Winie The Pooh

My Widget

Rabu, 15 Maret 2017

Cerpen Romantis Melati Merah



Sebuah cerpen berlatar di lingkungan sekolah di Jepang: CINTA 10 TAHUN YANG LALU
Judul : INGATAN MANIS CINTA MASA LALU
Tema : Cinta, Sekolah, Persahabatan
Karya : Melati Merah 

Namaku Jessica Mei, bisa di panggil Mei. Usia ku 14 tahun. Hari ini aku memiliki firasat bahwa akan datang badai, tapi kenapa langitnya tetap cerah ya?.  
“Ting nung ning nung, ting nung ning….” Bunyi bel sekolah yang menandakan semua murid harus masuk ke dalam kelas masing-masing.
“Hoamm, aku ngantuk banget” kataku yang menguap.
Melihat aku menguap Winda menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu ini benar-benar pemalas” kata Winda. “Hehehe….” aku tertawa, “bukannya aku pemalas tapi aku benar-benar ngantuk” kataku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Huuuu, kamu ini Mei” Winda masih menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian masuklah bu Anita wali kelas ku. “Selamat pagi anak-anak” sapa bu Anita. “PAGI BU…” jawab semua murid yang ada di kelas ku. “Hari ini kalian kedatangan teman baru” kata bu Anita. Semua murid terdiam termaksud aku, karena aku tidur.
“Leon ayo masuk” kata bu Anita mempersilahkan murid baru tersebut masuk ke kelas ku.
“WAAAAHHH” suara teriakan anak perempuan di kelas ku. “silahkan memperkenalkan dirimu” kata bu Anita mempersilahkan. “Hai semuanya, perkenalkan nama ku Cristyan Leon dan kalian dapat memanggil ku Leon. Usia ku 14 tahun, aku pindahan dari Jakarta. Salam kenal semuanya” kata Leon yang memperkenalkan namanya. “SALAM KENAL JUGA LEON…” kata semua anak perempuan di kelas ku. Sementara para anak laki-laki hanya terdiam.
Aku tidak melihat wajah Leon karena aku tidur, aku hanya mendengar suaranya saja.
“Wah keren banget” kata Winda. Winda pun menggoyang-goyang kan aku supaya bangun, “Mei, Mei ayo cepat bangun, kamu harus melihat wajah anak baru itu, ganteng abis loh” kata Winda yang masih menggoyang-goyang kan aku.
“Baik lah Leon, kamu silakan pilih tempat duduk sendiri” kata bu Anita. “LEON, LEON DI SINI SAJA” suara para gadis dan diikuti dengan suara kursi.
“Aduhhh, kamu ini apaan sih!. Aku kan ngantuk” kataku marah-marah. Tiba-tiba aku melihat seseorang yang berjalan ke arah ku dan sepertinya wajahnya tidak asing lagi bagi ku.
“Benar kan ganteng?” kata Winda. Aku masih terdiam. Winda melihat wajah ku yang bengong, “hei, kok kamu bengong sih?!” kata Winda. “Ah, iya ada apa?” tanya ku bingung. “Ikh, gak apa-apa udah jadi kentut” kata Winda kesal. “Hehehe, maap” kata ku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
***
Beberapa jam kemudian bel istirahat pun berbunyi dan semua murid keluar dari kelas untuk jajan.
Winda pun menarik tanganku, “ayo Mei kita keluar jajan” kata Winda. Aku mengangkat kepalaku dengan raut wajah ngantuk, “gak ah, aku masih mau tidur” kata ku dengan suara pelan. “Kalau kamu mau jajan, jajan sendiri ajah yah. Gak apa-apa kan?” kata ku. “Oh, yaudah gak apa-apa. Aku keluar dulu ya” kata Winda yang menuju ke pintu keluar kelas.
Karena masih ngantuk, aku pun melanjutkan tidur ku kembali.
“Hai” suara seseorang dari depan ku. Aku lalu mengangkat kepala ku untuk melihat siapa yang ada di depan ku. Ah, betapa kagetnya aku saat melihat orang yang ada di depan ku itu.
“Ka, kamu?” kata ku kaget.
“Hai, kamu belum membalas sapaanku tadi” kata Leon. Aku masih terdiam dan bingung. “Ah, i-iya. H-hai” kata ku.
Leon pun duduk di kursi yang ada di sebelah ku (di kursi Winda), dan terus melihat ku. Aku menyadari kalau Leon terus melihat ku makanya itu aku menundukkan kepala dan tidak mau melihat wajah Leon.
“Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu, kalau di ingat-ingat sudah 10 tahun kita tidak bertemu lagi” kata Leon. Aku kaget saat mendengar Leon memulai mengobrol, dan bahan pembicaraannya yang membuat ku kaget, “a-apa?” kata ku. “Jangan-jangan kamu sudah lupa pada ku ya?” tanya Leon. “T-tidak kok” aku mulai menundukkan kepala lagi.
Leon masih terus melihat ku. “Kamu tahu kenapa aku bisa ada di sini” kata Leon. Aku memberanikan diri memandang wajah Leon dan bertanya “Kenapa kamu ada di sini?”. Leon lebih mendekatkan wajahnya ke wajah ku hingga jaraknya semakin dekat, “karena aku ingin bertemu dengan mu” kata Leon yang menatap ku dengan tatapan yang dalam.
Aku melihat tatapan Leon yang dalam tapi aku heran kenapa Leon berkata seperti itu.
“Aku mencari mu kemana-mana tapi tidak ketemu-ketemu, sampai akhirnya aku di beritahu oleh ayah ku kalau kamu berada di Yogyakarta jadi aku langsung datang ke sini hanya untuk bertemu dengan mu” kata Leon.
Aku membuang pandangan ku. Aku tidak pernah punya pikiran kalau Leon mencari-cari aku, karena setahu ku Leon lah yang pergi meninggalkan ku. Padahal pada saat itu aku masih membutuhkannya. Saat dia pergi aku merasa kesepian dan aku terus menangis, bahkan untuk makan pun aku tidak bisa.
Untuk beberapa saat suasana begitu hening. Aku sempat menoleh ke arah Leon dan aku melihat Leon menundukkan kepalanya seperti merasa menyesal. Saat Leon melihat ke arah ku lagi, aku kembali membuang pandangan.
“Kamu marah pada ku ya?” tanya Leon. Aku masih diam, dan karena merasa perasaanku sudah tidak dapat ditahan lagi lalu aku pun dengan tiba-tiba berbalik dan menatap Leon. Aku memegang pipi Leon dengan kedua tangan ku, “k-kenapa kamu pergi meninggalkan aku?, kamu tahu tidak kalau aku kesepian tanpa kamu. Aku begitu menderita karena kepergian mu, kamu begitu jahat, jahat, jahat,…” kata ku dengan nada tinggi dan tanpa aku sadari air mata ku menetes.
Leon heran melihat ku dan menghapus air mata ku dengan tangannya, “bukannya seperti 10 tahun yang lalu?, aku selalu menghapus air mata mu setiap kamu menangis” kata Leon. Leon tersenyum kepada ku sementara aku masih menangis.
“Jangan pernah menangis lagi” kata Leon. Aku menatap Leon dengan tatapan kesedihan. Leon tersenyum manis kepadaku.
***
Ting nung ning nung, ting nung ning….” tiba-tiba bel sekolah berbunyi dan kami berdua mendengar langkah kaki para murid yang menuju ke kelas.
Aku segera melepaskan tangan ku dari pipi Leon dan menyeka air yang masih ada di pipiku, sementara Leon berdiri dan kemudian berjalan menuju tempat duduknya.
