Ke Dalam Cahaya
Karya
: Farizki Hapsoro
Setelah berbagai
masalah kecil yang tumpang tindih, aku bagaikan menjantuhkan susunan domino
yang tak terlihat. Meski awalnya aku ingin menyembunyikan perasaan ini, tetapi
pancaran panas dari perasaanku pun mulai menyebar.
“jangan menatapku dengan wajah yang
ramah seperti itu…”
Aku orang yang
tergolong cuek di kelasku. Walaupun aku termasuk siswa yang bisa dibilang
“cukup” populer di sekolah dan banyak disukai siswi-siswi di sekolah. Tetapi
aku terlalu masa bodo untuk memikirkan hal seperti itu.
Sejak kecil orangtuaku
selalu memaksaku untuk berlajar dan belajar. Sampai-sampai aku tidak memiliki
waktu yang banyak untuk bermain dengan teman-temanku. Sepulang sekolah aku
langsung pergi ke tempat bimbingan belajar untuk mendapat pelajaran tambahan.
Dan di malam hari pun aku masih belajar untuk persiapan hari berikutnya. Karena
itu tidak heran jika aku selalu menduduki peringkat pertama saat ujian. Banyak
guru yang suka kepadaku karena aku pandai dan rajin di kelas. Dan juga banyak
yang iri denganku karena banyak guru yang suka kepadaku. Dan aku masih masa
bodo dengan hal itu.
Hari senin mungkin hari
yang berat buatku. Banyak pelajaran berbobot berat dan guru yang sering memberi
nilai berat di hari senin. saat bel istirahat berbunyi aku langsung keluar dari
lab fisika dan bergegas pergi ke kelas.
“oooiiiiii haruka..” suara yang familiar
kudengar dari belakangku.
“Eh elu, kenta… Ngapain teriak-teriak
segala, emang lu pikir gue budeg apa?” ternyata itu adalah suara kenta. Kenta
adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki. Dia satu-satunya orang yang bisa
mengerti diriku. Dia temanku sejak kecil dan kita juga bertetangga. Karena itu
aku sangat dekat dengan Kenta.
“hehe.. rang elu bisanya masang lagak
budeg kalo nggak diteriakin dulu.”
“ada apa emang? Gue lagi bokek kalo lu
mau ngutang duit”
“ah elahh.. siapa yang mau ngutang duit
luuu.. eh elu. ada waktu gak pulang sekolah nanti?”
“wkwkwkw orang lu biasanya juga ngutang
duit ke gue kok.. Ada kok sekitar 2 jam-an sebelum bimbelnya mulai. kenapa
emang?
“emang tampang gue tampang pengemis yak?
Huuu.. sip dahh. Nanti ikut gue yuk?”
“ikut lu kemana emang? Gue gak mau kalo
lu ngajakin mangkal.”
“yee.. elu pikir gue banci kemang apa..
udahlah ikut ajaa..“
“wkwkwk iya iyaaa bebeb. Jangan lupa
jemput gue di kelas”
“siap ndan wkwkw”
Sepulang sekolah kenta menjemputku di
kelasku.
“emang elu mau ngajak gue kemana nyet?”
“u ak ak ak ak”
“ha? Lu ngomong apaan?”
“lu bilang gue nyet. Jadi gue pake
bahasa monyet dong. Wkwkw”
“ah, elu.. yaudah deh. Elu mau ngajak
gue kemana ken?
“gue pengen beli hadiah buat pacar gue.
Bantuin gue yak wkwkw”
“yaelah tau gini gue nolak aja deh tadi”
“wkwkwk gak bisa.. elu udah terlanjur
setuju..”
“ah sialan lu ken”
Aku dan kenta pergi ke
mall untuk membelikan hadian untuk pacar kenta yang akan berualng tahun besok.
Sebenarnya aku sangat malas untuk pergi ke mall karena sebenarnya aku benci
dengan keramaian.
Setelah kenta selesai
memilih hadiah yang ingin dia berikan ke pacarnya dia langsung pergi ke kasir
untuk membayarnya.
“gue mau bayar ke kasir nih. Elu ikut
apa nunggu di sini?”
“gue nunggu di food court aja. Males gue
ikut lu. Nanti lu suruh bayar lagi wwkwkk”
“wkwk kagak lah. Gue punya duit nihh
liat nooh lihat.. wkwk”
“iye iyee yang lagi punya duit..”
Saat aku ingin pergi ke
food court tidak sengaja aku bertubrukan dengan seorang perempuan.
“aduh, maaf mbak tadi nggak ngelihat
jalan” tutur ku kaku dan terbata-bata. Ya maklum aku jarang berbicara dengan
orang selain kenta dan keluargaku.
“i-iya mas. Maaf juga aku tadi juga
jalannya buru-buru. Jadi nggak fokus.”
Entah kenapa, wajahku memerah karena
melihat perempuan itu. Sepertinya aku suka dengan dia. Mungkinkah itu yang
disebut cinta pada pandangan pertama?. Pertama kalinya aku suka dengan seorang
perempuan. Walaupun biasanya banyak perempuan di sekolah yang menyukaiku tetapi
aku selalu mengacuhkannya.
Hari berikutnya saat
aku masuk ke kelas seluruh isi kelas sudah ribut dengan adanya siswi pindahan
yang sangat cantik. Aku tidak tertarik sama sekali dan aku langsung duduk di
bangkuku. Bel pertama berbunyi, Wali kelasku masuk ke kelasku dan
memperkenalkan siswi pindahan itu. Aku kaget bukan kepalang karena ternyata
siswi pindahan itu adalah perempuan yang yang aku tabrak di mall kemarin.
“anak-anak. Kita punya murid baru hari
ini. Dia pindahan dari Osaka. Yuria silahkan perkenalkan dirimu” pak guru
memperkenalkan kelas
“perkenalkan. Nama saya kato yuria.
Biasa dipanggil yuria. Saya pindahan dari osaka karena pekerjaan ayah saya.
Salam kenal..”
Seluruh isi kelas bersorak. Kuakui yuria
memang sangat cantik. Bahkan aku yang cuek pun bisa terpana dengannya.
Mungkin hidupku selama
ini hanya seperti hidup di dalam bayangan dan kegelapan. Tidak ada yang bisa
membuatku tertarik. Tetapi menurutku yuria berbeda. Dia memancarkan kehangatan
musim semi dari senyumannya yang manis. Saat dia melihatku dia tersenyum dengan
lembut. Dan itu membuatku salah tingkah. Mungkin dia yang kucari selama ini.
Mungkinkah dia cahaya yang akan menerangi kegelapan dan mengkapuskan bayangan
kesepianku?
Saat jam istirahat hanya beberapa orang
yang berada di kelas. Yuria juga termasuk. Saat itu yuria mendatangiku.
“hei, kamu yang kemarin di mall kan?”
“ii-iya..”
“kenalin aku yuria.. namamu siapa?”
“a-aku ha-haruka…”
“haruka. Nanti ajakin aku muter-muter sekolah
ya. Kenalin lingkungan sekolah. Hehe’
Saat itu juga jantungku hampir copot.
Aku tidak menduga jika dia akan mengajak aku untuk berkeliling sekolah. Mungkin
ini kesempatanku untuk lebih dekat dengan yuria.
Setelah selesai
berkeliling sekolah. Aku dan yuria duduk di bangku taman di bawah pohon sakura.
Angin yang lembut berhembus menggoyang pepohonan. Cahaya matahari pun mulai
menyebar. Aku merasa sangat nyaman dengan yuria. Apakah dia juga berpikiran
sepertiku? Atau hanya aku saja? Entahlah, yang jelas aku sangat nyaman walau
hanya duduk berdekatan dengan yuria. Biasanya aku sangat tidak peduli dengan
perempuan namun aku harus peduli jika sedang berada di dekat yuria. Karena dia
adalah cahaya musim semiku. Seakan
Semakin hari hubunganku
dengan yuria semakin dekat. Aku sangat bahagia karena aku bisa dekat dengannya.
Aku juga sudah mulai biasa berinteraksi dengan teman-teman di kelas. Karena
yuria seperti mebuka segel penghalangku ke dunia luar. Bahkan kenta pun terharu
karena sekarang aku berani berinteraksi dengan teman-teman. Yuria seperti dewi
menurutku. Apakah dekat saja sudah cukup? Entahlah, munkin tak perlu
terburu-buru.
Ke dalam cahaya aku
masuk seorang diri. Kini tak perlu untuk bergegas. di sini, keluar dari
bayangan perlahan mengikuti langkahmu. Cinta itu akan menyinari rasa kesepian.
Senyuman yuria seperti mengajakku untuk meninggalkan kegelapanku yang dulu dan
mengajakku menuju tempat yang terang. Segera berjalan dan keluar dari
kegelapan. Seakan berbicara “tak ada yang perlu ditakutkan” ke dalam hatiku.
Tak apa jika kau ingin melihat kegelepan, tapi jangan lupa jika masih ada
cahaya yang hangat. Cinta itu akan selalu mengubah segalanya. Kekuatan
kepercayaan itu akan memberikannya bentuk.
“Beranilah karena sesuatu takkan dimulai
jika hanya diam” pikirku dari lubuk hatiku. Tetapi mungkin dia akan membenciku
jika aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Lebih baik seperti ini saja.
Menjadi cahayaku saja sudah cukup bagiku. Biar waktu yang menyampaikan
perasaanku pada yuria.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar