Winie The Pooh

My Widget

Rabu, 15 Maret 2017

Cerpen Jepang Karya Rafandha



Teru-Teru Bozu

Karya : Rafandha


“Itu… teru-teru bozu, kan?”
“Ya.”
“Kenapa dipasang terbalik?”
“Biar hujan.”

***

Komaba-Todaime, Meguro, Tokyo
Fuyu, 35oC
            Aku mengayuh sepedaku secepat angin ke Komabano Park. Udara musim panas di Tokyo sangat menyengat hari ini. Di saat orang Jepang yang lainnya berbondong-bondong menuju pantai, aku lebih memilih ke sungai Meguro di Komabano Park.
Komabano Park sendiri jadi tempat magis bagiku. Pertama kali aku ke Tokyo, hal yang menggelitikku adalah gerbang taman ini. Gerbang Komabano Park terdiri atas dua bagian. Sebelah kanan dan kiri. Di gerbang sebelah kanan, dibuat bentuk padi-padi yang sedang berkembang dan burung-burung yang beterbangan. Sedangkan sisi sebelah kirinya, padi-padi tersebut masih ada, namun terdapat kakashi yang berdiri tegak. Jadi bila digabungkan, gerbang itu seperti replika sawah.
Komabano Park tampak lengang dan aku pun mempercepat langkah. Suasana Komabano Park tak ubahnya sebuah taman tanpa rimbun pepohonan. Pohon-pohon sakura sudah gugur sejak akhir musim semi lalu.
            Lama aku mengayuh sepeda. Aku tertarik pada satu sosok yang tampak sedang berusaha meraih cabang pohon Sakura di pinggir Sungai Meguro. Penasaran, aku menghampirinya.
“Itu… teru-teru bozu, kan?” aku bertanya ketika melihat satu boneka putih di kepalan tangannya yang mungil.
Dia menoleh menghadapku sekilas, lalu kembali ke posisinya semula.
Aku mendadak diam melihat apa yang dilakukannya. Tali yang menggantung di teru-teru bozu itu berada pada posisi tidak biasa.
 “Kenapa dipasang terbalik?” tanyaku heran setelah memastikan apa yang aku lihat itu benar.
“Biar hujan,” jawabnya pendek.
Aku mengerenyitkan dahi, menatap gadis di hadapanku yang sedang menggantungkan boneka berkepala gundul itu di sebuah pohon sakura di Komabano Park. Setahuku, orang-orang Jepang sangat membenci hujan. Sama sepertiku. Kebanyakan orang-orang Jepang mengutuk butir-butir air itu.
“Kau suka hujan?” aku bertanya heran.
Gadis itu menggeleng. “Iie,” ujarnya sambil berusaha mengikatkan simpul pada pohon itu.
Aku hanya mengamati parasnya. Yang paling membuatku terkesan adalah potongan rambutnya yang dibuat pendek model bob dengan poni yang lurus menutupi keningnya dan pipinya yang membuatku gemas setengah mati: seperti mochi.
“Jadi?”
Gadis itu sepertinya sudah selesai melakukan tugasnya. Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.
Aku menatap boneka teru-teru bozu yang dipasangnya di pohon itu.
Boneka itu…
Memasang ekspresi sedih.

***

“Masih memasang itu?”
Aku melihat gadis itu pada hari berikutnya. Ia memakai kimono musim panas atau yukata berwarna merah muda, berdiri di depan pohon sakura yang sudah meranggas. Kemarin, hari sangat cerah, bahkan cenderung panas. Jadi dapat disimpulkan, teru-teru bozu-nya tidak berhasil kemarin.
“Seperti yang kau lihat,” ujarnya sambil mengangkat bahu.
Aku lantas mendekat padanya, membantunya mengaitkan boneka itu ke pohon. “Tsuyu baru saja berakhir dua minggu lalu di Tokyo. Dan, kau pikir hujan akan turun?”
Ia melirikku sekilas. “Apa salahnya berharap?” ia berkata santai.
“Memang sih. Tapi, harapan kadang membuatmu buta. Tidak berpikir realistis,” sanggahku menjawab pertanyaan darinya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Aku pun tidak berusaha untuk membuka percakapan.
Arigatō gozaimasu,” ucapnya sambil membungkuk.
Aku tersenyum kecil. “Dō itashimashite.”
Dia kemudian duduk di rerumputan. Aku pun mengikutinya.
“Buat apa melakukan ini?” aku bertanya sambil mengerenyitkan dahi.
Dia menoleh menatapku. Rambutnya melayang dengan sempurna diterpa embusan angin.
“Melakukan apa?” tanyanya balik sambil mengerlingkan matanya.
“Kau bilang tidak suka hujan, mengapa kau malah ingin hujan turun?”
Sungguh aneh konsep yang ada di kepalaku. Bagaimana bisa orang yang tidak menyukai sesuatu, tapi mengharuskan sesuatu itu hadir.
Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Seperti memikirkan sesuatu.
“Karena...karena hanya setelah hujan aku bisa bahagia,” ujarnya pelan.
Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air yang jatuh dari sudut matanya.
“Maksudmu?”
“Aku harus pergi.” Ia bangkit dari tempatnya duduk, lalu langsung pergi.
Lagi-lagi, aku berujar dalam hati, apa yang membuatnya demikian?

***

Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Aku mengamati butir-butir air itu dari balik jendela kamarku. Aku tidak suka hujan. Hujan melambatkan semua hal, termasuk waktu. Aku akhirnya lebih memilih mengambil game portabel dari lemari sambil menyetel lagu AKB 48– Gomen-ne Summer.
Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Mendadak aroma hujan mengingatkanku pada gadis itu. Pastilah saat ini ia sedang tersenyum bahagia melihat teru-teru bozu­-nya berhasil. Atau, mungkin saat ini ia sedang menari-nari di bawah hujan? Ataukah ia lebih memilih meringkuk di kasur, mengenakan selimut tebal, lalu memainkan game portabel sepertiku?
Pikiran-pikiranku tentangnya membayang seiring turunnya hujan. Yang jelas, pastilah ia sedang bahagia sekarang.
Tunggu, mengapa aku memikirkan gadis itu?

***

Rasa penasaran membawaku kembali ke Komabano Park keesokan harinya. Entah mengapa aku mengharapkan sosok gadis itu datang.
Dan sesuai perkiraanku, gadis itu memang ada. Di tempat yang sama dua hari lalu.
“Mengapa datang lagi?” tanyaku heran. Kemarin hujan, seharusnya ia tidak datang ke sini lagi untuk memasangkan boneka itu.
“Kemarin, tidak ada dia,” ujarnya tanpa ekspresi. Ia hanya memandang lurus ke depan.
“Dia?”
Hai.”
Aku semakin tidak mengerti. Dia? Siapa dia? Mendadak, ada yang meledak-ledak di ulu hatiku. Namun entah. Aku tidak bisa mendeskripsikannya.
“Maksudmu?” aku bertanya lagi. Penasaran.
Pernah merasakan ketika kau bertanya sesuatu dan kau mengharapkan jawaban darinya, sementara di sisi lainnya kau malah tidak ingin mendengarnya?
Aku sukar mengatakannya. Tapi yang jelas, begitu keadaanku saat ini.
Niji ga arimasen.”
“Eh?”
“Kemarin, tidak ada pelangi.”
Aku merasakan ledakan-ledakan tadi langsung diguyur air es dingin.
“Kau..., selama ini...hanya pelangi?” Aku berusaha menenangkan perasaanku sendiri.
“Ya, pelangi.”
“Hanya pelangi? Kau mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak kau suka hanya untuk melihat pelangi?”
Dia menatapku tajam.
“Jangan kau pikir segalanya semudah yang kau bayangkan,” bentaknya keras.
Ia mulai bangkit dari tempat kami duduk, lalu beranjak pergi. Aku pun langsung menahannya.
“Kenapa?” tanyaku pelan, merasa bersalah.
Aku membalikkan badannya.
Ia...menangis?
Gomen nasai,” ucapku.
Ia menyapu air mata dari pipinya. “Daijōbu desu.”
“Kau tahu, perempuan itu adalah orang yang paling susah dalam menyembunyikan perasaannya. Dan jika kau berkata kau baik-baik saja, aku tidak melihatnya demikian.” Aku menarik napas panjang. “Kau...kenapa?” tanyaku hati-hati.
Aku mengajaknya kembali duduk. Namun saat ini, kepalanya menyandar di pundakku.
Okaa-san bilang, pelangi adalah jalan menuju surga,” ia membuka ceritanya, “saat kau tidak ada lagi di dunia ini, kau akan menjelma jadi satu dari warna pelangi itu.”
Aku mengangguk paham. Aku pernah dengar tentang mitos itu dari ibuku ketika aku kecil.
Okaa-san bilang, kita bisa menemui orang-orang yang tidak ada itu saat datang pelangi. Dan itu yang sedang aku lakukan sekarang. Aku...sedang berusaha bertemu Okaa-san.
“Dia?”
“Meninggal, dua minggu lalu. Saat tsuyu. Hujan-hujan. Ia...tertabrak truk.”
Aku bisa melihat air mata yang jatuh dari sudut matanya. Refleks, aku menyekanya dengan tangan kananku.
“Maka dari itu..., aku selalu ingin bertemu dengannya lagi. Aku...hanya ingin melihatnya lagi,” ujarnya sesengukkan.
Aku mendekapnya erat, tidak bisa berkata apa-apa. Dalam diam, aku berbicara.
“Menangislah. Buat apa berpura-pura kuat? Menangislah karena memang kau ingin menangis. Itu akan membuatmu lebih baik,” aku berujar sambil mengusap-usap kepalanya.
Dan, ia menangis.
Dan, itu adalah nyanyian paling pilu dalam hidupku.

***

Pompa angin dan kaca.
Aku memasukkan barang-barang itu ke dalam tas selempang yang kukenakan, lalu mengayuh sepeda ke Komabano Park.
Dia pasti masih di sana.
Pasti.

***

“Sudah kuduga, kau akan datang kembali ke sini,” aku berujar ketika melihat gadis itu.
Tidak ada yang berubah darinya. Masih tanpa ekspresi. Masih tanpa senyum. Masih...sedih.
“Ayo ikut aku sebentar.” Aku menarik tangannya ke sisi Sungai Meguro.
Sensasi dingin langsung menyambar ke kaki kami berdua ketika aliran sungai memecah di kaki.
“Duduk di sini,” perintahku sambil menunjuk satu tempat di pinggir sungai itu.
Kukeluarkan alat-alat yang sedari tadi ada di tas selempangku. Pompa air dan kaca.
Aku menaruh kaca di sisi lain sungai. Sinar matahari langsung terpantul mengikuti aliran sungai. Yang kedua, aku ambil pompa angin dari tasku lalu mulai mengisinya dengan air Sungai Meguro.
Semoga berhasil, aku berdoa dalam hati sambil mengarahkan pompa itu ke sinar matahari yang dipantulkan oleh kaca.
Gadis itu menatapku heran, namun aku tidak peduli.
“Kau tahu, aku pernah merasakan kehilangan. Ayahku, beberapa tahun lalu. Aku memang sedih, sungguh. Seolah-olah semua jadi hancur berantakan. Sama sepertimu.”
Aku kemudian menyemburkan air dari pompa yang ada. Butir-butir air itu langsung saja menimpa sinar matahari, membentuk spektrum-spektrum warna-warni: pelangi.
Ia tampak terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku bisa melihat ia sesenggukan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku hanya ingin kau tahu, kebahagiaan itu diciptakan. Bukan menunggu dengan sendirinya. Kebahagiaan itu ada dalam diri setiap orang. Bukan bergantung pada hal lainnya,” jelasku panjang lebar.
“Kini, kau tidak perlu menunggu hujan terlebih dahulu, baru kau bisa melihatnya. Kau tidak perlu lagi berpura-pura menunggu hal yang sama sekali tidak kau sukai untuk melihat hal yang kau suka. Kau hanya perlu terbuka, untuk melihat sekelilingmu. Melihat kebahagiaan di sekitarmu.”
“Dan, jika kau sudah bisa melakukan itu, kau akan bahagia,” tutupku.
Aku melihat ia menunduk. Dan perlahan, air mata turun dari pipinya.
Kami berdua membisu. Aku pun menghampirinya.
Arigatō gozaimasu. Terima kasih sudah membuatku sadar,” ujarnya sambil mengusap air mata di pipinya. Ia kemudian menegakkan kepalanya, lalu tersenyum.
Melihat itu, aku ikut tersenyum. Dadaku mendadak bergetar hebat. Ada perasaan seolah-olah ketika melihat senyumannya, semua hal indah di dunia ini kalah akan kehadirannya. Keindahan yang melebihi seribu pohon sakura yang bermekaran serentak.
“Siapa namamu?” tanyaku gugup. Entah apa yang aku gugupkan. Aku hanya merasa...
...gugup.
“Mit...Mitsuko Ka..Katone,” ia menjawab terbatas-bata. Seketika mukanya bersemu merah seperti buah plum.
Aku tertawa geli melihatnya seperti itu. “Aku tahu mengapa kau tidak suka hujan,” ucapku padanya.
“Katamu pertama kali, semua orang Jepang membenci hujan,” ujarnya yang mulai berani menatapku.
“Berbeda kasus denganmu. Mitsuko berarti cerah. Kau pasti benci hujan,” aku berkata sambil tersenyum lebar.
“Dan...memang benar…. Suaramu sangat indah seperti kotone. Alunan harpa,” lanjutku.
Ia tampak salah tingkah aku puji seperti itu. Aku bahkan heran sendiri, dari mana kata-kata itu keluar. Mengapa aku mendadak romantis? Tunggu, romantis?
“Namamu?” tanyanya balik kepadaku.
“Hisashi Masaki.”
“Cocok.”
“Eh?”
“Kau memang seperti kayu besar. Tempat semua orang bersandar.” Ia mengerlingkan matanya yang bulat dan teduh itu.
Kali ini, giliranku yang salah tingkah. Untuk mengisi kekosongan, aku mengambil teru-teru bozu itu dari tangannya. Ia tampak heran dengan apa yang aku lakukan, namun ia biarkan.
Aku mengambil spidol dari tas selempang yang kubawa, lalu kucoretkan sebuah lengkung ke atas di bawah gambar hidung yang dibuatnya.
Ia mengerenyitkan dahi. Heran. Namun, aku tetap tidak peduli.
Setelah selesai, aku pun lantas menggantungkannya pada pohon sakura di belakang kami.
“Aku harap besok cerah,” kataku pelan.
Ia tampaknya mendengar apa yang aku ucapkan, lalu tersenyum kecil.
Semoga tidak ada lagi hujan di matanya, aku merapalkan harapan-harapanku.
Setelah memasangkannya ke atas pohon, aku berbalik menatap Mitsuko-san, lalu menggenggam tangannya.
“Mitsuko-san, besok, maukah kau berkencan denganku?”
                                             
                                                         SELESAI

1 komentar:

  1. Ini salah satu cerpen yang q suka... kisahnya menarik, semoga kalian juga sependapat...

    BalasHapus