Teru-Teru
Bozu
Karya : Rafandha
“Itu… teru-teru
bozu, kan?”
“Ya.”
“Kenapa dipasang terbalik?”
“Biar hujan.”
***
Komaba-Todaime, Meguro, Tokyo
Fuyu, 35oC
Aku mengayuh sepedaku
secepat angin ke Komabano Park. Udara musim panas di Tokyo sangat menyengat
hari ini. Di saat orang Jepang yang lainnya berbondong-bondong menuju pantai,
aku lebih memilih ke sungai Meguro di Komabano Park.
Komabano Park sendiri jadi tempat magis bagiku.
Pertama kali aku ke Tokyo, hal yang menggelitikku adalah gerbang taman ini.
Gerbang Komabano Park terdiri atas dua bagian. Sebelah kanan dan kiri. Di
gerbang sebelah kanan, dibuat bentuk padi-padi yang sedang berkembang dan
burung-burung yang beterbangan. Sedangkan sisi sebelah kirinya, padi-padi
tersebut masih ada, namun terdapat kakashi
yang berdiri tegak. Jadi bila digabungkan, gerbang itu seperti replika
sawah.
Komabano Park tampak lengang dan aku pun mempercepat
langkah. Suasana Komabano Park tak ubahnya sebuah taman tanpa rimbun pepohonan.
Pohon-pohon sakura sudah gugur sejak akhir musim semi lalu.
Lama
aku mengayuh sepeda. Aku tertarik pada satu sosok yang tampak sedang berusaha
meraih cabang pohon Sakura di pinggir Sungai Meguro. Penasaran, aku
menghampirinya.
“Itu… teru-teru
bozu, kan?” aku bertanya ketika melihat satu boneka putih di kepalan
tangannya yang mungil.
Dia menoleh menghadapku sekilas, lalu kembali ke
posisinya semula.
Aku mendadak diam melihat apa yang dilakukannya. Tali
yang menggantung di teru-teru bozu
itu berada pada posisi tidak biasa.
“Kenapa
dipasang terbalik?” tanyaku heran setelah memastikan apa yang aku lihat itu
benar.
“Biar hujan,” jawabnya pendek.
Aku mengerenyitkan dahi, menatap gadis di hadapanku
yang sedang menggantungkan boneka berkepala gundul itu di sebuah pohon sakura
di Komabano Park. Setahuku, orang-orang Jepang sangat membenci hujan. Sama
sepertiku. Kebanyakan orang-orang Jepang mengutuk butir-butir air itu.
“Kau suka hujan?” aku bertanya heran.
Gadis itu menggeleng. “Iie,” ujarnya sambil berusaha mengikatkan simpul pada pohon itu.
Aku hanya mengamati parasnya. Yang paling membuatku
terkesan adalah potongan rambutnya yang dibuat pendek model bob dengan poni yang lurus menutupi
keningnya dan pipinya yang membuatku gemas setengah mati: seperti mochi.
“Jadi?”
Gadis itu sepertinya sudah selesai melakukan tugasnya.
Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.
Aku menatap boneka teru-teru
bozu yang dipasangnya di pohon itu.
Boneka itu…
Memasang ekspresi sedih.
***
“Masih memasang itu?”
Aku melihat gadis itu pada hari berikutnya. Ia memakai
kimono musim panas atau yukata
berwarna merah muda, berdiri di depan pohon sakura yang sudah meranggas.
Kemarin, hari sangat cerah, bahkan cenderung panas. Jadi dapat disimpulkan, teru-teru bozu-nya tidak berhasil
kemarin.
“Seperti yang kau lihat,” ujarnya sambil mengangkat
bahu.
Aku lantas mendekat padanya, membantunya mengaitkan
boneka itu ke pohon. “Tsuyu baru saja
berakhir dua minggu lalu di Tokyo. Dan, kau pikir hujan akan turun?”
Ia melirikku sekilas. “Apa salahnya berharap?” ia
berkata santai.
“Memang sih. Tapi, harapan kadang membuatmu buta.
Tidak berpikir realistis,” sanggahku menjawab pertanyaan darinya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya.
Aku pun tidak berusaha untuk membuka percakapan.
“Arigatō
gozaimasu,” ucapnya sambil membungkuk.
Aku tersenyum kecil. “Dō itashimashite.”
Dia kemudian duduk di rerumputan. Aku pun
mengikutinya.
“Buat apa melakukan ini?” aku bertanya sambil
mengerenyitkan dahi.
Dia menoleh menatapku. Rambutnya melayang dengan
sempurna diterpa embusan angin.
“Melakukan apa?” tanyanya balik sambil mengerlingkan
matanya.
“Kau bilang tidak suka hujan, mengapa kau malah ingin
hujan turun?”
Sungguh aneh konsep yang ada di kepalaku. Bagaimana
bisa orang yang tidak menyukai sesuatu, tapi mengharuskan sesuatu itu hadir.
Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Seperti memikirkan
sesuatu.
“Karena...karena hanya setelah hujan aku bisa
bahagia,” ujarnya pelan.
Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air
yang jatuh dari sudut matanya.
“Maksudmu?”
“Aku harus pergi.” Ia bangkit dari tempatnya duduk,
lalu langsung pergi.
Lagi-lagi, aku berujar
dalam hati, apa yang membuatnya demikian?
***
Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Aku mengamati butir-butir air itu dari balik jendela
kamarku. Aku tidak suka hujan. Hujan melambatkan semua hal, termasuk waktu. Aku
akhirnya lebih memilih mengambil game portabel dari lemari sambil menyetel lagu AKB
48– Gomen-ne Summer.
Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Mendadak aroma hujan mengingatkanku pada gadis itu.
Pastilah saat ini ia sedang tersenyum bahagia melihat teru-teru bozu-nya berhasil. Atau, mungkin saat ini ia sedang
menari-nari di bawah hujan? Ataukah ia lebih memilih meringkuk di kasur,
mengenakan selimut tebal, lalu memainkan game portabel sepertiku?
Pikiran-pikiranku tentangnya membayang seiring
turunnya hujan. Yang jelas, pastilah ia sedang bahagia sekarang.
Tunggu,
mengapa aku memikirkan gadis itu?
***
Rasa penasaran membawaku kembali ke Komabano Park
keesokan harinya. Entah mengapa aku mengharapkan sosok gadis itu datang.
Dan sesuai perkiraanku, gadis itu memang ada. Di
tempat yang sama dua hari lalu.
“Mengapa datang lagi?” tanyaku heran. Kemarin hujan,
seharusnya ia tidak datang ke sini lagi untuk memasangkan boneka itu.
“Kemarin, tidak ada dia,” ujarnya tanpa ekspresi. Ia
hanya memandang lurus ke depan.
“Dia?”
“Hai.”
Aku semakin tidak mengerti. Dia? Siapa dia? Mendadak,
ada yang meledak-ledak di ulu hatiku. Namun entah. Aku tidak bisa
mendeskripsikannya.
“Maksudmu?” aku bertanya lagi. Penasaran.
Pernah merasakan ketika kau bertanya sesuatu dan kau
mengharapkan jawaban darinya, sementara di sisi lainnya kau malah tidak ingin
mendengarnya?
Aku sukar mengatakannya. Tapi yang jelas, begitu
keadaanku saat ini.
“Niji ga
arimasen.”
“Eh?”
“Kemarin, tidak ada pelangi.”
Aku merasakan ledakan-ledakan tadi langsung diguyur
air es dingin.
“Kau..., selama ini...hanya pelangi?” Aku berusaha
menenangkan perasaanku sendiri.
“Ya, pelangi.”
“Hanya pelangi? Kau mengharapkan sesuatu yang sama
sekali tidak kau suka hanya untuk melihat pelangi?”
Dia menatapku tajam.
“Jangan kau pikir segalanya semudah yang kau
bayangkan,” bentaknya keras.
Ia mulai bangkit dari tempat kami duduk, lalu beranjak
pergi. Aku pun langsung menahannya.
“Kenapa?” tanyaku pelan, merasa bersalah.
Aku membalikkan badannya.
Ia...menangis?
“Gomen nasai,”
ucapku.
Ia menyapu air mata dari pipinya. “Daijōbu desu.”
“Kau tahu, perempuan itu adalah orang yang paling
susah dalam menyembunyikan perasaannya. Dan jika kau berkata kau baik-baik
saja, aku tidak melihatnya demikian.” Aku menarik napas panjang.
“Kau...kenapa?” tanyaku hati-hati.
Aku mengajaknya kembali duduk. Namun saat ini,
kepalanya menyandar di pundakku.
“Okaa-san
bilang, pelangi adalah jalan menuju surga,” ia membuka ceritanya, “saat kau
tidak ada lagi di dunia ini, kau akan menjelma jadi satu dari warna pelangi
itu.”
Aku mengangguk paham. Aku pernah dengar tentang mitos
itu dari ibuku ketika aku kecil.
“Okaa-san
bilang, kita bisa menemui orang-orang yang tidak ada itu saat datang pelangi.
Dan itu yang sedang aku lakukan sekarang. Aku...sedang berusaha bertemu Okaa-san.”
“Dia?”
“Meninggal, dua minggu lalu. Saat tsuyu. Hujan-hujan. Ia...tertabrak truk.”
Aku bisa melihat air mata yang jatuh dari sudut
matanya. Refleks, aku menyekanya dengan tangan kananku.
“Maka dari itu..., aku selalu ingin bertemu dengannya
lagi. Aku...hanya ingin melihatnya lagi,” ujarnya sesengukkan.
Aku mendekapnya erat, tidak bisa berkata apa-apa.
Dalam diam, aku berbicara.
“Menangislah. Buat apa berpura-pura kuat? Menangislah
karena memang kau ingin menangis. Itu akan membuatmu lebih baik,” aku berujar
sambil mengusap-usap kepalanya.
Dan, ia menangis.
Dan, itu adalah nyanyian paling pilu dalam hidupku.
***
Pompa angin
dan kaca.
Aku memasukkan barang-barang itu ke dalam tas
selempang yang kukenakan, lalu mengayuh sepeda ke Komabano Park.
Dia pasti
masih di sana.
Pasti.
***
“Sudah kuduga, kau akan datang kembali ke sini,” aku berujar
ketika melihat gadis itu.
Tidak ada yang berubah darinya. Masih tanpa ekspresi.
Masih tanpa senyum. Masih...sedih.
“Ayo ikut aku sebentar.” Aku menarik tangannya ke sisi
Sungai Meguro.
Sensasi dingin langsung menyambar ke kaki kami berdua
ketika aliran sungai memecah di kaki.
“Duduk di sini,” perintahku sambil menunjuk satu
tempat di pinggir sungai itu.
Kukeluarkan alat-alat yang sedari tadi ada di tas
selempangku. Pompa air dan kaca.
Aku menaruh kaca di sisi lain sungai. Sinar matahari
langsung terpantul mengikuti aliran sungai. Yang kedua, aku ambil pompa angin
dari tasku lalu mulai mengisinya dengan air Sungai Meguro.
Semoga
berhasil, aku berdoa
dalam hati sambil mengarahkan pompa itu ke sinar matahari yang dipantulkan oleh
kaca.
Gadis itu menatapku heran, namun aku tidak peduli.
“Kau tahu, aku pernah merasakan kehilangan. Ayahku,
beberapa tahun lalu. Aku memang sedih, sungguh. Seolah-olah semua jadi hancur
berantakan. Sama sepertimu.”
Aku kemudian menyemburkan air dari pompa yang ada.
Butir-butir air itu langsung saja menimpa sinar matahari, membentuk
spektrum-spektrum warna-warni: pelangi.
Ia tampak terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku
bisa melihat ia sesenggukan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku hanya ingin kau tahu, kebahagiaan itu diciptakan.
Bukan menunggu dengan sendirinya. Kebahagiaan itu ada dalam diri setiap orang.
Bukan bergantung pada hal lainnya,” jelasku panjang lebar.
“Kini, kau tidak perlu menunggu hujan terlebih dahulu,
baru kau bisa melihatnya. Kau tidak perlu lagi berpura-pura menunggu hal yang
sama sekali tidak kau sukai untuk melihat hal yang kau suka. Kau hanya perlu
terbuka, untuk melihat sekelilingmu. Melihat kebahagiaan di sekitarmu.”
“Dan, jika kau sudah bisa melakukan itu, kau akan
bahagia,” tutupku.
Aku melihat ia menunduk. Dan perlahan, air mata turun
dari pipinya.
Kami berdua membisu. Aku pun menghampirinya.
“Arigatō
gozaimasu. Terima kasih sudah membuatku sadar,” ujarnya sambil mengusap air
mata di pipinya. Ia kemudian menegakkan kepalanya, lalu tersenyum.
Melihat itu, aku ikut tersenyum. Dadaku mendadak
bergetar hebat. Ada perasaan seolah-olah ketika melihat senyumannya, semua hal
indah di dunia ini kalah akan kehadirannya. Keindahan yang melebihi seribu
pohon sakura yang bermekaran serentak.
“Siapa namamu?” tanyaku gugup. Entah apa yang aku
gugupkan. Aku hanya merasa...
...gugup.
“Mit...Mitsuko Ka..Katone,” ia menjawab terbatas-bata.
Seketika mukanya bersemu merah seperti buah plum.
Aku tertawa geli melihatnya seperti itu. “Aku tahu
mengapa kau tidak suka hujan,” ucapku padanya.
“Katamu pertama kali, semua orang Jepang membenci
hujan,” ujarnya yang mulai berani menatapku.
“Berbeda kasus denganmu. Mitsuko berarti cerah.
Kau pasti benci hujan,” aku berkata sambil tersenyum lebar.
“Dan...memang benar…. Suaramu sangat indah seperti kotone. Alunan harpa,” lanjutku.
Ia tampak salah tingkah aku puji seperti itu. Aku
bahkan heran sendiri, dari mana kata-kata itu keluar. Mengapa aku mendadak
romantis? Tunggu, romantis?
“Namamu?” tanyanya balik kepadaku.
“Hisashi Masaki.”
“Cocok.”
“Eh?”
“Kau memang seperti kayu besar. Tempat semua orang
bersandar.” Ia mengerlingkan matanya yang bulat dan teduh itu.
Kali ini, giliranku yang salah tingkah. Untuk mengisi
kekosongan, aku mengambil teru-teru bozu
itu dari tangannya. Ia tampak heran dengan apa yang aku lakukan, namun ia
biarkan.
Aku mengambil spidol dari tas selempang yang kubawa,
lalu kucoretkan sebuah lengkung ke atas di bawah gambar hidung yang dibuatnya.
Ia mengerenyitkan dahi. Heran. Namun, aku tetap tidak
peduli.
Setelah selesai, aku pun lantas menggantungkannya pada
pohon sakura di belakang kami.
“Aku harap besok cerah,” kataku pelan.
Ia tampaknya mendengar apa yang aku ucapkan, lalu
tersenyum kecil.
Semoga tidak ada lagi hujan di
matanya, aku
merapalkan harapan-harapanku.
Setelah memasangkannya ke atas pohon, aku berbalik
menatap Mitsuko-san, lalu menggenggam tangannya.
“Mitsuko-san, besok, maukah kau berkencan denganku?”
SELESAI