Meneliti sejarah penulisan
sejarah
Heather Sutherland
Sejarah adalah sebuah bidang i1mu yang banyak dikembangkan di berbagai
negeri oleh berbagai suku bangsa. Orang bergairah mencarinya. Orang kebanyakan
atau orang awam ingin mengetahuinya. Orang berpengetahuan dan orang yang kurang
berpengetahuan dapat memahaminya. Ini karena dipermukaan sejarah tidak lebih
daripada informasi mengenai peristiwa politik, kerajaan
dan kejadian pada masa lalu yang disajikan dengan menarik...
Dipihak lain, sejarah dalam arti yang lebih dalam berkaitan dengan
renungan dan ikhtiar mencari kebenaran, mencari penjelasan yang setepat mungkin
tentang sebab musabab dan asal usul hal-hal yang ada, dan dengan pengetahuan
yang dalam tentang kejadian-kejadian dari sisi bagaimana dan Mengapanya.
Sejarah, karena itu, berakar kuat dalam filsafat. Sejarah, karena itu patut dijadikan salah satu
cabang filsafat (Ibn Khaldun 1967).
Pendahuluan: Beragam arti
sejarah
Dalam
Concise Oxford Dictionary edisi 1964, dijelaskan bahwa sejarah adalah catatan terus menerus
secara sistematis tentang kejadian dalam masyarakat; kajian perkembangan
negara; rangkaian kejadian yang berkaitan dengan negara, orang, benda, dan
sebagainya. Definisi ini sangat jelas terlihat bahwa kata seja-rah
itu ternyata rumit. Disatu pihak, sejarah berarti catatan dan di pihak lain,
sejarah juga berarti rangkaian kejadian, terutama dalam kaitan dengan bangsa.
Jadi sejarah dapat berarti apa yang telah terjadi menurut kata kita, dan apa yang sebenarnya tejadi. Sejarah
menurut konsep pertama inilah narasi kronologis yang kita
putuskan untuk disusun. Elemen-elemen masa lalu
kita pilih dan kita beri peranan tertentu untuk menjelaskan dunia tempat kita hidup sekarang. Sejarah menurut konsep kedua berarti
keseluruhan dari kejadian-kejadian yang tidak terhitung banyaknya-masa lalu itu
sendiri. Bagaimana mengatas, kontradiksi yang tidak terelakkan antara narasi
terfokus ciptaan kita (sejarah sebagai catatan) dan kekacauan masa lalu
(sejarah sebagai kejadian), inilah persoalan utama historiografi.
Sejak definisi sejarah menurut Oxford
muncul, penulisan sejarah telah banyak berubah. Sejarawan dipaksa untuk
bertanya mengapa mereka menetapkan pilihan-pilihannya. Mengapa beberapa
kejadian dimasukkan ke dalam narasi sejarah, mengapa kejadian-kejadian yang
lain tidak? Mengapa setiap sejarawan memberikan makna tertentu kepada suatu
kejadian tertentu, padahal kejadian itu dapat saja memiliki berbagai arti dalam
berbagai konteks? Untuk menjawab sernua pertanyaan ini, kita harus 'historicise Instory' (menguji
sejarah penulisan sejarah) agar dapat memahami kekuatan-kekuatan sosial dan
politik yang mempengaruhi perkembangannya (penulisan sejarah).
Pada umumnya disepakati bahwa
satu-satunya bentuk sejarah sebagai catatan yang umum diterima. ialah apa yang saya
namakan Modern
Professional History (Sejarah Profesional Modern, SPM).
SPM, sebagaimana halnya negara birokrasi yang erat berkaitan dengannya,
mencapai bentuknya yang khas di Eropa pada abad ke-19. Baik topik (terutama
politik, diplomasi, dan militer) maupun metodenya (penelitian arsip) yang
dipilih sejarawan, mencerminkan kaitan yang erat antara ilmu yang baru itu
dengan negara modern. Dengan struktur negara modern sebagai bentuk politik yang
dominan dan tersebarnya model-model pendidikan dan ilmu pengetahuan Barat ke
seluruh dunia, tradisi historiografi Eropa ini menjadi kokoh di seluruh dunia
sebagai sejarah nyata. Sejarah nyata adalah rekonstruksi dari apa'yang
sebenarnya terjadi dan biasanya disusun menurut negara-bangsa (sejarah Prancis
dan Inggris) yang mencerminkan prioritas dan nilai-nilai kelompok elite
pernegang kekuasaan negara. Leopold von Ranke, bapak sejarah bangsa Jerman awal
abad ke-19, memperkokoh peranan politik, landasan kelembagaan, dan status
ilmiah bidang ilmu itu.
SPM yang baru ini ditandai oleh
narasi besar (grand
narrative). Narasi besar adalah sebuah narasi dominan yang
menampilkan sejarah sebagai kemajuan yang berpuncak pada kejayaan modernitas
negara-bangsa. Hal ini secara implisit dilihat sama
kemenangan
politik budaya Barat, karena modernitas cara berpikir atau cara hidup) dan
'modernisasi' (proses Mrz ranan materfil van, ditandai inovasi
teknologi dan tata kelola) I
At oleh masyarakat Barat. Narasi
besar SPM bersifat teleologis k&=. arti ia menyajikan sernua bergerak ke
satu tujuan tertentu, zai perkembangan
dari hal yang sederhana dan tidak sempurna i
ang kompleks, rasional, dan
efisien. Oleh sebab itu, Francis ama (1992) dapat mengatakan keruntuhan Uni
Soviet sebagai ianda dari'akhir sejarah karena jika model demokrasi pasar bebas
atau Arnerika, telah menjadi pola yang diterima seluruh umat maka. sejarah
sudah hampir sampai pada tujuan akhirnya. Dekolonisasi setelah Perang Dunia 11
disertai dengan tekad Laanakan modernisasi. Meski hanya di atas kertas - ia
juga miffn2jkutsertakan demokrasi, kemajuan, dan modernitas, seperti terkandung
dalarn konsep kewarganegaraan. Akan tetapi kecewaan bertambah besar karena
negara-negara yang baru deka itu tidak memenuhi harapan warga negaranya. ecewaan
tidak saja meliputi bidang ekonomi, tetapi juga bidang w
,ai dan budaya. Menjadi warga negara dalam nasion
yang baru tarnripaknya tidak cukup menjadi imbalan ketika komunitas lama
in-ragmentasi. Kaurn nasionalis dan kaum sosialis kehilangan tempat be pijak
dan kekuasaannya, ketika kekuasaan jatuh ke tangan militer kelompok populis; atau di beberapa negara yang
lebih beruntung, .kz- tangan kelompok
teknokrat otoriter. Berbagai alternatif awarkan: Nilai-nilai Asia dipertegas di
beberapa tempat (Harper
sementara di tempat-tempat lain,
seperti di beberapa wilayah Timur Tengah, tekad menjunjung tinggi tradisi Islam
diperbaharui. Keyakinan Fukuyama mengenai kemenangan Barat sekarang telah
digantikan oleh pandangan yang juga sama simplistisnya dengan 7andangan
Fukuyama tetapi lebih berpengaruh lagi dalam bidang olitik. Ini adalah
pandangan Huntington, yang mengatakan bahwa iinan-Lika utama sejarah
merupakan'pertarungan peradaban', ketika .nasyarakat yang lain (Islam dan Cina)
menantang dominasi Barat Huntington 1996).
Dalarn tulisan ini saya membahas
tentang bagaimana Zejarawan menulis sejarah dalarn gelanggang politik dan
budaya yang berubah-ubah. Ada dua dimensi dalam pembahasan saya ini.
Pertama, di tingkat lebih
umurn, saya memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan teoretis dan praktis
yang dihadapi peneliti ketika mereka mencoba menjelaskan makna masa lalu untuk
masa kini. Masalah-masalah berkisar dari hal-hal yang bersifat filosofis (apa
itu kebenaran?) hingga hal-hal yang praktis (bagaimana kita. dapat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar