Winie The Pooh

My Widget

Senin, 26 Maret 2018

MAKALAH SOSIOLOGI SASTRA


MAKALAH SOSIOLOGI SASTRA






Disusun Oleh :
Ramiati Raman
NIM : 2015-35-043
Kelas : A


Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
2016




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra sorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat.
Karya sastra merupakan bagian dari kebudayaan, kelahirannya di tengah masyarakat tidak luput dari pengaruh sosial dan budaya. Pengaruh tersebut bersifat timbal balik, artinya karya sastra dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat. Salah satu bentu karya sastra yang sering kita jumpa adalah novel.
Di dalam setiap novel, tanpa kita sadari terdapar aspek-aspek Sosio Budaya. Salah satu aspeknya ialah hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi yang dapat diartikan pula sebagai masyarakat.

1.2.   Rumusan Masalah
              Berdasarkan latar belakang di atas, kami dapat merumuskan beberapa rumusan masalah di antaranya sebagai berikut :
1)      Apakah yang dimaksud dengan Sosio Budaya dalam penciptaan karya sastra?
2)      Aspek-aspek apa sajakah yang terdapat dalam Sosio Budaya?
3)      Seperti apakah aspek Sosio Budaya di dalam Novel?
4)      Bagaimana kutipan dari Novel tersebut?

1.3.   Tujuan Penulisan
               Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1)   Pengertian Sosio Budaya dalam penciptaan karya sastra.
2)   Aspek-aspek Sosio Budaya.
3)   Aspek Sosio Budaya Dalam Novel.
4)   Kutipan-kutpan dari Novel.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Sosio Budaya Dalam Penciptaan Karya Sastra
Sastra merupakan karya kreatif dari sebuah proses pemikiran untukmenyampaikan ide, pengalaman, dan sistem berpikir seseorang. Hal tersebut sebagaibentuk pengungkapan dari pengalaman yang telah disaksikan, dialami, dan dirasakan manusia dalam berbagai sisi kehidupan.Karya sastra pada hakikatnya juga menjadi satu hasil karya yang menjelaskan pengalaman kehidupan manusia dalam bentuk pengimajinasian tentang dunia di sekitarnya.Melalui karya sastra, dapat diketahui penghayatan manusia yang paling dalam (Junus, 1986:4).
Pengarang sebagai anggota masyarakat, dalam proses menciptakan karya sastra seringkali memposisikan sastra sebagai suatu cermin masyarakat. Sesuai dengan pernyataan Sumardjo, bahwa sastra adalah produk masyarakat maka karya sastra yang lahir di tengah masyarakat dapat dipastikan tertulis berdasarkan pada desakan emosional masyarakat (Sumardjo, 1979: 12).Penciptaan karya sastra yang telah ditulis oleh pengarang biasanya memiliki suatu tujuan untuk dapat mendidik dan menghibur pembacanya.
Sastra sebagai suatu produk budaya diyakini menyampaikan suatu pengalaman batin manusia berupa permasalahan kemanusiaan yang lahir dari pengarang sebagai pencipta sekaligus sebagai bagian dari kelompok masyarakattertentu.Permasalahan yang dituliskan oleh pengarang bersifat sebuah kreasi rekaan yang berada dalam angan-angan pengarang. Namun, perlu disadari bahwa posisi pengarang sebagai anggota masyarakat yang hidup dalam dunia nyata memberi
kemungkinan dan keleluasaan untuk memperkenalkan permasalahan yang ada kepada pembaca mengenai sistem nilai kehidupan masyarakat sesuai dengan penghayatannya  secara pribadi.
Karya sastra melalui imajinasi dan konteks sosial pengarang merupakan jembatan yang digunakan untuk mendialogkan berbagai permasalahan dari sudut pandang tertentu kepada para pembaca.Gambaran mengenai pemikiran nilai-nilai yang dapat ditangkap dari masyarakat secara tidak langsung merupakan sarana untuk mengekspresikan permasalahan melalui tokoh-tokoh masyarakat imajiner yang ditulis dalam karyanya.Salah satu bentuk dari karya sastra yang banyak mengandung problematika tentang nilai kebudayaan adalah novel.
Menurut Ian Watt, novel merupakan sebuah proses untuk memindahkan gambaran kehidupan yang dilakukan dengan seksama ke dalam suatu bentuk yang meniru realitas (Watt, 1957:32). Meskipun demikian, penggambaran tersebut tidak lagi dalam realita yang utuh, tetapi telah diwarnai dengan ide dari pengarangnya.Oleh karena itu, proses memahami sebuah novel tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial budaya suatu masyarakat karena unsur yang terdapat novel seperti latar sosial, latar tempat, dan sistem masyarakatnya berkaitan dengan realitas sosial yang ada.
Faruk (1988:20) berpendapat bahwa karya sastra adalah refleksi budaya karena karya sastra diciptakan oleh pengarang yang notabene adalah anggota masyarakat.Karya sastra yang diciptakan oleh pengarang dalam pengertian tersebut dipastikan memiliki unsur kebudayaan yang tercermin di dalamnya sebab pengarang sebagai anggota masyarakat terikat pada status sosial dan lingkungan budaya tertentu. Hal ini juga berdasarkan pada asumsi bahwa karya sastra tidak diciptakan dari  kekosongan budaya. Karya sastra, dalam hal ini novel diciptakan dengan mengangkat latar sosial budaya yang dapat terwujud dalam tokoh yang ditampilkan melalui sistem kemasyarakatan, adat istiadat, kesenian, dan benda kebudayaan yang tercermin.  Gejala yang nampak dalam penerbitan novel-novel sastra Indonesia pada awal 1990-an yaitu dimunculkannya kembali warna lokal daerah. Beberapa pengarang Indonesia yang sering mengangkat warna lokal daerah dalam karyanya adalah, Korrie Layun Rampan dalam novel Bunga dengan warna lokal masyarakat Dayak, Wisran Hadi menulis Nyonya Nyonya dengan warna lokal Minangkabau, dan Ahmad Tohari yang terkenal sebagai pengarang dengan latar belakang kebudayaan Jawa dalam novelnya Ronggeng Dukuh Paruk.  

2.2. Aspek-aspek Sosio Budaya
              Sesuai dengan hasil kajian yang telah dilakukan, konsep mengenai aspek-aspek Sosio Budaya dapat dibedakan ke dalam aspek-aspek Sosio (Sosial) dan aspek-aspek Budaya. Berkenaan dengan hal itu, konsep mengenai aspek-aspek Sosial yang dimaksud, antara lain sebagai berikut :
1)      Tempat komunikasi berlangsung;
2)      Tujuan komunikasi;
3)      Peserta komunikasi, yang meliputi status sosial, usia, pendidikan, dan jenis kelaminnya;
4)      Hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi, termasuk relasi, ada-tidaknya hubungan kekerabatan, dan tingkat keakraban peserta komunikasi;
5)      Topik pembicaraan;
6)      Situasi komunikasi;
7)      Waktu berlangsungnya komunikasi;
8)      Domain atau ranah pembicaraan;
9)      Sarana komunikasi yanng digunakan;
10)   Ragambahasa atau variasi bahasa;
11)   Penggunaan sistem sapaan;
12)   Peristiwa tutur (misalnya kuliah, pesta ulang tahun, upacara perkawinan, dsb).

2.3.Aspek Sosio Budaya dalam Novel
       Novel yang penulis analisis berdasarkan aspek-aspek Sosio Budaya di atas adalah salah satu Novel karya anak bangsa. Novel ini ditulis oleh Raditya Dika yang merupakan seorang penulis muda sekaligus seorang komika atau sebutan bagi orang yang senang melakukan stand-up comedy. Novel karya Raditya Dika ini berjudul “Manusia Setengah Salmon”. Isi dari Novel ini menceritakan tentang kehidupan sang penulis atau merupakan (Oto) Biografi. Terdapat sembilan belas sub-bab di dalam novel.
1)      Tempat komunikasi berlangsung
                   Dalam salah satu Novel karya Raditya Dika sub-bab Novelnya “Manusia Setengah Salmon”. Tempat komunikasi berlangsung yang terdapat di dalam sub-bab Novel tersebut adalah di acara resepsi pernikahan teman SMA sang penulis yang bernama Mister, resepsi pernikahannya berupa semi-pesta kebun di daerah Kemang. Seperti pada kutipan berikut.
                   ‘Resepsis pernikahannya sendiri berupa semi-pesta kebun di daerah Kemang, dan tamu datang makin lama makin banyak.’
                   Tempat komunikasi selanjutnya ialah di parkiran ketika sang penulis dan pacarnya pulang dari acara resepsi hinngga mereka masuk ke dalam mobil.

2)      Tujuan Komunikasi
                   Di dalam Novel Manusia Setengah Salmon, terdapat percakapan-percakapan atau komunikasi antara tokoh. Tujuan dari komunikasi antara tokoh yang terdapat pada sub-bab Manusia Setengah Salmon tersebut adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar tokoh yang pada saat itu telah lama berpisah setelah kelulusan SMA. Lalu ada pula percakapan tokoh yang bertujuan untuk meyakinkan sang penulis sebagai tokoh utama dalam Novel bahwa teman-temannya sekarang telah menikah, seperti pada kutipan percakapan tokoh berikut
              “Iya, rasanya aneh banget ya. Dulu ngebego-begoin mereka, dulu suka nyontek dari mereka di kelas, sekarang mereka udah kawin, dan punya anak aja”.

3)      Peserta komunikasi, yang meliputi status sosial,usia, pendidikan, dan jenis kelaminnya.
                   Peserta komunikasi yang dimaksud ialah para tokoh yang terdapat atau yang terlibatdi dalam Novel. Pada sub-bab Manusia Setengah Salmon, tokoh yang terlibat ialah sang penulis (Raditya Dika), Pito, Ratih, dan pacar sang penulis. Sang penulis yang menceritakan dirinya di dalam Novel merupakan orang yang baik dan mudah akrab dengan orang-orang di sekitarnya. Dia juga tampak begitu akrab dengan kawan-kawan lamanya. Tokoh lain seperti Pito dan Ratih yang merupakan kawan lama dari sang penulis merupakan orang yang humoris. Sedangkan pacar dari sang penulis merupakan orang yang pengertian kepada lawan bicaranya.
              Usia dari setiap tokoh tidak disebutkan di dalam novel tapikisaran usia setiap tokohtidak berbeda jauh karena mereka merupakan teman sewaktu SMA. Tentang pendidikan dari setiap tokoh tidak dijelaskan di dalam  Novel, tapi di salah satu sub-bab Novel yaitu Kasih Ibu Sepanjang Belanda menjelaskan bahwa sang penulis pernah mendapatkan beasiswa ke Belanda untuk menghadiri summer course selama 2 minggu. Dan jenis kelamin dari tokoh utama novel (Raditya Dika) adalah laki-laki, mungkin untuk sementara waktu. Begitu pula dengan Pito yang juga merupakan seorang laki-laki yang senang cengengesan dan ada iler sedikit di pinggir bibirnya. Sedangkan Ratih (mantan pacar) dan pacar dari sang penulis merupakan perempuan.
4)      Hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi, termasuk relasi, ada-tidaknya hubungan kekerabatan, dan tingkat keakraban peserta komunikasi
              Dalam Novel Raditya Dika, tokoh utama (Raditya Dika), karena sebagai tokoh utama ia yang sering memulai percakapan dengan tokoh lain. Seperti pada kutipan berikut
              “Pit, anak lo lucu banget, tapi suka ileran. Kayak bapaknya” kata Gue. Si Pito Cuma cengengesan. Ada iler sedikit di pinggir bibirnya. Benar, mirip bapaknya.
              Dan pada kutipan atau percakapan berikut
              Gue menunjuk ke arah tas cewek yang Pito selempangkan di bahu kanannya, lalu bertanya “Ini lo mo fashion show di mana?”. “Sialan lo, ini punya istri gue” jawabnya. “Dia lagi mau nyari makanan. Tadi, dia lihat ada kambing guling”.
              Dari kedua percakapan di atas dapat dilihat bahwa setiap awal percakapan selalu dimulai dari sang tokoh utama (Raditya Dika). Hubungan antara setip tokoh yang melikukan percakapan atau komunikasi hanya sebatas teman atau kawan lama.

5)      Topik Pembicaraan
                   Topik pembicaraan atau hal-hal yang dibahas oleh setiap tokoh adalah hal-hal yang biasa dibahas oleh kawan yang lama tak berjumpa dan hal-hal yang menjadi bahan bercandaan lainnya. Seperti pada kutipan percakapan di bawah ini.
                   “Pit, anak lo lucu banget, tapi suka ileran. Kayak bapaknya” kata Gue. Si Pito Cuma cengengesan. Ada iler sedikit di pinggir bibirnya. Benar, mirip bapaknya.
                   Tetapi ada pula topik pembicaraan lain, yaitu antara tokoh utama dan pacarnya. Topik pembicaraan mereka adalah tentang teman-teman mereka yang telah menikah dan telah mempunyai anak. Seperti pada kutipan percakapan di bawah ini.
                   Gue tanya ke pacar “Aneh gak, sih, teman main kita sekarang udah kawin, terus ada teman main yang udah punya anak?”
                   “Temanku juga banyak yang kayak gitu,”, jawab dia.
                   “Iya, rasanya aneh banget ya. Dulu ngebego-begoin mereka, dulu suka nyontek dari mereka di kelas, sekarang mereka udah kawin,udah punya anak ajah.”
                   “Nanti kan kita juga bakalan kayak mereka.”
                   “Iya, sih,” kata gue.
6)      Situasi Komunikasi
                   Situasi atau keadaan saat melakukan komunikasi tersebut adalah mengharukan karena pada saat itu para tokoh di dalam Novel sedang berada di acara resepsi pernikahan teman mereka Mister. Jadi saat melakukan percakapan, para tokoh sedang dalam suasana hati yang berbahagia. Tetapi tokoh utama, ketika menuju ke mobilnya. Tokoh utama masih merasa tidak percaya bahwa kawan-kawan SMAnya semua telah menikah dan mempunya anak.
7)      Waktu berlangsungnya komunikasi
                   Waktu berlangsungnya komunikasi pada sub-bab Manusia Setengah Salmon adalah pada malam hari. Seperti pada kutipan berikut.
                   ‘Malam itu, kami lagi ada di pernikahannya Mister, temen SMA kami.’
                   Dan resepsi pernikahan teman sang tokoh utama tersebut jatuh pada hari Sabtu malam. Seperri pada kutipan berikut.
                   ‘Hari pernikahan mistem jatuh pada Sabtu Malam.’
8)      Domain atau ranah pembicaraan
                   Ranah pembicaraan antara tokoh utama dan temannya Pito hanya membahas tentang anaknya Pito dan sesekali diselingi dengan bercandaan. Seperti pada kutipan percakapan tokoh utama dan Ratih berikut.
                   “Pit, anak lo lucu banget, tapi suka ileran. Kayak bapaknya,” komentar gue.
                   “Pit, anak lo kok bagus? Beda sama bapaknya.” Kata Ratih.
                   Tetapi, ranah pembicaraan antara tokoh utama dan pacaranya adalah tentang teman-temadan tentang adiknya. Seperti pada kutipan percakapan berikut.
                        “Iya, teman SMA-ku udah banyak yang nikah. Dari teman mainku aja tinggal beberapa yang belum nikah. Terus, teman-temanku udah ada yang kerja di perusahaan ini, perusahaan itu-lah. Adikkku yang paling kecil udah SMP.”
9)      Sarana komunikasi yang digunakan
                   Sarana atau media komunikasi yang digunakan untuk berkomunikasi atau bercapak-capak tidak di katakan di dalam sub-bab Manusia Setengah Salmon. Karena setiap percakapan terjadi secara langsung tanpa melalu perantara media komunikasi lain.
10)  Ragam bahasa atau variasi bahasa
                   Ragam bahasa yang digunakan di dalam Novel karya Raditya Dika ini adalah menggunakan bahasa anak zaman sekarang atau bahasa yang sering digunakan dalam pergaulan anak-anak muda di Jakarta khususnya. Penggunaan bahasa tersebut terdapat pada keseluruhan Nove ini dari percakapan maupun kutipan-kutipan lainnya. Seperti pada contoh kutipan dari penulis di bawah ini.
                   ‘Di perjalanan pulang dari kondangan, gue gak bisa berhenti mikir tentang Pito, Mister, dan ikan Salmon. Gue ingat, beberapa bulan lalu, gue sakit di rumah, dan kebiasaan gue kalau lagi sakit adalah banyak menonton televisi.’
11)   Penggunaan sistem sapaan
                   Pada penggunaan sistem sapaan, penulis menggunakan sistem sapaan ‘Gue’ (aku) untuk menceritakan tentang kisah dan pengalamannya di dalam Novel Manusia Setengah Salmon. Begitu pula saat percakapan terjadi, penulis menggunakan sistem sapaan ‘Lo’ (kamu) kepada mitra tutur atau lawan bicaranya. Sepeeti pada salah satu kutipan penulis di bawah ini.
              ‘Gue melihat Pito yang cengengesan dengan anak di gendongannya. Gue menghela napas. Waktu kadang bisa sangat kejam. Tanpa sadar, semua hal sudah berubah.’
12)   Peristiwa tutur
                   Peristiwa tutur merupakan kejadian yang terjadi ketika percakapan berlangsung. Pada Novel karya Raditya Dika ini, pada sub-bab Manusia Setengah Salmon peristiwa tututnya terjadi ketika tokoh utama dan teman-temannya berada di resepsi pernikahan atau kondangan teman SMA mereka yaitu Mister. Seperti pada kutipan beikut.
              ‘kami lagi ada di pernikahannya Mister, temen SMA kami.’
              ‘Di jalan pulang dari kondangan, gue gak bisa berhenti mikir tentang Pito, Mister, dan ikan Salmon.’
              ‘Di jalan pulang dari pernikahan Mister, gue melihat beberapa janur kuning lain yang melambai di pinggir jalan.’

2.4.Kutipan-kutipan dari Novel
              Di dalam Novel karya Raditya Dika ini, terdapat banyak sekali kutipan yang saya sukai. Tapi khususnya di sub-bab Manusia Setengah Salmon terdapat beberapa kutipan yang memotivasi. Kutipan-kutipannya antara lain sebagai berikut :
              ‘Intinya begini : Setiap tahunnya ikan Salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya untuk bertelur. Pito, Mister, dan Salmon mengingatkan gue kembali, bahwa esensi kita menjadi makhluk hidup adalah pindah. Dimulai dari kecil, kita pindah dari rahim ibu ke dunia nyata. Lalu, kita pindah sekolah, lalu pindah pekerjaan. Dan, pada akhirnya, kita pindah hidup. Mati, pindah ke alam lain’.
              ‘HIDUP penuh dengan keetidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti.’
              ‘Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Kita sering berpikir ini adalah perpisahan sehingga merasa sedih melepas hal-hal yang diakrabi, hal-hal yang selama ini membuat kita senang dan nyaman. Akhirnya, melakukan perpindahan ke tempat baru membuat kitadihantui rasa cemas. Apakah akan sama enaknya? Apakah akan sama menyenangkan? Apakah akan lebih baik?’
              ‘Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpidahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan Salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan.’
              ‘Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi “manusia setengah salmon” : berani pindah.
              Lalu, gue tersenyum.
              ‘Mungkin, gue hanya perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua perpindahan ini.’















BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
              Berdasarkan pembahasan tentang aspek Sosio Budaya di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa :
Pengarang sebagai anggota masyarakat, dalam proses menciptakan karya sastra seringkali memposisikan sastra sebagai suatu cermin masyarakat. Sesuai dengan pernyataan Sumardjo, bahwa sastra adalah produk masyarakat maka karya sastra yang lahir di tengah masyarakat dapat dipastikan tertulis berdasarkan pada desakan emosional masyarakat (Sumardjo, 1979: 12).
Sastra sebagai suatu produk budaya diyakini menyampaikan suatu pengalaman batin manusia berupa permasalahan kemanusiaan yang lahir dari pengarang sebagai pencipta sekaligus sebagai bagian dari kelompok masyarakattertentu.Permasalahan yang dituliskan oleh pengarang bersifat sebuah kreasi rekaan yang berada dalam angan-angan pengarang. Namun, perlu disadari bahwa posisi pengarang sebagai anggota masyarakat yang hidup dalam dunia nyata memberi
kemungkinan dan keleluasaan untuk memperkenalkan permasalahan yang ada kepada pembaca mengenai sistem nilai kehidupan masyarakat sesuai dengan penghayatannya  secara pribadi.
Konsep mengenai aspek-aspek Sosial yang dimaksud, antara lain sebagai berikut :
13)  Tempat komunikasi berlangsung;
14)  Tujuan komunikasi;
15)  Peserta komunikasi, yang meliputi status sosial, usia, pendidikan, dan jenis kelaminnya;
16)  Hubungan peran dan hubungan sosial di antara peserta komunikasi, termasuk relasi, ada-tidaknya hubungan kekerabatan, dan tingkat keakraban peserta komunikasi;
17)  Topik pembicaraan;
18)  Situasi komunikasi;
19)  Waktu berlangsungnya komunikasi;
20)  Domain atau ranah pembicaraan;
21)  Sarana komunikasi yanng digunakan;
22)   Ragam bahasa atau variasi bahasa;
23)   Penggunaan sistem sapaan;
24)   Peristiwa tutur (misalnya kuliah, pesta ulang tahun, upacara perkawinan, dsb).
              Pada makalah ini, penulis menganalisis atau mengkaitkan sebuah Novel karya Raditya Dika “Manusia Setengah Salmon” dengan aspek-aspek Sosio Budaya di atas. Dalam Novel ini, Raditya Dika juga mencantumkan kata-kata atau kutipan-kutipan motivasi. Contohnya sebagai berikut :
              ‘Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpidahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan Salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan.’
              ‘Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi “manusia setengah salmon” : berani pindah.
              Lalu, gue tersenyum.
              ‘Mungkin, gue hanya perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua perpindahan ini.’ 
             













DAFTAR PUSTAKA

Arif Sutrisno. 2010. Aspek-aspek Sosial Budaya (Online).http://ariesz.blogspot.co.id/2010/04/aspek-aspek-sosial-budaya.html?m=1. Diakses tanggal 29 September 2016.

Dika, Raditya. 2011. Manusia Setengah Salmon. Jakarta Selatan : Gagasmedia

Siti Aida Azis. 2009. Sosiologi Sastra Sebagai Pendekatan Menganalisis Karya Sastra (Online). http//kajiansastra.blogspot.co.id/2009/04/sosiologi-sastra-sebagai-pendekatan-.html?m=1. Diakses tanggal 29 September 2016.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar