MAKALAH WACANA BAHASA INDONESIA
UNSUR-UNSUR WACANA (EKSTERNAL)
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas pertama
mata
kuliah Wacana
Disusun Oleh :
KELOMPOK 1
Ramiati Raman
NIM : 2015-35-043
Ivander Y. C. Pattiruhu
NIM : 2015-35-069
Andi Nurlela
NIM : 2015-35-050
Yona Witra Rumborry
NIM : 2015-35-036
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
2017
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur penulis
ucapkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas pertama, dalam mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia tentang
Unsur-unsur Wacana (Eksternal).
Dan juga penulis berterimakasih kepada bapak dosen mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia yang
telah memberikan tugas ini kepada kami
kelompik 1.
Adapun makalah Wacana Bahasa Indonesia
ini diambil dari berbagai referensi
seperti buku dan internet, sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Makalah ini berisi tentang unsur-unsur wacana (eksternal) yang terdiri dari
implikatur, preposisi, referensi, inferensi, dan konteks.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi
manfaat bagi pembaca
serta dapat menambah wawasan mengenai unsur-unsur wacana terutama unsur
eksternalnya.
Memang makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju
arah yang lebih baik.
Ambon,
September 2017
PENULIS
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul ...................................................................................................................... i
Kata
Pengantar ..................................................................................................................... ii
Daftar
Isi ............................................................................................................................... iii
Bab
I : Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2.
Rumusan Masalah .............................................................................................. 1
1.3.Tujuan
Penulisan ................................................................................................. 1
Bab
II : Pembahasan
2.1.
Pengertian Wacana ............................................................................................. 2
2.2. Unsur-unsur Wacana (Eksternal) ....................................................................... 2
2.2.1. Implikatur ................................................................................................. 3
2.2.2. Presuposisi ................................................................................................ 4
2.2.3. Referensi .................................................................................................. 4
2.2.4. Inferensi ................................................................................................... 5
2.2.5. Konteks .................................................................................................... 6
Bab
III : Penutup
3.1.
Kesimpulan .................................................................................................................... 7
Daftar
Pustaka ...................................................................................................................... 8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Wacana
adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa.
Dengan kesatuan makna, wacana dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena
setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Di samping itu,
wacana juga terikat pada konteks. Sebagai kesatuan yang abstrak, wacana
dibedakan dari teks, tulisan, bacaan, dan tuturan yang mengacu pada makna yang
sama, yaitu wujud konkret yang terlihat, terbaca, atau terdengar. Pemahaman
terhadap wacana akan memudahkan kita memahami bahasa secara lebih luas tidak
saja dari struktur formal bahasa tetapi juga dari aspek di luar bahasa
(konteks).
Wacana
memiliki dua unsur pendukung utama, yaitu unsur dalam (internal) dan unsur luar
(eksternal). Unsur internal berkaitan dengan aspek formal kebahasaan, sedangkan
unsur eksternal berkaitan dengan hal-hal di luar wacana itu sendiri. Unsur
eksternal wacana merupakan sesuatu yang menjadi bagian wacana, tetapi tidak
nampak secara eksplisit. Kehadiran unsur eksternal berfungsi sebagai pelengkap
keutuhan wacana. Unsur-unsur eksternal ini terdiri atas implikatur,
presuposisi, referensi, inferensi, dan konteks. Pada makalah ini lebih berfokus pada unsur ekternal dari wacana.
1.2. Rumusan
Masalah
Dari
utaian latar belakang di atas dapat kita rumuskan masalah yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1)
Apa yang
dimaksud dari wacana ?
2)
Apa sajakah
unsur eksternal wacana serta bagaimanakah penjelasannya ?
1.3. Tujuan
Penulisan
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk mengerjakan tugas mata kuliah Wacana
Bahasa Indonesia mengenai unsur eksternal dari wacana yang terdiri atas implikatur, preposisi, referensi, inferensi, dan
konteks.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Wacana
Kata wacana
dalam bahasa indonesia dipakai sebagai padanan (terjemahan) kata discourse
dalam bahasa inggris. Secara etimologis kata discourse itu berasal dari bahasa
latin discursus ‘lari kian kemari’. Kata discourse itu diturunkan dari kata
discurrere. Bentuk discurrere itu merupakan gabungan dari dis dan currere
‘lari, berjalan kencang’ (Wabster dalam Baryadi 2002:1). Wacana atau discourse
kemudian diangkat sebagai istilah linguistik. Dalam linguistik, wacana
dimengerti sebagai satuan lingual (linguistic unit) yang berada di atas tataran
kalimat (Baryadi 2002:2).
Menurut Douglas
dalam Mulyana (2005: 3), istilah wacana berasal dari bahasa Sansekerta
wac/wak/vak, yang artinya berkata, berucap. Kata tersebut kemudian mengalami
perubahan bentuk menjadi wacana.
Kridalaksana
dalam Yoce (2009: 69) membahas bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap
dalam hirearki gramatikal tertinggi dan merupakan satuan gramatikal yang
tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh,
seperti novel, cerpen, atau prosa dan puisi, seri ensiklopedi dan lain-lain
serta paragraph, kalimat, frase, dan kata yang membawa amanat lengkap. Jadi,
wacana adalah unit linguistik yang lebih besar dari kalimat atau klausa.
2.2. Unsur-unsur
Wacana (Eksternal)
Unsur eksternal
(unsur luar) wacana adalah sesuatu yang menjadi bagian wacana, namun tidak
nampak eksplisit. Sesuatu itu berada di luar satuan lingual wacana.
Kehadirannya berfungsi sebagai pelengkap keutuhan wacana. Unsur-unsur eksternal
ini terdiri atas implikatur, preuposisi, referensi, inferensi, dan konteks.
Analisis dan pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut dapat membantu pemahaman
tentang suatu wacana.
2.2.1. Implikatur
Implikatur adalah ujaran
yang menyiratkan maksud yang berbeda dari apa yang diucapkan. Maksud yang
berbeda itu tidak dikemukakan secara eksplisit, tetapi implisit, hanya
disiratkan. Dengan kata lain, implikatur ialah maksud, keinginan, atau ungkapan hati yang tersembunyi.
Di bidang wacana,
implikatur berarti sesuatu yang terlibat atau menjadi bahan pembicaraan. Implikatur
berfungsi menjadi penghubung antara ''yang diucapkan" dan "yang
diimplikasikan''. Dialog yang mengandung
implikatur selalu berkaitan
dengan penafsiran. dalam komunikasi verbal,
implikatur biasanya sudah diketahui peserta tuturan, tidak per1u dieksplisitkan
tetapi justru sering disembunyikan agar
yang diimplikasikan itu tidak mencolok.
-
Contoh : [Dengan
malu-malu, seorang ibu minta dibelikan
baju hangat kepada anaknya yang akan pergi berbelanja].
Ibu: Sekarang ujan melulu, ibu sering kedinginan. lbu
enggak
punya baju hangat.. Di pasar ada, ya?
Anak : Ada, nanti dibelikan. Ukurannya M apa
L, ya, Bu?
lmplikarur berkaitan
dengan konvensi kebermaknaan yang
terjadi di dalam proses komunikasi (Nababan, 1987:28). Konsep kebermaknaan itu
diperlukan untuk menemukan perbedaan antara apa yang diucapkan dan apa yang diimplikasikan.
Jika di dalam suatu pembicaraan, salahsatu pesertanya tidak paham dengan arah pembicaraan
(komunikasi itu) seringkali ada pertanyaan, '' Lalu, apa maksud ucapan Anda?''
Sebenamya ada dua macam
implikatur yaitu implikatur konvensional (conventional implicature) dan implikatur percakapan (conversation
implicature) (lihat Grice, 1975:44).
lmplikatur konvensional
ialah implikatur yang bersifat umum dan konvensional. Semua orang
umumnya sudah maklum akan maksud atau pengertian hal tertentu itu. Lihat contoh
berikut.
-
Contoh : “Obama
kemarin napak tilas perjalanan Abraham licoln, tokoh yang dikaguminya. “Mutiara
hitam itu” naik kereta api dri Philadephia menuju Washington, seperti yang
dilakukan Licoln untuk mengikuti acara pelantikan dirinya”.
Sebutan “Mutiara hitam
itu” pada kalimat kedua mengacu ke Obama karena umum (konvensional, dunia
nyata) tahu bahwa Obama adalah presiden berkulit hitam pertama bagi Amerika
Serikat.
Implikatur konvensional
bersifat kontenporer karena makna atau pengertian sesuatu bersifat umum itu
ternyata lebih tahan lama. Suatu implikatur bisa diketahui secara umum karena
maknanya “bertahan lama” walaupun implikatur ini sering dianggap kurang
menarik.
2.2.2.
Presuposisi
Istilah presuposisi adalah
perkiraan, persangkaan, atau rujukan. Dengan kata lain presuposisi adalah
anggapan dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa
yang membuatu bentuk bahasa menjadi bermakna bagi pendengar/pembicara.
George
Yule (2006: 43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu
yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu
tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Louise
Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau
inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
Dari
definisi praanggapan George Yule, dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah
kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang
akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur.
Menurut
Frage (dalam Nababan, 1987 : 48), semua pernyataan memiliki pranggapan.
Praangggapan itulah yang menyebabkan wacana dapat diterima atau dimengerti oleh
orang yang diajak berbicara sehingga komunikasi menjadi lancar dan menjadi
bermakna bagi pendengar atau pembaca.
-
Contoh : Anggota DPR Angelia Sondakh yang
mempunyai harapan ingin membongkar kasus suap di hambalang malah menjadi
tersangka kasus korupsi.
2.2.3.
Referensi
Inferensi yaitu dalam
KBBI diartikan sebagai simpulan atau kesimpulan. Dalam wacana inferensi ini
seorang pembaca harus dapat menarik pemahaman serta pengertian yang terdapat
didalam sebuah wacana tersebut. Jadi, seorang pembaca harus mampu menarik
simpulan ataupun penafsiran terhadap bacaan wacana yang telah ia baca. Walaupun
makna yang disimpulkan tersebut berbelit-belit ataupun tidak tegas ia
ungkapkan.
Kridalaksana (2008 :
208), memberi pengertian referensi adalah hubungan antara referen dengan
lambang yang dipakai untuk mewakilinya. Sementara itu, referen merupakan unsur luar bahasa yang
ditunjuk oleh unsur internal bahasa.
Referensi atau pengacuan
adalah hubungan antara kata dan sesuatu (benda, binatang, orang, dsb) yang
dirujukan oleh pembicara atau penulis. Di dalam suatu pembicaraan, yang menentukan
rujukan ialah pembicara (wacana lisan) dan penulis (wacana tertulis) karena
dialah yang tahu mengenai apa saja yang akan dituturkan. Mungkin sesuatu
“dunia” yang dirujuk itu direpresentasikan atau diwujudkan berbeda oleh orang
yang berbeda.
Suatu wacana, baik itu
lisan ataupun tertulis, dapat dipahami oleh pendengar dengan pembaca melalui
satu atau beberapa alat untuk memahaminya. Contohnya saja melalui hubungan
antara peserta tuturan. Makin akrab hubungan mereka di dalam suatu interaksi,
makin cepat pula proses pemahaman komunikasi karena pendengar dan pembaca dapat
memahami apa yang dirujukan.
2.2.4.
Inferensi
Inferensi (inference) atau simpulan sering harus
dibuat sendiri oleh pendengar (pembaca). Inferensi yaitu suatu sumber acuan
atau rujukan yang dibuat dari sebuah bacaan yang dibaca. Didalam inferensi hanya pembicara atau
penuturlah yang paling mengetahui apa yang diacunya atau dirujuknya dari sebuah
tuturan tersebut.
Pendengar atau pembaca
hanya dapat menerka-nerka, karena dia belum tahu benar apa yang sebenarnya yang
dimaksud oleh pembicara atau penulis wacana. Dapat disimpulkan bahwasannya inreferensi itu sendiri tidak dapat
dipahamai oleh pembaca secara keseluruhan, dan pembaca hanya dapat
menerka-nerka apa tujuan yang dimaksud pembicara.
Inferensi kewacanaan diperlukan dalam memaknai wacana
yang implisit atau tidak langsung mengacu ke tujuan. Misalnya: kasus orang yang
mau meminjam uang kepada tetangganya, tetapi dia tidak malu untuk berkata
langsung kepada orangnya. Meskipun ujaran itu tidak langsung menuju sasaran,
tetapi pesapa akan mengerti isi wacana berikut.
-
Contoh : Kepala dinas pendidikan jangan hanya menyuruh guru untuk
mengoptimalakan kebersihan lingkungan sekolah, akan tetapi sebagai kepala dinas
juga supaya mengoptimalkan realisasi kebersihan dan dapat memfasilitasi
kebutuhan sekolah.
2.2.5. Konteks
Konteks adalah rangkai bentuk lingual yang membangun
suatu konstruksi yang lebih besar seperti klausa dan kalimat (Otavianus,
2006:37). Menurut Kamus Linguistik (Kridalaksana, 2008:137) koteks
didefenisikan sebagai kalimat unsur-unsur yang mendahului atau mengikuti
sebuah unsur lain dalam wacana. Wacana sangat dipengaruhi oleh aspek situasi
dan kondisi. Situasi yang bersifat lingual disebut koteks sedangkan yang
bersifat ekstralingual disebut konteks.
Konteks juga dapat diartikan sebagai suatu uraian wacana atau kalimat
sebagai pendukung kejelasan makna itu sendiri. Konteks itu sendiri mengacu
kepada pemahaman seseorang untuk mengetahui percakapan yang dilakukan
pembicara. Terkadang terjadi salah pemahaman antara pembicara dengan pendengar,
disinilah banyak terjadinya salah kekomunikasian penyampaian tersebut.maka dari
itu kita sebagai penutur kata harus memahami siapa yang kita ajak bicara,
orangtua kah dia, anak-anak ataupun sebagai pembicara kita harus paham benar
bagaimana cara menyampaikannya, agar tidak salah komunikasi.
Contohnya saja jika membuat ujaran seperti ini, “kulitmu
halus sekali”. Tentu saja ujaran yang baru kita ucapkan tidak akan sama
pemikiran setiap orang. Untuk anak gadis mungkin dia berfikir itu sebuah pujian
untuknya, sedangkan orang yang sudah usia lanjut itu bukan sebagai pujian
tetapi sebuah penghinaan baginya karena menurutnya tuturan tersebut diacukan
kepada kulitnya. Bayangkan saja nenek usia lanjut tentu kulitnya sudah keriput.
Inilah yang dimaksudkan dalam konteks wacana dalam bertutur komunikasi.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kridalaksana
dalam Yoce (2009: 69) membahas bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap
dalam hirearki gramatikal tertinggi dan merupakan satuan gramatikal yang
tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh,
seperti novel, cerpen, atau prosa dan puisi, seri ensiklopedi dan lain-lain
serta paragraph, kalimat, frase, dan kata yang membawa amanat lengkap. Jadi,
wacana adalah unit linguistik yang lebih besar dari kalimat atau klausa.
Unsur
eksternal wacana terdiri atas :
1) Implikatur : berarti sesuatu yang terlibat atau
menjadi bahan pembicaraan. Implikatur berfungsi menjadi penghubung antara
''yang diucapkan" dan "yang diimplikasikan''.
2)
Presuposisi
(Perkiraan/Preanggapan) = Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa
praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam
ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
3)
Referensi :
Kridalaksana (2008 : 208), memberi pengertian referensi adalah hubungan antara
referen dengan lambang yang dipakai untuk mewakilinya. Sementara itu, referen merupakan unsur luar bahasa yang
ditunjuk oleh unsur internal bahasa.
4)
Inferensi :
Inferensi (inference) atau simpulan
sering harus dibuat sendiri oleh pendengar (pembaca). Referensi yaitu suatu sumber acuan
atau rujukan yang dibuat dari sebuah bacaan yang dibaca. Didalam referensi
hanya pembicara atau penuturlah yang paling mengetahui apa yang di acunya atau
dirujuknya dari sebuah tuturan tersebut.
5) Konteks juga dapat diartikan sebagai suatu uraian wacana atau kalimat
sebagai pendukung kejelasan makna itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
H. M., Junaiyah
dan E. Zaenal Arifin. 2010. Keutuhan
Wacana. Jakarta. Grasindo.
Setia, Ekawati.
2012. Mengidentifikasi Unsur Internal dan
Eksternal Wacana. (Online). http://
saliaekawati.blogspot.co.id/2012/10/mengidentifikasi-unsur-internal-dan.html.
Diakses
pada
tanggal 23 September 2017.
Santi, Afrina. 2014. Unsur-unsur Pembentuk Wacana. (Online) https://afrinarnews.wordpress.
com/2014/12/16/unsur-unsur-pembentuk-wacana/. Diakses pada tanggal 23September
2017.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar