Winie The Pooh

My Widget

Kamis, 27 Juli 2017

MAKALAH SOSIOLOGI SASTRA : ANALISIS KUMPULAN CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI




MAKALAH SOSIOLOGI SASTRA
ANALISIS KUMPULAN CERPEN
ROBOHNYA SURAU KAMI (A.A. NAVIS)



 
 
Kelas : A
Disusun Oleh : KELOMPOK 6
JERFIN ERICHSON KELWARU (2015-35-019)
DHEA ALMETHA SOPACUA (2015-35-027)
RAMIATI RAMAN (2015-35-043)
LESLY CHRISELYA WATTIMURY (2015-35-121)
YACOB SERTAWI (2015-35-)

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang relasi atau hubungan kekuasaan yang terdapat di dalam karya sastra baik cerpen maupun novel ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih padaDosen mata kuliah Sosiologi Sastra yang telah memberikan tugas ini kepada kamikelompok6.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data yang diperoleh dari buku kumpulan cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis yang memuat tentang cerpen-cerpen. Makalah ini berusaha menyajikan tentang relasi atau hubungan kekuasaan yang terdapat di tiga cerpen yang terdapat di dalam buku kumpulan cerpen “Robohnya Surau Kami”.
Penulis mengharapkan, melalui membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai relasi atau hubungan kekuasaan yang terdapat di dalam karya sastra. Memang makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kami mengharapkan kritik dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.


Ambon, November 2016


DAFTAR ISI
Halaman Judul ......................................................................................................................... i
Kata Pengantar ........................................................................................................................ ii
Daftar Isi ................................................................................................................................. iii
Bab I : Pendahuluan
1.                   Latar Belakang ............................................................................................... 1
2.                   Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
3.                   Tujuan Penulisan ............................................................................................ 1
Bab II : Pembahasan
1.                   “Anak Kebanggan” (Robohnya Surau Kami)................................................. 2
2.                   “Bayang Bayang” (Robohnya Surau Kami).................................................... 2
3.                   “Penumpang Kelas Tiga” (Robohnya Surau Kami)........................................ 3
Bab III : Penutup
3.1. Kesimpulan ....................................................................................................................... 5
Daftar Pustaka ......................................................................................................................... 6


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Karya sastra di Indonesia telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Konten dan gaya penyajian sastra pun juga disesuaikan dengan zaman kemunculannya. Sebagai saslah satu bentuk kesenian yang estetis, karya sastra menempati ruang penting dalam kehidupan sosial masyarakat termasuk juga dalam hubungan kekusaan. Bukan hanya dimanfaatkan sebagai hiburan semata, tetapi sastra juga dapat digunakan sebabai salah satu cara untuk memahami kondisi sosial masyarakat pada masa-masa tertentu. Namun, meskipun fakta-fakta sosial menjadi bahan dasar pembuatan karya sastra, keduanya tidak dapat dikatakan sastra apabila tidak saling bersinergi (Teuw, 1988 : 231).

1.2.  Rumusan Masalah
Dari utaian latar belakang di atas dapat kita rumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Relasi atau Hubungan kekuasaan di dalam karya sastra?

1.3.  Tujuan Penulisan
1.      Mencari Relasi atau Hubungan kekuasaan di dalam karya sastra khususnya cerpen berdasarkan kutipan-kutipan. 
 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. “Anak Kebanggan” (Robohnya Surau Kami)
Dalam cerpen “Anak Kebanggaan” menceritakan tentang seorang ayah yang begitu membanggakan anaknya bahkan selalu mengubah nama anaknya yang sesuai dengan nama penguasa-penguasa agar suatu saat anaknya dapat menjadi seorang penguasa. Singakat cerita, sang anak bukannya membuat ayahnya bangga dengan mejadi dokter malahan anaknya membohongi ayahnya dengan cara mengirim surat palsu yang membuat sang ayah menaruh harapan besar kepadanya.
Relasi kekuasaan yang terdapat di dalam cerpen ini adalah warga desa yang tidak berani mengatakan kondisi sebenarnya Indra Budiman (anak) kepada ayahnya dikarenakan mereka menghargai pekerjaan ayahnya sebagai Klerek di sebuah kantor residen dan ayahnya juga termasuk orang keras kepala karena benar-benar menaruh harapan besar kepada anaknya. Seperti terlihat pada kutipan berikut :
“Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendaka percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang dicapai anaknya”
“Di waktu mudanya Ompi menjadi klerek di kantor residen”
“Mula-mula si anak dinamai Edward, tapi karena raja Inggris itu turun tahta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Seuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar bahwa ada orang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar”

2.2. Bayang Bayang (Robohnya Surau Kami)
Masih tetap dalam buku Robohnya Surau Kami, cerpen tentang “Bayang Bayang” menceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Dali yang terkenal dengan bayang-bayangnya. Semua masyarakat mengaguminya sehingga membuat sang Raja menjadi dengki dan cemburu. Sang Raja pun ingin membunuhnya, tetapi para mentri menyarankan kepada Raja agar tidak membunuh si Dali karena ketika membunuh Dali, masyarakat akan beranggapan bahwa Dali lebih hebat dari pada Raja sehingga nama Raja menjadi tercemar. Mentri pun menyuruh Raja untuk mengundang Dali dengan baik ke Istana.
Singkat cerita bayang-bayang Dali pun tertinggal di Istana dan bayang-bayang Raja menguti Dali ke rumah. Lalu Dali bertukar posisi dengan bayang-bayang Raja. Lama –kelamaan Dali menyesal karena telah bertukar posisi. Raja pun meninggal dan Dali tidak bisa kembali ke tubuhnya karena bayang-bayang Raja tidak dapat kembali ke tubuh Raja yang telah meniggal. Dan seumur hidupnya ia menjadi bayang-bayang Raja.
            Relasi kekuasaan yang terdapat di dalam cerpen ini adalah Raja yang mempunyai kekuasaan tidak ingin ada orang lain yang melebihi dan menyaingi kepopulerannya. Sehinga sang Raja ingin membunuh Dali yang dikagumi oleh masyarakat, tetapi gagal karena dengan membunuh Dali maka nama baik Raja akan tercemar. Seperti terlihat pada kutipan di bawah ini :
            “Membunuh dan menangkap orang memang kekuasaan paduka. tapi jika dia dibunuh atau ditangkap, dia akan jadi lebih besar dari kadarnya. Dia akan menjadi mitos sejarah. dengan mitos itu rakyat terbius untuk berdemonstrasi. Bayangkan, paduka. demonstrasi masa ini biadapnya bukan main”
            “Undang dia. rangkul dia, supaya paduka tetap lebih besar dari si Dali”

2.3. Penumpang Kelas Tiga (Robohnya Surau Kami)
Cerpen “Penumpang Kelas Tiga” menceritakan tentang dua pemuda kembar yang bernama Nain dan Nuan. Mereka berdua mempunyai pekerjaan yang sama yaitu seorang Tentara dan mereka berdua pun menyukai wanita yang sama yag bernama Wati. Mereka berdua menjadi pelatih PKR bagi prajurit baru. Merak berdua berkeinan untuk menjadi perwira dan sekaligus menarik perhatian wanita yang mereka berdua sukai. Ayah dari Wati menjodohkan Wati dengan Nuan yang tugasnya lebih terhindar dari kematian karena Nain tugasnya lebih berat dari pada Nain dan tingkat kematiannya sangat tinggi sehingga ayah Wati tidak menginginkan Wati untuk menikah dengan Nain. Wati dan Nuan pun menikah dan dikaruniai dua orang anak.
Singkat cerita, ternyata Nain dan Wati saling mencintai dan mereka berdua pun menjalin hubungan diam-diam di belakang Nuan. Hubungan mereka pun diketahui oleh Nuan. Dia pun merasa kecewa dan marah terhadap saudara kembarnya karena telah meniduri istrinya. Nuan pun merasa ingin balas dendam dan ingin mniduri istri dari Nain, tetapi ia menyadari bahwa itu adalah istri saudara kembaranya sehingga dia tidak melakukan apa pun terhadap istri saudara kembarnya itu.
Relasi kekuasaan yang terdapat di dalam cerpen ini adalah, posisi tempat pekerjaan Nuan membuat ayah Wati lebih menyetujui anaknya menikah dengan Nuan dari Nain tempat pekerjaanya di Desa sedangkan Nuan di Kota. Berdasarkan kutipan berikut :
“Ayah Wati perpandangan praktis dalam menetapkan siapa yang akan jadi jodoh anaknya. Katanya : ‘Perwira bagian Logistik akan lebih menjamin kebutuhan hidup rumah tanggamu. Sedangkan perwira di Front lebih memungkinkan kau cepat jadi janda”.
            
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam buku Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, terdapat tiga cerpen yang terdapat relasi atau hubungan kekusaan yaitu pada cerpen “Anak Kebanggan”, “Bayang Bayang” dan “Penumpang Kelas Tiga”. Setiap relasi kekuasaan yang terdapat pada ketiga cerpen tersebut berbeda-beda dengan emosional tokohnya juga yang berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA

Navis. A.A. 1994. “Robohnya Surau Kami”. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.



11 komentar:

  1. tampilannya keren, tan.. ajarin dong!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba nanti cek di youtube, soalnya b buat su lama, jdi su lupa... afwan...

      Hapus
  2. Keren yah, hehehe... b su lupa cara buatnya, soalnya b blajar lewat youtube... coba cri ajah cara buat tampilan blog jdi keren di Youtube, ada bnyk tuh...

    BalasHapus
  3. BTW,, udah banyak juga postingannya tante ni.. udah brp?

    BalasHapus
  4. apanya yg udah brpa ponakan???

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. masih sdikit kok, bru 26 postingan... klu ponakan phng su brapa???

      Hapus
  6. wah.. udah banyak tuh..
    kalo bta punya pokoknya belum ada apa-apanya di bandingkan dengan punya tante...
    baru sdikit yg di posting, materi/artikelnya sih udah lumayan banyak yg di siapkan.. tapi malas post.. karna lagi blajar design web di dreamweaver juga soalnya.. itu ktong pung pelajaran di kampus DESIGN WEB. cuma ya kalo posting lewat situ harus bayar, tan.

    tapi bta kira gif boneka" yg di samping" ini tu kaya iklan gitu,, pertama kirain iklan

    BalasHapus
  7. owh, bharang ponakan mau ada gif boneka2 jga di blog???

    BalasHapus