MAKALAH
SOSIOLOGI SASTRA
Disusun
Oleh :
Ramiati
Raman
NIM :
2015-35-043
Kelas :
A
Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas
Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas
Pattimura Ambon
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sastra merupakan
pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra sorang pengarang mengungkapkan
problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra
menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap
masyarakat.
Karya sastra merupakan
bagian dari kebudayaan, kelahirannya di tengah masyarakat tidak luput dari
pengaruh sosial dan budaya. Pengaruh tersebut bersifat timbal balik, artinya
karya sastra dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat. Salah satu bentu karya sastra yang sering kita jumpa
adalah novel.
Di dalam setiap novel, tanpa kita sadari terdapar aspek-aspek Sosio Budaya.
Salah satu aspeknya ialah hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta
komunikasi yang dapat diartikan pula sebagai masyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, kami dapat merumuskan beberapa rumusan masalah di
antaranya sebagai berikut :
1) Apakah
yang dimaksud dengan Sosio Budaya dalam penciptaan karya sastra?
2) Aspek-aspek
apa sajakah yang terdapat dalam Sosio Budaya?
3) Seperti
apakah aspek Sosio Budaya di dalam Novel?
4) Bagaimana
kutipan dari Novel tersebut?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari
penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1) Pengertian
Sosio Budaya dalam penciptaan karya sastra.
2) Aspek-aspek
Sosio Budaya.
3) Aspek
Sosio Budaya Dalam Novel.
4) Kutipan-kutpan
dari Novel.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Sosio Budaya
Dalam
Penciptaan Karya Sastra
Sastra merupakan karya kreatif dari
sebuah proses pemikiran untukmenyampaikan ide, pengalaman, dan sistem berpikir seseorang.
Hal tersebut sebagaibentuk pengungkapan dari pengalaman yang telah disaksikan,
dialami, dan dirasakan manusia dalam berbagai sisi kehidupan.Karya sastra pada
hakikatnya juga menjadi satu hasil karya yang menjelaskan pengalaman kehidupan
manusia dalam bentuk pengimajinasian tentang dunia di sekitarnya.Melalui karya
sastra, dapat diketahui penghayatan manusia yang paling dalam (Junus, 1986:4).
Pengarang sebagai anggota masyarakat,
dalam proses menciptakan karya sastra seringkali memposisikan sastra sebagai
suatu cermin masyarakat. Sesuai dengan pernyataan Sumardjo, bahwa sastra adalah
produk masyarakat maka karya sastra yang lahir di tengah masyarakat dapat
dipastikan tertulis berdasarkan pada desakan emosional masyarakat (Sumardjo,
1979: 12).Penciptaan karya sastra yang telah ditulis oleh pengarang biasanya
memiliki suatu tujuan untuk dapat mendidik dan menghibur pembacanya.
Sastra sebagai suatu produk budaya
diyakini menyampaikan suatu pengalaman batin manusia berupa permasalahan
kemanusiaan yang lahir dari pengarang sebagai pencipta sekaligus sebagai bagian
dari kelompok masyarakattertentu.Permasalahan yang dituliskan oleh pengarang
bersifat sebuah kreasi rekaan yang berada dalam angan-angan pengarang. Namun,
perlu disadari bahwa posisi pengarang sebagai anggota masyarakat yang hidup
dalam dunia nyata memberi
kemungkinan dan keleluasaan untuk memperkenalkan permasalahan yang
ada kepada pembaca mengenai sistem nilai kehidupan masyarakat sesuai dengan
penghayatannya secara pribadi.
Karya sastra melalui imajinasi dan
konteks sosial pengarang merupakan jembatan yang digunakan untuk mendialogkan
berbagai permasalahan dari sudut pandang tertentu kepada para pembaca.Gambaran
mengenai pemikiran nilai-nilai yang dapat ditangkap dari masyarakat secara
tidak langsung merupakan sarana untuk mengekspresikan permasalahan melalui
tokoh-tokoh masyarakat imajiner yang ditulis dalam karyanya.Salah satu bentuk
dari karya sastra yang banyak mengandung problematika tentang nilai kebudayaan
adalah novel.
Menurut Ian Watt, novel merupakan sebuah
proses untuk memindahkan gambaran kehidupan yang dilakukan dengan seksama ke
dalam suatu bentuk yang meniru realitas (Watt, 1957:32). Meskipun demikian,
penggambaran tersebut tidak lagi dalam realita yang utuh, tetapi telah diwarnai
dengan ide dari pengarangnya.Oleh karena itu, proses memahami sebuah novel
tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial budaya suatu masyarakat
karena unsur yang terdapat novel seperti latar sosial, latar tempat, dan sistem
masyarakatnya berkaitan dengan realitas sosial yang ada.
Faruk (1988:20) berpendapat bahwa karya
sastra adalah refleksi budaya karena karya sastra diciptakan oleh pengarang
yang notabene adalah anggota masyarakat.Karya sastra yang diciptakan oleh
pengarang dalam pengertian tersebut dipastikan memiliki unsur kebudayaan yang
tercermin di dalamnya sebab pengarang sebagai anggota masyarakat terikat pada
status sosial dan lingkungan budaya tertentu. Hal ini juga berdasarkan pada
asumsi bahwa karya sastra tidak diciptakan dari
kekosongan budaya. Karya sastra, dalam hal ini novel diciptakan dengan
mengangkat latar sosial budaya yang dapat terwujud dalam tokoh yang ditampilkan
melalui sistem kemasyarakatan, adat istiadat, kesenian, dan benda kebudayaan
yang tercermin. Gejala yang nampak dalam
penerbitan novel-novel sastra Indonesia pada awal 1990-an yaitu dimunculkannya
kembali warna lokal daerah. Beberapa pengarang Indonesia yang sering mengangkat
warna lokal daerah dalam karyanya adalah, Korrie Layun Rampan dalam novel Bunga
dengan warna lokal masyarakat Dayak, Wisran Hadi menulis Nyonya Nyonya
dengan warna lokal Minangkabau, dan Ahmad Tohari yang terkenal sebagai
pengarang dengan latar belakang kebudayaan Jawa dalam novelnya Ronggeng
Dukuh Paruk.
2.2. Aspek-aspek Sosio Budaya
Sesuai dengan hasil kajian yang telah
dilakukan, konsep mengenai aspek-aspek Sosio Budaya dapat dibedakan ke dalam
aspek-aspek Sosio (Sosial) dan aspek-aspek Budaya. Berkenaan dengan hal itu,
konsep mengenai aspek-aspek Sosial yang dimaksud, antara lain sebagai berikut :
1) Tempat komunikasi berlangsung;
2) Tujuan komunikasi;
3) Peserta komunikasi, yang meliputi status sosial, usia, pendidikan,
dan jenis kelaminnya;
4) Hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi,
termasuk relasi, ada-tidaknya hubungan kekerabatan, dan tingkat keakraban
peserta komunikasi;
5) Topik pembicaraan;
6) Situasi komunikasi;
7) Waktu berlangsungnya komunikasi;
8) Domain atau ranah pembicaraan;
9) Sarana komunikasi yanng digunakan;
10) Ragambahasa atau variasi
bahasa;
11) Penggunaan sistem sapaan;
12) Peristiwa tutur (misalnya
kuliah, pesta ulang tahun, upacara perkawinan, dsb).
2.3.Aspek Sosio Budaya
dalam Novel
Novel yang penulis analisis berdasarkan
aspek-aspek Sosio Budaya di atas adalah salah satu Novel karya anak bangsa.
Novel ini ditulis oleh Raditya Dika yang merupakan seorang penulis muda
sekaligus seorang komika atau sebutan bagi orang yang senang melakukan stand-up comedy. Novel karya Raditya
Dika ini berjudul “Manusia Setengah Salmon”. Isi dari Novel ini menceritakan
tentang kehidupan sang penulis atau merupakan (Oto) Biografi. Terdapat sembilan
belas sub-bab di dalam novel.
1) Tempat komunikasi
berlangsung
Dalam
salah satu Novel karya Raditya Dika sub-bab Novelnya “Manusia Setengah Salmon”.
Tempat komunikasi berlangsung yang terdapat di dalam sub-bab Novel tersebut
adalah di acara resepsi pernikahan teman SMA sang penulis yang bernama Mister,
resepsi pernikahannya berupa semi-pesta kebun di daerah Kemang. Seperti pada
kutipan berikut.
‘Resepsis
pernikahannya sendiri berupa semi-pesta kebun di daerah Kemang, dan tamu datang
makin lama makin banyak.’
Tempat
komunikasi selanjutnya ialah di parkiran ketika sang penulis dan pacarnya
pulang dari acara resepsi hinngga mereka masuk ke dalam mobil.
2)
Tujuan
Komunikasi
Di
dalam Novel Manusia Setengah Salmon, terdapat percakapan-percakapan atau
komunikasi antara tokoh. Tujuan dari komunikasi antara tokoh yang terdapat pada
sub-bab Manusia Setengah Salmon tersebut adalah untuk mempererat tali
silaturahmi antar tokoh yang pada saat itu telah lama berpisah setelah
kelulusan SMA. Lalu ada pula percakapan tokoh yang bertujuan untuk meyakinkan
sang penulis sebagai tokoh utama dalam Novel bahwa teman-temannya sekarang
telah menikah, seperti pada kutipan percakapan tokoh berikut
“Iya,
rasanya aneh banget ya. Dulu ngebego-begoin mereka, dulu suka nyontek dari
mereka di kelas, sekarang mereka udah kawin, dan punya anak aja”.
3)
Peserta komunikasi, yang meliputi status sosial,usia, pendidikan, dan
jenis kelaminnya.
Peserta komunikasi yang
dimaksud ialah para tokoh yang terdapat atau yang terlibatdi dalam Novel. Pada sub-bab
Manusia Setengah Salmon, tokoh yang terlibat ialah sang penulis (Raditya Dika),
Pito, Ratih, dan pacar sang penulis. Sang penulis yang menceritakan dirinya di
dalam Novel merupakan orang yang baik dan mudah akrab dengan orang-orang di
sekitarnya. Dia juga tampak begitu akrab dengan kawan-kawan lamanya. Tokoh lain
seperti Pito dan Ratih yang merupakan kawan lama dari sang penulis merupakan
orang yang humoris. Sedangkan pacar dari sang penulis merupakan orang yang
pengertian kepada lawan bicaranya.
Usia dari setiap tokoh tidak disebutkan
di dalam novel tapikisaran usia setiap tokohtidak berbeda jauh karena mereka
merupakan teman sewaktu SMA. Tentang pendidikan dari setiap tokoh tidak dijelaskan
di dalam Novel, tapi di salah satu
sub-bab Novel yaitu Kasih Ibu Sepanjang Belanda menjelaskan bahwa sang penulis
pernah mendapatkan beasiswa ke Belanda untuk menghadiri summer course selama 2 minggu. Dan jenis kelamin dari tokoh utama
novel (Raditya Dika) adalah laki-laki, mungkin untuk sementara waktu. Begitu
pula dengan Pito yang juga merupakan seorang laki-laki yang senang cengengesan
dan ada iler sedikit di pinggir bibirnya. Sedangkan Ratih (mantan pacar) dan
pacar dari sang penulis merupakan perempuan.
4)
Hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi,
termasuk relasi, ada-tidaknya hubungan kekerabatan, dan tingkat keakraban
peserta komunikasi
Dalam Novel Raditya Dika, tokoh
utama (Raditya Dika), karena sebagai tokoh utama ia yang sering memulai
percakapan dengan tokoh lain. Seperti pada kutipan berikut
“Pit, anak lo lucu banget, tapi
suka ileran. Kayak bapaknya” kata Gue. Si Pito Cuma cengengesan. Ada iler
sedikit di pinggir bibirnya. Benar, mirip bapaknya.
Dan pada kutipan atau percakapan
berikut
Gue menunjuk ke arah tas cewek
yang Pito selempangkan di bahu kanannya, lalu bertanya “Ini lo mo fashion show di mana?”. “Sialan lo, ini
punya istri gue” jawabnya. “Dia lagi mau nyari makanan. Tadi, dia lihat ada
kambing guling”.
Dari kedua percakapan di atas
dapat dilihat bahwa setiap awal percakapan selalu dimulai dari sang tokoh utama
(Raditya Dika). Hubungan antara setip tokoh yang melikukan percakapan atau
komunikasi hanya sebatas teman atau kawan lama.
5)
Topik
Pembicaraan
Topik pembicaraan atau
hal-hal yang dibahas oleh setiap tokoh adalah hal-hal yang biasa dibahas oleh
kawan yang lama tak berjumpa dan hal-hal yang menjadi bahan bercandaan lainnya.
Seperti pada kutipan percakapan di bawah ini.
“Pit, anak lo lucu banget,
tapi suka ileran. Kayak bapaknya” kata Gue. Si Pito Cuma cengengesan. Ada iler
sedikit di pinggir bibirnya. Benar, mirip bapaknya.
Tetapi ada pula topik
pembicaraan lain, yaitu antara tokoh utama dan pacarnya. Topik pembicaraan
mereka adalah tentang teman-teman mereka yang telah menikah dan telah mempunyai
anak. Seperti pada kutipan percakapan di bawah ini.
Gue tanya ke pacar “Aneh gak,
sih, teman main kita sekarang udah kawin, terus ada teman main yang udah punya
anak?”
“Temanku juga banyak yang
kayak gitu,”, jawab dia.
“Iya, rasanya aneh banget ya.
Dulu ngebego-begoin mereka, dulu suka nyontek dari mereka di kelas, sekarang mereka
udah kawin,udah punya anak ajah.”
“Nanti kan kita juga bakalan
kayak mereka.”
“Iya, sih,” kata gue.
6)
Situasi
Komunikasi
Situasi atau keadaan saat
melakukan komunikasi tersebut adalah mengharukan karena pada saat itu para
tokoh di dalam Novel sedang berada di acara resepsi pernikahan teman mereka
Mister. Jadi saat melakukan percakapan, para tokoh sedang dalam suasana hati
yang berbahagia. Tetapi tokoh utama, ketika menuju ke mobilnya. Tokoh utama
masih merasa tidak percaya bahwa kawan-kawan SMAnya semua telah menikah dan
mempunya anak.
7)
Waktu
berlangsungnya komunikasi
Waktu berlangsungnya
komunikasi pada sub-bab Manusia Setengah Salmon adalah pada malam hari. Seperti
pada kutipan berikut.
‘Malam itu, kami lagi ada di
pernikahannya Mister, temen SMA kami.’
Dan resepsi pernikahan teman
sang tokoh utama tersebut jatuh pada hari Sabtu malam. Seperri pada kutipan
berikut.
‘Hari pernikahan mistem jatuh
pada Sabtu Malam.’
8)
Domain
atau ranah pembicaraan
Ranah pembicaraan antara
tokoh utama dan temannya Pito hanya membahas tentang anaknya Pito dan sesekali
diselingi dengan bercandaan. Seperti pada kutipan percakapan tokoh utama dan
Ratih berikut.
“Pit, anak lo lucu banget,
tapi suka ileran. Kayak bapaknya,” komentar gue.
“Pit, anak lo kok bagus? Beda
sama bapaknya.” Kata Ratih.
Tetapi, ranah pembicaraan
antara tokoh utama dan pacaranya adalah tentang teman-temadan tentang adiknya.
Seperti pada kutipan percakapan berikut.
“Iya, teman SMA-ku udah banyak yang nikah. Dari teman mainku aja
tinggal beberapa yang belum nikah. Terus, teman-temanku udah ada yang kerja di
perusahaan ini, perusahaan itu-lah. Adikkku yang paling kecil udah SMP.”
9)
Sarana
komunikasi yang digunakan
Sarana atau media komunikasi
yang digunakan untuk berkomunikasi atau bercapak-capak tidak di katakan di
dalam sub-bab Manusia Setengah Salmon. Karena setiap percakapan terjadi secara
langsung tanpa melalu perantara media komunikasi lain.
10) Ragam bahasa atau
variasi bahasa
Ragam bahasa yang digunakan
di dalam Novel karya Raditya Dika ini adalah menggunakan bahasa anak zaman
sekarang atau bahasa yang sering digunakan dalam pergaulan anak-anak muda di
Jakarta khususnya. Penggunaan bahasa tersebut terdapat pada keseluruhan Nove
ini dari percakapan maupun kutipan-kutipan lainnya. Seperti pada contoh kutipan
dari penulis di bawah ini.
‘Di perjalanan pulang dari
kondangan, gue gak bisa berhenti mikir tentang Pito, Mister, dan ikan Salmon.
Gue ingat, beberapa bulan lalu, gue sakit di rumah, dan kebiasaan gue kalau
lagi sakit adalah banyak menonton televisi.’
11) Penggunaan sistem sapaan
Pada penggunaan sistem sapaan,
penulis menggunakan sistem sapaan ‘Gue’ (aku) untuk menceritakan tentang kisah
dan pengalamannya di dalam Novel Manusia Setengah Salmon. Begitu pula saat
percakapan terjadi, penulis menggunakan sistem sapaan ‘Lo’ (kamu) kepada mitra
tutur atau lawan bicaranya. Sepeeti pada salah satu kutipan penulis di bawah
ini.
‘Gue melihat Pito yang cengengesan
dengan anak di gendongannya. Gue menghela napas. Waktu kadang bisa sangat
kejam. Tanpa sadar, semua hal sudah berubah.’
12) Peristiwa tutur
Peristiwa tutur merupakan
kejadian yang terjadi ketika percakapan berlangsung. Pada Novel karya Raditya
Dika ini, pada sub-bab Manusia Setengah Salmon peristiwa tututnya terjadi
ketika tokoh utama dan teman-temannya berada di resepsi pernikahan atau kondangan
teman SMA mereka yaitu Mister. Seperti pada kutipan beikut.
‘kami lagi ada di pernikahannya
Mister, temen SMA kami.’
‘Di jalan pulang dari kondangan,
gue gak bisa berhenti mikir tentang Pito, Mister, dan ikan Salmon.’
‘Di jalan pulang dari pernikahan
Mister, gue melihat beberapa janur kuning lain yang melambai di pinggir jalan.’
2.4.Kutipan-kutipan dari
Novel
Di dalam Novel karya
Raditya Dika ini, terdapat banyak sekali kutipan yang saya sukai. Tapi
khususnya di sub-bab Manusia Setengah Salmon terdapat beberapa kutipan yang
memotivasi. Kutipan-kutipannya antara lain sebagai berikut :
‘Intinya begini : Setiap
tahunnya ikan Salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya
untuk bertelur. Pito, Mister, dan Salmon mengingatkan gue kembali, bahwa esensi
kita menjadi makhluk hidup adalah pindah.
Dimulai dari kecil, kita pindah dari rahim ibu ke dunia nyata. Lalu, kita
pindah sekolah, lalu pindah pekerjaan. Dan, pada akhirnya, kita pindah hidup.
Mati, pindah ke alam lain’.
‘HIDUP penuh dengan
keetidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti.’
‘Kalau pindah
diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang
mengikutinya. Kita sering berpikir ini adalah perpisahan sehingga merasa sedih
melepas hal-hal yang diakrabi, hal-hal yang selama ini membuat kita senang dan
nyaman. Akhirnya, melakukan perpindahan ke tempat baru membuat kitadihantui rasa cemas. Apakah akan sama enaknya? Apakah akan
sama menyenangkan? Apakah akan lebih baik?’
‘Tidak ada kehidupan
lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpidahan. Mau tak mau, kita
harus seperti ikan Salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk
mewujudkan harapan.’
‘Gue jadi berpikir,
ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi
manusia super. Gue hanya perlu menjadi “manusia setengah salmon” : berani pindah.
Lalu, gue tersenyum.
‘Mungkin, gue hanya
perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua perpindahan ini.’
BAB
III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan
tentang aspek Sosio Budaya di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa :
Pengarang sebagai anggota masyarakat,
dalam proses menciptakan karya sastra seringkali memposisikan sastra sebagai
suatu cermin masyarakat. Sesuai dengan pernyataan Sumardjo, bahwa sastra adalah
produk masyarakat maka karya sastra yang lahir di tengah masyarakat dapat
dipastikan tertulis berdasarkan pada desakan emosional masyarakat (Sumardjo,
1979: 12).
Sastra sebagai suatu produk budaya
diyakini menyampaikan suatu pengalaman batin manusia berupa permasalahan
kemanusiaan yang lahir dari pengarang sebagai pencipta sekaligus sebagai bagian
dari kelompok masyarakattertentu.Permasalahan yang dituliskan oleh pengarang
bersifat sebuah kreasi rekaan yang berada dalam angan-angan pengarang. Namun,
perlu disadari bahwa posisi pengarang sebagai anggota masyarakat yang hidup
dalam dunia nyata memberi
kemungkinan dan keleluasaan untuk memperkenalkan permasalahan yang
ada kepada pembaca mengenai sistem nilai kehidupan masyarakat sesuai dengan
penghayatannya secara pribadi.
Konsep
mengenai aspek-aspek Sosial yang dimaksud, antara lain sebagai berikut :
13) Tempat komunikasi berlangsung;
14) Tujuan komunikasi;
15) Peserta komunikasi, yang meliputi status sosial, usia, pendidikan,
dan jenis kelaminnya;
16) Hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi,
termasuk relasi, ada-tidaknya hubungan kekerabatan, dan tingkat keakraban
peserta komunikasi;
17) Topik pembicaraan;
18) Situasi komunikasi;
19) Waktu berlangsungnya komunikasi;
20) Domain atau ranah pembicaraan;
21) Sarana komunikasi yanng digunakan;
22) Ragam bahasa atau variasi
bahasa;
23) Penggunaan sistem sapaan;
24) Peristiwa tutur (misalnya
kuliah, pesta ulang tahun, upacara perkawinan, dsb).
Pada
makalah ini, penulis menganalisis atau mengkaitkan sebuah Novel karya Raditya
Dika “Manusia Setengah Salmon” dengan aspek-aspek Sosio Budaya di atas. Dalam
Novel ini, Raditya Dika juga mencantumkan kata-kata atau kutipan-kutipan
motivasi. Contohnya sebagai berikut :
‘Tidak ada kehidupan
lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpidahan. Mau tak mau, kita
harus seperti ikan Salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk
mewujudkan harapan.’
‘Gue jadi berpikir,
ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi
manusia super. Gue hanya perlu menjadi “manusia setengah salmon” : berani pindah.
Lalu, gue tersenyum.
‘Mungkin, gue hanya
perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua perpindahan
ini.’
DAFTAR
PUSTAKA
Arif Sutrisno.
2010. Aspek-aspek Sosial Budaya (Online).http://ariesz.blogspot.co.id/2010/04/aspek-aspek-sosial-budaya.html?m=1. Diakses tanggal 29 September 2016.
Dika, Raditya.
2011. Manusia Setengah Salmon.
Jakarta Selatan : Gagasmedia
Siti Aida
Azis. 2009. Sosiologi Sastra Sebagai
Pendekatan Menganalisis Karya Sastra (Online).
http//kajiansastra.blogspot.co.id/2009/04/sosiologi-sastra-sebagai-pendekatan-.html?m=1.
Diakses tanggal 29 September 2016.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar