Winie The Pooh

My Widget

Rabu, 21 Maret 2018

ESSAY KRITIK SASTRA "RECTOVERSO"


ESSAY KRITIK SASTRA
‘RECTOVERSO’ KARYA DEWI LESTARI 
Diajukan untuk memenuhi salahsatu tugas mata kuliah Kritik Sastra 

Disusun Oleh :
KELOMPOK 2
Ramiati Raman (2015-35-043)
Jainudin Mahulauw (2015-35-135)
Suci M. Lisaholet (2015-35-001)
Wisye M. Pelamonia (2015-35-107)
Yunita Rumbia (2015-35-009)
Ketrien O. Pattiwael (2015-35-115)
Stania Lesnussa (2015-35-003)
Lusi A. Laine (2015-35-073)
Julhijah Kotala (2015-35-105)
Berty Sapya (2015-35-095)
Lesly C. Wattimuri (2015-35-121)
KELAS : A

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura
Ambon
2018




WADAH SEBELAS KISAH
Bila kita berbicara mengenai wadah, maka yang akan kita perbincangkan adalah sebuah tempat untuk menampung. Dalam kehidupan pun, jika kita ingin mengumpulkan sesuatu agar lebih mudah kita membutuhkan sebuah tempat yang cukup untuk kita menyimpan benda atau apa pun itu. Wadah juga dapat kita pahami sebagai sebuah media penyaluran atau untuk menyalurkan sesuatu.
Seorang kolektor misalnya, ia membutuhkan sebuah tempat untuk menyimpan barang-barang koleksinya dengan begitu ia jadi lebih mudah untuk menjaganya. Manusia pun membutuhkan sebuah wadah untuk menyimpan seluruh kenangannya, dari ia kecil hingga tua seluruh kenangan tersebut tersimpan di sebuah wadah yang disebut dengan ingatan atau memori yang terdapat di dalam otak manusia.
Saat kita membaca sebuah novel, di situ dapat kita temui berbagai macam kata dengan bermacam-macam makna. Seorang penulis dalam membuat berbagai macam kata dengan makna yang begitu dalam tersebut, tentu saja memerlukan wadah. Wadah yang digunakan oleh penulis tersebut yaitu buku. Penulis menuangkan berbagai macam kisah di dalam buku yang ia tulis, buku tersebut dapat berupa novel maupun kumpulan cerpen.
Banyak yang melihat bahwa sebuah novel atau kumpulan cerpen hanya sebuah buku yang memiliki banyak tulisan dengan dipenuhi kisah-kisah yang hanya dibuat-buat oleh penulis untuk membuat pembacanya menangis atau pun tertawa. Tapi bagi yang berpikiran seperti itu, apa yang kalian pikirkan belum tentu benar. Jika kalian ingin melihat salah satu novel atau lebih tepatnya kumppulan cerpen, yang isinya terkandung berbagai kisah yang bukan hanya menyentuh hati dari dua sisi, tetapi juga membuat kita sadar akan kehidupan. Kumpulan tersebut adalah karya Dewi Lestari dengan judul Rectoverso.
Bila dilihat dari sampulnya, kumpulan cerpen ini sama dengan kumpulan cerpen pada umumnya yang di dalamnya terdapat lebih dari satu cerpen. Tapi, ada sebuah istilah yang berbunyi ‘jangan menilai buku dari sampulnya’. Baca dulu isinya kemudian dinilai. Di dalam kumpulan cerpen Rectoverso, Dewi Lestari atau bisa di sapa dengan Dee menuliskan sebelas cerita pendek . Setiap cerita pendek tersebut memiliki warnanya masing-masing.
Dee menyajikan karya kali ini dengan dipenuhi oleh lirik lagu pada setiap awal cerita. Selain itu, cerita yang disuguhkan Dee dalam novelnya juga begitu menarik. Dalam kumpulan cerpen ini menyajikan sebuah kisah tentang percintaan.
Terdapat sebelas cerita pendek yang pembaca dapat temukan. Judul dari setiap ceritanya yaitu, ‘Curhat Buat Sahabat’, ‘Malaikat Juga Tahu’, ‘Selamat Ulang Tahun’, ‘Aku Ada’, Hanya Isyarat’, ‘Peluk’, ‘Grow a Day Older’, ‘Cecak di Dinding’, ‘Firasat’, ‘Tidur’, dan yang terakhir ‘Back to Heaven’s Linght’. Cerita pertama yang mengawali kesebelas cerita diberi judul ‘Curhat Buat Sahabat’.
Cerita pertama ini merupakan cerita yang menarik, dalam cerita tersebut terdapat kisah  tentang curahan hati seorang perempuan kepada sahabat lelakinya. Selama 5 tahun perempuan ini tergila-gila dengan lelaki tersebut. Lelaki itu hingga baru menyadari jika ternyata orang yang dia cintai setengah mati itu adalah orang yang salah. Perempuan itu baru menyadari ketika dia sedang sakit, sendiri, hingga tidak sanggup terbangun meski hanya untuk mengambil segelas air putih yang dia butuhkan untuk melepaskan dahaganya. Tidak muluk-muluk yang dia butuhkan saat itu hanya orang yang bisa menyayanginya, dan segelas air putih. “ Ya. Diam! Diam ditempat Tidak lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin diluar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit…”. Berikut adalah cuplikan ungkapan menyentuh tentang Curhat buat Sahabat :
Sahabatku, usai tawa ini zinkan aku bercerita
Telah jauh, kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini yang cuma ingin diam
Duduk di tempatku menanti seorang yang biasa saja
Segelas air ditangannya, kala kuterbaring sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik “Pandang aku, kau tak sendiri,oh dewiku…”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang itu saja kuinginkan
Telah lama kumenanti
Satu malam sunyi untuk ku akhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji…
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air ditangannya, kala kuterbaring sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang telah bermimpi
Dan berbisik “ selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”
Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

Kisah yang terdapat dalam cerita yang mengawali buku Rertoverso ini sudah pasti begitu menarik, apalagi kesepuluh kisa yang berkutnya. Cerpen yang kedua berjudul ‘Malaikat Juga Tahu’. Kisah yang terdapat dalam cerpen ini begitu mengahrukan. Ketika membaca puisinya saja, pembaca akan langsung tersentuh apalagi ketika membaca ceritanya.
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang perempuan yang sangat kuat dan tegar menjalani kehidupannya bersama anaknya yang memiliki cacat mental. Perempuan tersebut akrab dipanggil dengan sebutan “Bunda”. Rumah bunda yang besar dan memiliki banyak kamar adalah rumah indekos paling legendaries. Bunda mempunyai 2 orang anak akrab dipanggil Abang dan Adik. Si Abang memiliki keterbelakangan mental, tapi cukup cerdas. Dalam tubuh pria 38 tahun tersebut bersemayam mental anak 4 tahun, demikian menurut para ahli jiwa yang didatangkan bunda. Dia yang selama ini membantu ibunya mengurusi kost-kostan, mencuci, beres-beres, dll. Sementara si Adik, merantau di luar negeri.
Abang bersahabat dengan seorang perempuan penghuni kost, dan jatuh cinta dengan perempuan tersebut. Akan tetapi, ternyata perempuan ini jatuh hati dengan Adiknya. Bunda telah berbicara dari hati ke hati dengan perempuan ini, siapa diantara keduanya yang patut untuk dipilih. Tetapi perempuan tersebut tidak akan memilih manusia satu itu “Abang” untuk dijadikan pacarnya. Hingga bunda berkata sesuatu yang nenyentuh “Dia mencintai tidak cuma dengan hati. Tapi seluruh jiwanya. Bukan basa-basi surat cinta, tidak Cuma rayuan gombal, tapi fakta. Adiknya bisa cinta sama kamu, tapi kalau kalian putus, dia dengan gampang cari lagi. Tapi Abang tidak mungkin cari yang lain. Dia cinta sama kamu tanpa pilihan seumur hidupnya”.
Bunda menginginkan perempuan itu setiap malam minggu harus ke rumahnya, tidak bisa tidak. Tetapi perempuan itu keberatan dengan keinginan bunda. Hingga akhirnya perempuan itu meninggalkan mereka semua, dan tidak pernah muncul kembali setiap malam minggu. Bunda menangisi setiap malam minggu, karena si Abang selalu memberantaki barang-barang disetiap malam minggunya. Kalau beruntung Abang akhirnya kelelahan sendiri lalu tertidur di pangkuan ibunya. Kalau tidak, sang ibu terpaksa menutup hari abangnya dengan obat penenang. “Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang”.
Bukan hanya kedua cerita itu saja yang menarik dalam buku karya Dee ini, tapi terdapat dua cerita yang ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris. Judulnya yaitu, ‘Grow a Day Older’ yang merupakan cerita ke-7 dan ‘Back to Heaven’s Light’ yang merupakan cerita penutup atau cerita ke-11.
Grow a Day Older merupakan salah satu dari dua cerita berbahas Inggris di kumpulan cerpen ini. Berkisah tentang perselingkuhan. Dimana si perempuan berniat ingin meninggalkan semuanya, tepat disaat ulang tahun SLI-nya itu. Dengan mempersembahkan sebuah lagu ciptaanya sebagai kado ultah. Namun akhirnya berubah menjadi bimbang karena suatu peristiwa.
Sedangkan, ‘Back to Heaven’s Light’, menceritakan bagaimana pilunya hati seorang istri yang ditinggal pergi suaminya. Ketika detik-detik menjelang kematiannya, dia seperti merasakan dejavu. Dulu, sesaat setelah menikah sang suami pernah bermimpi. Dia bercerita, dalam mimpinya, tengah berada di lautan gelap, sendirian di seebuah kapal. Gelapnya seakan tak berujung.
Ketika tiba-tiba sebuah cahaya terlihat, cahaya terindah yang yang pernah dia lihat. Diapun begerak menuju cahaya itu.  Seketika dia berhenti bercerita dan menangis. Sang istri bertanya “Why are you crying? It could be the heaven’s light?” . Suaminya menjawab “It was You that I saw in the light…”.  Dan ketika tengah menemani suaminya dalam kedaan sekarat di sebuah Rumah Sakit, sang suami berkata kembali “I’m back in the dark ocean. I See no end, and I see no beginning…”. Cerita tak berhenti sampai disitu. Karena ternyata ada hubungan cinta segitiga antara perempuan itu, suaminya, dan Pria Idaman.
Itulah beberapa cerita dalam buku kumpulan cerita Rectoverso. Seperti yang dapat dilihat, kisah dari keempat cerita di atas begitu menyentuh hati. Kata-katanya begitu bermakna, Dee dapat dikatakan sebagai salah satu penulis penulis Indonesia yang pandai dalam memilih kata untuk setiap ceritanya. Maka dapat dikatakan bahwa buku kumpulan cerpen Rectoverso ini merupakan wadah yang menampung sebelas kisah-kisah penuh makna, serta dapat menyentuh hati dari dua sisi.
Selain kelebihannya tersebut, sebuah karya tentu memiliki kekurangan begitu pula buku karya Dee tersebut. Buku kumpulan cerpen Rectoverso ini memiliki kekurangan yaitu pada kedua cerita yang menggunakan bahasa Inggris. Bagi pembaca yang tahu atau mengerti bahasa Inggris tentu tidak bermasalah dalam memaknai cerita tersebut, tapi bagaimana dengan pembaca yang sama sekali tidak tahu bahasa Inggris ?. Tentu akan kesulitan dalam memaknai cerita tersebut. Sebaiknya ketika hendak menulis cerita dalam bahasa Inggris, harus juga disertai dengan terjemahan bahasa Indonesianya agar mempermudah pembaca yang tidak mengetahui bahasa Inggris dalam memahami makna dari cerita.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa sebuah wadah bagi penulis untuk menuangkan semua cerita yang penuh dengan berbagai kisah adalah buku, baik dalam wujud novel maupun kumpun cerpen. Seperti buku karya Dewi Lestari, yang kisahnya benar-benar dapat menyentuh hati para pembaca dari dua sisi. Buku kumpulan cerita ini dapat diibaratkan seperti ‘Wadah Sebelas Kisah’.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar