Winie The Pooh

My Widget

Kamis, 05 Januari 2017

Meneliti Sejarah



Meneliti sejarah penulisan sejarah
Heather Sutherland
Sejarah adalah sebuah bidang i1mu yang banyak dikembangkan di berbagai negeri oleh berbagai suku bangsa. Orang bergairah mencarinya. Orang kebanyakan atau orang awam ingin mengetahuinya. Orang berpengetahuan dan orang yang kurang berpengetahuan dapat memahaminya. Ini karena dipermukaan sejarah tidak lebih daripada informasi mengenai peristiwa politik, kerajaan dan kejadian pada masa lalu yang disajikan dengan menarik...
Dipihak lain, sejarah dalam arti yang lebih dalam berkaitan dengan renungan dan ikhtiar mencari kebenaran, mencari penjelasan yang setepat mungkin tentang sebab musabab dan asal usul hal-hal yang ada, dan dengan pengetahuan yang dalam tentang kejadian-kejadian dari sisi bagaimana dan Mengapanya. Sejarah, karena itu, berakar kuat dalam filsafat. Sejarah, karena itu  patut dijadikan salah satu cabang filsafat (Ibn Khaldun 1967).

Pendahuluan: Beragam arti sejarah

Dalam Concise Oxford Dictionary edisi 1964, dijelaskan bahwa sejarah adalah catatan terus menerus secara sistematis tentang kejadian ­dalam masyarakat; kajian perkembangan negara; rangkaian kejadian yang berkaitan dengan negara, orang, benda, dan sebagainya. Definisi ini sangat jelas terlihat bahwa kata seja-rah itu ternyata rumit. Disatu pihak, sejarah berarti catatan dan di pihak lain, sejarah juga berarti rangkaian kejadian, terutama dalam kaitan dengan bangsa. Jadi sejarah dapat berarti apa yang telah terjadi menurut kata kita, dan apa yang sebenarnya tejadi. Sejarah menurut konsep pertama inilah narasi kronologis yang kita putuskan untuk disusun. Elemen-elemen masa lalu kita pilih dan kita beri peranan tertentu untuk menjelaskan dunia tempat kita hidup sekarang. Sejarah menurut konsep kedua berarti keseluruhan dari kejadian-kejadian yang tidak terhitung banyaknya-masa lalu itu sendiri. Bagaimana mengatas, kontradiksi yang tidak terelakkan antara narasi terfokus ciptaan kita (sejarah sebagai catatan) dan kekacauan masa lalu (sejarah sebagai kejadian), inilah persoalan utama historiografi.
Sejak definisi sejarah menurut Oxford muncul, penulisan sejarah telah banyak berubah. Sejarawan dipaksa untuk bertanya mengapa mereka menetapkan pilihan-pilihannya. Mengapa beberapa kejadian dimasukkan ke dalam narasi sejarah, mengapa kejadian-kejadian yang lain tidak? Mengapa setiap sejarawan memberikan makna tertentu kepada suatu kejadian tertentu, padahal kejadian itu dapat saja memiliki berbagai arti dalam berbagai konteks? Untuk menjawab sernua pertanyaan ini, kita harus 'historicise Ins­tory' (menguji sejarah penulisan sejarah) agar dapat memahami kekuatan-kekuatan sosial dan politik yang mempengaruhi perkembangannya (penulisan sejarah).
Pada umumnya disepakati bahwa satu-satunya bentuk sejarah sebagai catatan yang umum diterima. ialah apa yang saya namakan Modern Professional History (Sejarah Profesional Modern, SPM). SPM, sebagaimana halnya negara birokrasi yang erat berkaitan dengannya, mencapai bentuknya yang khas di Eropa pada abad ke-19. Baik topik (terutama politik, diplomasi, dan militer) maupun metodenya (penelitian arsip) yang dipilih sejarawan, mencerminkan kaitan yang erat antara ilmu yang baru itu dengan negara modern. Dengan struktur negara modern sebagai bentuk politik yang dominan dan tersebarnya model-model pendidikan dan ilmu pengetahuan Barat ke seluruh dunia, tradisi historiografi Eropa ini menjadi kokoh di seluruh dunia sebagai sejarah nyata. Sejarah nyata adalah rekonstruksi dari apa'yang sebenarnya terjadi dan biasanya disusun menurut negara-bangsa (sejarah Prancis dan Inggris) yang mencerminkan prioritas dan nilai-nilai kelompok elite pernegang kekuasaan negara. Leopold von Ranke, bapak sejarah bangsa Jerman awal abad ke-19, memperkokoh peranan politik, landasan kelembagaan, dan status ilmiah bidang ilmu itu.
SPM yang baru ini ditandai oleh narasi besar (grand narrative). Narasi besar adalah sebuah narasi dominan yang menampilkan sejarah sebagai kemajuan yang berpuncak pada kejayaan modernitas negara-bangsa. Hal ini secara implisit dilihat sama
kemenangan politik budaya Barat, karena modernitas cara berpikir atau cara hidup) dan 'modernisasi' (proses Mrz ranan materfil van, ditandai inovasi teknologi dan tata kelola) I
At oleh masyarakat Barat. Narasi besar SPM bersifat teleologis k&=. arti ia menyajikan sernua bergerak ke satu tujuan tertentu, zai perkembangan dari hal yang sederhana dan tidak sempurna i   
ang kompleks, rasional, dan efisien. Oleh sebab itu, Francis ama (1992) dapat mengatakan keruntuhan Uni Soviet sebagai ianda dari'akhir sejarah karena jika model demokrasi pasar bebas atau Arnerika, telah menjadi pola yang diterima seluruh umat maka. sejarah sudah hampir sampai pada tujuan akhirnya. Dekolonisasi setelah Perang Dunia 11 disertai dengan tekad Laanakan modernisasi. Meski hanya di atas kertas - ia juga miffn2jkutsertakan demokrasi, kemajuan, dan modernitas, seperti terkandung dalarn konsep kewarganegaraan. Akan tetapi kecewaan bertambah besar karena negara-negara yang baru deka itu tidak memenuhi harapan warga negaranya. ecewaan tidak saja meliputi bidang ekonomi, tetapi juga bidang w­
,ai dan budaya. Menjadi warga negara dalam nasion yang baru tarnripaknya tidak cukup menjadi imbalan ketika komunitas lama in-ragmentasi. Kaurn nasionalis dan kaum sosialis kehilangan tempat be pijak dan kekuasaannya, ketika kekuasaan jatuh ke tangan militer  kelompok populis; atau di beberapa negara yang lebih beruntung, .kz- tangan kelompok teknokrat otoriter. Berbagai alternatif awarkan: Nilai-nilai Asia dipertegas di beberapa tempat (Harper
sementara di tempat-tempat lain, seperti di beberapa wilayah Timur Tengah, tekad menjunjung tinggi tradisi Islam diperbaharui. Keyakinan Fukuyama mengenai kemenangan Barat sekarang telah digantikan oleh pandangan yang juga sama simplistisnya dengan 7andangan Fukuyama tetapi lebih berpengaruh lagi dalam bidang olitik. Ini adalah pandangan Huntington, yang mengatakan bahwa iinan-Lika utama sejarah merupakan'pertarungan peradaban', ketika .nasyarakat yang lain (Islam dan Cina) menantang dominasi Barat Huntington 1996).
Dalarn tulisan ini saya membahas tentang bagaimana Zejarawan menulis sejarah dalarn gelanggang politik dan budaya yang berubah-ubah. Ada dua dimensi dalam pembahasan saya ini.
Pertama, di tingkat lebih umurn, saya memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan teoretis dan praktis yang dihadapi peneliti ketika mereka mencoba menjelaskan makna masa lalu untuk masa kini. Masalah-masalah berkisar dari hal-hal yang bersifat filosofis (apa itu kebenaran?) hingga hal-hal yang praktis (bagaimana kita. dapat