ESSAY KRITIK SASTRA
‘RECTOVERSO’ KARYA DEWI LESTARI
Diajukan untuk memenuhi
salahsatu tugas mata kuliah Kritik Sastra
Disusun
Oleh :
KELOMPOK
2
Ramiati
Raman (2015-35-043)
Jainudin
Mahulauw (2015-35-135)
Suci M.
Lisaholet (2015-35-001)
Wisye M.
Pelamonia (2015-35-107)
Yunita
Rumbia (2015-35-009)
Ketrien
O. Pattiwael (2015-35-115)
Stania
Lesnussa (2015-35-003)
Lusi A.
Laine (2015-35-073)
Julhijah
Kotala (2015-35-105)
Berty
Sapya (2015-35-095)
Lesly C.
Wattimuri (2015-35-121)
KELAS :
A
Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas
Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas
Pattimura
Ambon
2018
WADAH
SEBELAS KISAH
Bila kita berbicara
mengenai wadah, maka yang akan kita perbincangkan adalah sebuah tempat untuk
menampung. Dalam kehidupan pun, jika kita ingin mengumpulkan sesuatu agar lebih
mudah kita membutuhkan sebuah tempat yang cukup untuk kita menyimpan benda atau
apa pun itu. Wadah juga dapat kita pahami sebagai sebuah media penyaluran atau
untuk menyalurkan sesuatu.
Seorang kolektor
misalnya, ia membutuhkan sebuah tempat untuk menyimpan barang-barang koleksinya
dengan begitu ia jadi lebih mudah untuk menjaganya. Manusia pun membutuhkan
sebuah wadah untuk menyimpan seluruh kenangannya, dari ia kecil hingga tua
seluruh kenangan tersebut tersimpan di sebuah wadah yang disebut dengan ingatan
atau memori yang terdapat di dalam otak manusia.
Saat kita membaca
sebuah novel, di situ dapat kita temui berbagai macam kata dengan
bermacam-macam makna. Seorang penulis dalam membuat berbagai macam kata dengan
makna yang begitu dalam tersebut, tentu saja memerlukan wadah. Wadah yang digunakan
oleh penulis tersebut yaitu buku. Penulis menuangkan berbagai macam kisah di
dalam buku yang ia tulis, buku tersebut dapat berupa novel maupun kumpulan
cerpen.
Banyak yang melihat
bahwa sebuah novel atau kumpulan cerpen hanya sebuah buku yang memiliki banyak
tulisan dengan dipenuhi kisah-kisah yang hanya dibuat-buat oleh penulis untuk membuat
pembacanya menangis atau pun tertawa. Tapi bagi yang berpikiran seperti itu, apa
yang kalian pikirkan belum tentu benar. Jika kalian ingin melihat salah satu novel
atau lebih tepatnya kumppulan cerpen, yang isinya terkandung berbagai kisah
yang bukan hanya menyentuh hati dari dua sisi, tetapi juga membuat kita sadar
akan kehidupan. Kumpulan tersebut adalah karya Dewi Lestari dengan judul Rectoverso.
Bila dilihat dari
sampulnya, kumpulan cerpen ini sama dengan kumpulan cerpen pada umumnya yang di
dalamnya terdapat lebih dari satu cerpen. Tapi, ada sebuah istilah yang
berbunyi ‘jangan menilai buku dari sampulnya’. Baca dulu isinya kemudian
dinilai. Di dalam kumpulan cerpen Rectoverso, Dewi Lestari atau bisa di sapa
dengan Dee menuliskan sebelas cerita pendek . Setiap cerita pendek tersebut
memiliki warnanya masing-masing.
Dee menyajikan karya
kali ini dengan dipenuhi oleh lirik lagu pada setiap awal cerita. Selain itu,
cerita yang disuguhkan Dee dalam novelnya juga begitu menarik. Dalam kumpulan
cerpen ini menyajikan sebuah kisah tentang percintaan.
Terdapat sebelas cerita
pendek yang pembaca dapat temukan. Judul dari setiap ceritanya yaitu, ‘Curhat
Buat Sahabat’, ‘Malaikat Juga Tahu’, ‘Selamat Ulang Tahun’, ‘Aku Ada’, Hanya
Isyarat’, ‘Peluk’, ‘Grow a Day Older’,
‘Cecak di Dinding’, ‘Firasat’, ‘Tidur’, dan yang terakhir ‘Back to Heaven’s Linght’. Cerita pertama yang mengawali kesebelas
cerita diberi judul ‘Curhat Buat Sahabat’.
Cerita pertama ini
merupakan cerita yang menarik, dalam cerita tersebut terdapat kisah tentang curahan hati seorang perempuan kepada
sahabat lelakinya. Selama 5 tahun perempuan ini tergila-gila dengan lelaki
tersebut. Lelaki itu hingga baru menyadari jika ternyata orang yang dia cintai
setengah mati itu adalah orang yang salah. Perempuan itu baru menyadari ketika
dia sedang sakit, sendiri, hingga tidak sanggup terbangun meski hanya untuk
mengambil segelas air putih yang dia butuhkan untuk melepaskan dahaganya. Tidak
muluk-muluk yang dia butuhkan saat itu hanya orang yang bisa menyayanginya, dan
segelas air putih. “ Ya. Diam! Diam
ditempat Tidak lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin
diluar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani
aku pada saat susah, pada saat aku sakit…”. Berikut adalah cuplikan
ungkapan menyentuh tentang Curhat buat Sahabat :
Sahabatku,
usai tawa ini zinkan aku bercerita
Telah
jauh, kumendaki
Sesak
udara di atas puncak khayalan
Jangan
sampai kau di sana
Telah
jauh, kuterjatuh
Pedihnya
luka di dasar jurang kecewa
Dan
kini sampailah, aku di sini yang cuma ingin diam
Duduk
di tempatku menanti seorang yang biasa saja
Segelas
air ditangannya, kala kuterbaring sakit
Yang
sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari
teduhnya dalam mataku
Dan
berbisik “Pandang aku, kau tak sendiri,oh dewiku…”
Dan
demi Tuhan, hanya itulah yang itu saja kuinginkan
Telah
lama kumenanti
Satu
malam sunyi untuk ku akhiri
Dan
usai tangis ini, aku kan berjanji…
Untuk
diam, duduk di tempatku
Menanti
seorang yang biasa saja
Segelas
air ditangannya, kala kuterbaring sakit
Menentang
malam, tanpa bimbang lagi
Demi
satu dewi yang telah bermimpi
Dan
berbisik “ selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”
Wahai
Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi
Kisah yang terdapat
dalam cerita yang mengawali buku Rertoverso ini sudah pasti begitu menarik,
apalagi kesepuluh kisa yang berkutnya. Cerpen yang kedua berjudul ‘Malaikat
Juga Tahu’. Kisah yang terdapat dalam cerpen ini begitu mengahrukan. Ketika
membaca puisinya saja, pembaca akan langsung tersentuh apalagi ketika membaca
ceritanya.
Cerpen ini mengisahkan
tentang seorang perempuan yang sangat kuat dan tegar menjalani kehidupannya
bersama anaknya yang memiliki cacat mental. Perempuan tersebut akrab dipanggil
dengan sebutan “Bunda”. Rumah bunda yang besar dan memiliki banyak kamar adalah
rumah indekos paling legendaries. Bunda mempunyai 2 orang anak akrab dipanggil
Abang dan Adik. Si Abang memiliki keterbelakangan mental, tapi cukup cerdas.
Dalam tubuh pria 38 tahun tersebut bersemayam mental anak 4 tahun, demikian
menurut para ahli jiwa yang didatangkan bunda. Dia yang selama ini membantu
ibunya mengurusi kost-kostan, mencuci, beres-beres, dll. Sementara si Adik,
merantau di luar negeri.
Abang bersahabat dengan
seorang perempuan penghuni kost, dan jatuh cinta dengan perempuan tersebut.
Akan tetapi, ternyata perempuan ini jatuh hati dengan Adiknya. Bunda telah
berbicara dari hati ke hati dengan perempuan ini, siapa diantara keduanya yang
patut untuk dipilih. Tetapi perempuan tersebut tidak akan memilih manusia satu
itu “Abang” untuk dijadikan pacarnya. Hingga bunda berkata sesuatu yang
nenyentuh “Dia mencintai tidak cuma
dengan hati. Tapi seluruh jiwanya. Bukan basa-basi surat cinta, tidak Cuma
rayuan gombal, tapi fakta. Adiknya bisa cinta sama kamu, tapi kalau kalian
putus, dia dengan gampang cari lagi. Tapi Abang tidak mungkin cari yang lain.
Dia cinta sama kamu tanpa pilihan seumur hidupnya”.
Bunda menginginkan
perempuan itu setiap malam minggu harus ke rumahnya, tidak bisa tidak. Tetapi
perempuan itu keberatan dengan keinginan bunda. Hingga akhirnya perempuan itu
meninggalkan mereka semua, dan tidak pernah muncul kembali setiap malam minggu.
Bunda menangisi setiap malam minggu, karena si Abang selalu memberantaki
barang-barang disetiap malam minggunya. Kalau beruntung Abang akhirnya
kelelahan sendiri lalu tertidur di pangkuan ibunya. Kalau tidak, sang ibu
terpaksa menutup hari abangnya dengan obat penenang. “Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan
sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan
sia-sia. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk
berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata,
keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi
tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang”.
Bukan hanya kedua
cerita itu saja yang menarik dalam buku karya Dee ini, tapi terdapat dua cerita
yang ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris. Judulnya yaitu, ‘Grow a Day Older’ yang merupakan cerita
ke-7 dan ‘Back to Heaven’s Light’
yang merupakan cerita penutup atau cerita ke-11.
‘Grow a Day Older’ merupakan
salah satu dari dua cerita berbahas Inggris di kumpulan cerpen ini. Berkisah
tentang perselingkuhan. Dimana si perempuan berniat ingin meninggalkan
semuanya, tepat disaat ulang tahun SLI-nya itu. Dengan mempersembahkan sebuah
lagu ciptaanya sebagai kado ultah. Namun akhirnya berubah menjadi bimbang
karena suatu peristiwa.
Sedangkan, ‘Back to Heaven’s Light’, menceritakan
bagaimana pilunya hati seorang istri yang ditinggal pergi suaminya. Ketika
detik-detik menjelang kematiannya, dia seperti merasakan dejavu. Dulu, sesaat
setelah menikah sang suami pernah bermimpi. Dia bercerita, dalam mimpinya,
tengah berada di lautan gelap, sendirian di seebuah kapal. Gelapnya seakan tak
berujung.
Ketika tiba-tiba sebuah
cahaya terlihat, cahaya terindah yang yang pernah dia lihat. Diapun begerak
menuju cahaya itu. Seketika dia berhenti
bercerita dan menangis. Sang istri bertanya “Why are you crying? It could be the heaven’s light?” . Suaminya
menjawab “It was You that I saw in the
light…”. Dan ketika tengah menemani
suaminya dalam kedaan sekarat di sebuah Rumah Sakit, sang suami berkata kembali
“I’m back in the dark ocean. I See no
end, and I see no beginning…”. Cerita tak berhenti sampai disitu. Karena
ternyata ada hubungan cinta segitiga antara perempuan itu, suaminya, dan Pria
Idaman.
Itulah beberapa cerita
dalam buku kumpulan cerita Rectoverso. Seperti yang dapat dilihat, kisah dari
keempat cerita di atas begitu menyentuh hati. Kata-katanya begitu bermakna, Dee
dapat dikatakan sebagai salah satu penulis penulis Indonesia yang pandai dalam
memilih kata untuk setiap ceritanya. Maka dapat dikatakan bahwa buku kumpulan
cerpen Rectoverso ini merupakan wadah yang menampung sebelas kisah-kisah penuh
makna, serta dapat menyentuh hati dari dua sisi.
Selain kelebihannya
tersebut, sebuah karya tentu memiliki kekurangan begitu pula buku karya Dee
tersebut. Buku kumpulan cerpen Rectoverso ini memiliki kekurangan yaitu pada
kedua cerita yang menggunakan bahasa Inggris. Bagi pembaca yang tahu atau
mengerti bahasa Inggris tentu tidak bermasalah dalam memaknai cerita tersebut,
tapi bagaimana dengan pembaca yang sama sekali tidak tahu bahasa Inggris ?.
Tentu akan kesulitan dalam memaknai cerita tersebut. Sebaiknya ketika hendak
menulis cerita dalam bahasa Inggris, harus juga disertai dengan terjemahan
bahasa Indonesianya agar mempermudah pembaca yang tidak mengetahui bahasa
Inggris dalam memahami makna dari cerita.
Seperti yang telah
dikatakan sebelumnya, bahwa sebuah wadah bagi penulis untuk menuangkan semua
cerita yang penuh dengan berbagai kisah adalah buku, baik dalam wujud novel
maupun kumpun cerpen. Seperti buku karya Dewi Lestari, yang kisahnya
benar-benar dapat menyentuh hati para pembaca dari dua sisi. Buku kumpulan
cerita ini dapat diibaratkan seperti ‘Wadah Sebelas Kisah’.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar