napak tilas perjalanan Abraham licoln, tokoh yang dikaguminya. “Mutiara hitam itu” naik kereta api dri Philadephia menuju Washington, seperti yang dilakukan Licoln untuk mengikuti acara pelantikan dirinya”. 
                        Sebutan “Mutiara hitam itu” pada kalimat kedua mengacu ke Obama karena umum (konvensional, dunia nyata) tahu bahwa Obama adalah presiden berkulit hitam pertama bagi Amerika Serikat.
                        Implikatur konvensional bersifat kontenporer karena makna atau pengertian sesuatu bersifat umum itu ternyata lebih tahan lama. Suatu implikatur bisa diketahui secara umum karena maknanya “bertahan lama” walaupun implikatur ini sering dianggap kurang menarik.

2.2.2.      Presuposisi
                        Istilah presuposisi adalah perkiraan, persangkaan, atau rujukan. Dengan kata lain presuposisi adalah anggapan dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuatu bentuk bahasa menjadi bermakna bagi pendengar/pembicara.
                        George Yule (2006: 43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
                        Dari definisi praanggapan George Yule, dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur.
                        Menurut Frage (dalam Nababan, 1987 : 48), semua pernyataan memiliki pranggapan. Praangggapan itulah yang menyebabkan wacana dapat diterima atau dimengerti oleh orang yang diajak berbicara sehingga komunikasi menjadi lancar dan menjadi bermakna bagi pendengar atau pembaca.
-          Contoh : Anggota DPR Angelia Sondakh yang mempunyai harapan ingin membongkar kasus suap di hambalang malah menjadi tersangka kasus korupsi.

2.2.3.      Referensi
                        Inferensi yaitu dalam KBBI diartikan sebagai simpulan atau kesimpulan. Dalam wacana inferensi ini seorang pembaca harus dapat menarik pemahaman serta pengertian yang terdapat didalam sebuah wacana tersebut. Jadi, seorang pembaca harus mampu menarik simpulan ataupun penafsiran terhadap bacaan wacana yang telah ia baca. Walaupun makna yang disimpulkan tersebut berbelit-belit ataupun tidak tegas ia ungkapkan.
                        Kridalaksana (2008 : 208), memberi pengertian referensi adalah hubungan antara referen dengan lambang yang dipakai untuk mewakilinya. Sementara itu,  referen merupakan unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur internal bahasa.
                        Referensi atau pengacuan adalah hubungan antara kata dan sesuatu (benda, binatang, orang, dsb) yang dirujukan oleh pembicara atau penulis. Di dalam suatu pembicaraan, yang menentukan rujukan ialah pembicara (wacana lisan) dan penulis (wacana tertulis) karena dialah yang tahu mengenai apa saja yang akan dituturkan. Mungkin sesuatu “dunia” yang dirujuk itu direpresentasikan atau diwujudkan berbeda oleh orang yang berbeda.
                        Suatu wacana, baik itu lisan ataupun tertulis, dapat dipahami oleh pendengar dengan pembaca melalui satu atau beberapa alat untuk memahaminya. Contohnya saja melalui hubungan antara peserta tuturan. Makin akrab hubungan mereka di dalam suatu interaksi, makin cepat pula proses pemahaman komunikasi karena pendengar dan pembaca dapat memahami apa yang dirujukan.

2.2.4.      Inferensi
                        Inferensi (inference) atau simpulan sering harus dibuat sendiri oleh pendengar (pembaca). Inferensi yaitu suatu sumber acuan atau rujukan yang dibuat dari sebuah bacaan yang dibaca. Didalam inferensi hanya pembicara atau penuturlah yang paling mengetahui apa yang diacunya atau dirujuknya dari sebuah tuturan tersebut.
                        Pendengar atau pembaca hanya dapat menerka-nerka, karena dia belum tahu benar apa yang sebenarnya yang dimaksud oleh pembicara atau penulis wacana. Dapat disimpulkan bahwasannya inreferensi itu sendiri tidak dapat dipahamai oleh pembaca secara keseluruhan, dan pembaca hanya dapat menerka-nerka apa tujuan yang dimaksud pembicara.
                        Inferensi kewacanaan diperlukan dalam memaknai wacana yang implisit atau tidak langsung mengacu ke tujuan. Misalnya: kasus orang yang mau meminjam uang kepada tetangganya, tetapi dia tidak malu untuk berkata langsung kepada orangnya. Meskipun ujaran itu tidak langsung menuju sasaran, tetapi pesapa akan mengerti isi wacana berikut.
-          Contoh : Kepala dinas pendidikan jangan hanya menyuruh guru untuk mengoptimalakan kebersihan lingkungan sekolah, akan tetapi sebagai kepala dinas juga supaya mengoptimalkan realisasi kebersihan dan dapat memfasilitasi kebutuhan sekolah.

2.2.5.      Konteks
Konteks adalah rangkai bentuk lingual yang membangun suatu konstruksi yang lebih besar seperti klausa dan kalimat (Otavianus, 2006:37). Menurut Kamus Linguistik (Kridalaksana, 2008:137) koteks didefenisikan sebagai kalimat unsur-unsur yang  mendahului atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana. Wacana sangat dipengaruhi oleh aspek situasi dan kondisi. Situasi yang bersifat lingual disebut koteks sedangkan yang bersifat ekstralingual disebut konteks.
Konteks juga dapat diartikan  sebagai suatu uraian wacana atau kalimat sebagai pendukung kejelasan makna itu sendiri. Konteks itu sendiri mengacu kepada pemahaman seseorang untuk mengetahui percakapan yang dilakukan pembicara. Terkadang terjadi salah pemahaman antara pembicara dengan pendengar, disinilah banyak terjadinya salah kekomunikasian penyampaian tersebut.maka dari itu kita sebagai penutur kata harus memahami siapa yang kita ajak bicara, orangtua kah dia, anak-anak ataupun sebagai pembicara kita harus paham benar bagaimana cara menyampaikannya, agar tidak salah komunikasi.
Contohnya saja jika membuat ujaran seperti ini, “kulitmu halus sekali”. Tentu saja ujaran yang baru kita ucapkan tidak akan sama pemikiran setiap orang. Untuk anak gadis mungkin dia berfikir itu sebuah pujian untuknya, sedangkan orang yang sudah usia lanjut itu bukan sebagai pujian tetapi sebuah penghinaan baginya karena menurutnya tuturan tersebut diacukan kepada kulitnya. Bayangkan saja nenek usia lanjut tentu kulitnya sudah keriput. Inilah yang dimaksudkan dalam konteks wacana dalam bertutur komunikasi.



BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan  
Kridalaksana dalam Yoce (2009: 69) membahas bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam hirearki gramatikal tertinggi dan merupakan satuan gramatikal yang tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, seperti novel, cerpen, atau prosa dan puisi, seri ensiklopedi dan lain-lain serta paragraph, kalimat, frase, dan kata yang membawa amanat lengkap. Jadi, wacana adalah unit linguistik yang lebih besar dari kalimat atau klausa.
Unsur eksternal wacana terdiri atas :
1)      Implikatur : berarti sesuatu yang terlibat atau menjadi bahan pembicaraan. Implikatur berfungsi menjadi penghubung antara ''yang diucapkan" dan "yang diimplikasikan''.
2)      Presuposisi (Perkiraan/Preanggapan) = Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
3)      Referensi : Kridalaksana (2008 : 208), memberi pengertian referensi adalah hubungan antara referen dengan lambang yang dipakai untuk mewakilinya. Sementara itu,  referen merupakan unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur internal bahasa.
4)      Inferensi : Inferensi (inference) atau simpulan sering harus dibuat sendiri oleh pendengar (pembaca). Referensi yaitu suatu sumber acuan atau rujukan yang dibuat dari sebuah bacaan yang dibaca. Didalam referensi hanya pembicara atau penuturlah yang paling mengetahui apa yang di acunya atau dirujuknya dari sebuah tuturan tersebut.
5)      Konteks juga dapat diartikan  sebagai suatu uraian wacana atau kalimat sebagai pendukung kejelasan makna itu sendiri.




DAFTAR PUSTAKA

H. M., Junaiyah dan E. Zaenal Arifin. 2010. Keutuhan Wacana. Jakarta. Grasindo.

Setia, Ekawati. 2012. Mengidentifikasi Unsur Internal dan Eksternal Wacana. (Online). http://
saliaekawati.blogspot.co.id/2012/10/mengidentifikasi-unsur-internal-dan.html. Diakses
pada tanggal 23 September 2017.

Santi, Afrina. 2014. Unsur-unsur Pembentuk Wacana. (Online) https://afrinarnews.wordpress.
com/2014/12/16/unsur-unsur-pembentuk-wacana/. Diakses pada tanggal 23September
2017.