“MEI…..” teriak Winda yang berlari menuju ke arah ku dan kemudian memeluk ku. “Aduh….” Jerit ku yang tercekik. “M-maaf, aku terlalu senang” kata Winda yang melepaskan pelukannya. Aku melihat wajah winda yang begitu bahagia, “ kamu senang kenapa?” tanya ku. Winda melihat ku dengan senyuman, “aku baru saja di tembak oleh Rio” kata Winda. “Rio?” kata ku kaget. “Iya, Rio. Awalnya sih aku pikir dia menyukai kamu, tapi rupanya dia menyukai ku dan katanya kalian berdua cuma temenan” kata Winda.
Aku tersenyum melihat Winda, “emang bener aku dan dia cuma temenan, kamu sih gak percaya sama aku padahal aku udah jelasin panjang lebar ke kamu” kata ku. Winda melihat ku dan tertawa “maapin aku” kata Winda. Aku tersenyum melihat Winda “tidak apa-apa” kataku, Winda pun melihatku dan kami berdua sama-sama tertawa.
Beberapa menit kemudian guru bahasa Indonesia pun masuk ke kelas ku.
“Selamat siang anak-anak” kata bu guru. “SELAMAT SIANG BU…” jawab semua murid yang ada di kelas ku. “Baiklah hari ini kita akan belajar tentang puisi” kata bu guru. “YA….” suara semua murid yang lesu. Bu guru heran melihat semua murid. “Sebenarnya ada apa sih dengan kalian?, kenapa kalian tampak lesu?. Padahal tadi kan kalian semua sudah jajan” kata bu guru.
Seorang murid mengacungkan tangan, “ya ada apa?” tanya bu guru kepada murid yang mengacungkan tangan tersebut. “Nanti saja ya bu belajarnya”, “kenapa?” bu ugur tampak heran. “Sebenarnya bu nyawa kami belum terkumpul semua. Nyawa kami ketinggalan di kantin dan lagi beli bakso jadi pikiran kami fokus ke bakso bu” kata murid tersebut.
“AHAHAHAHA…..” semua murid yang ada di kelas tertawa.
Bu guru geram melihat tingkah laku murid itu, “kamu ini, cepat duduk” kata bu guru.
Akhirnya pelajaran pun di mulai.
***
Beberapa jam kemudian ada pengumuman dari wali kelas kalau hari ini kami pulang cepat karena ada rapat mendadak. Semua murid tampak senang dan mereka bersorak gembira, wali kelas ku heran melihat tingkah laku mereka. Memang sih banyak guru yang heran kepada kami kalau masuk ke kelas kami.
Setelah berdoa semua murid berbaris ke luar kelas dengan rapi dan tidak lupa mencium tangan bu guru. Setelah aku mencium tangan bu guru dan keluar kelas, Winda langsung menarik tanganku “ayo Mei kita pulang sama-sama” kata Winda.
Aku tidak mendengar perkataan Winda, karena aku sedang mencari-cari Leon. Winda pun mengagetkanku “hei, siapa sih yang kamu cari?” tanya Winda. “Ah iya, b-bukan siapa-siapa kok” kata ku tersenyum. “Ya sudah ayo kita pulang” kata Winda kembali menarik tanganku.
Setelah aku dan Winda sudah sampai di halaman sekolah, aku baru teringat kalau buku paket bahasa Indonesia ku ketinggalan di atas meja sementara ada tugas yang di berikan oleh bu guru tadi.
Aku tiba-tiba berhenti dan menarik tangan Winda, “loh, kok berhenti sih?” tanya Winda. “Aku harus kembali ke kelas” kata ku. “Kenapa?” tanya Winda kembali. “Buku paket bahasa Indonesia ku ketinggalan di atas meja” kata ku. Winda membulatkan bibir membentuk huruf O. “Ya udah, aku pulang duluan ya. Maaf gak bisa nemenin soalnya ada acara keluarga jadi aku harus buru-buru” kata Winda. “Iya gak apa-apa kok” kata ku tersenyum kepada Winda.
Winda berjalan menuju pintu gerbang dan ia sempat berbalik “Dah….” Teriak Winda sambil melambaikan tangannya. Aku hanya ternyum dan mengangkat tanganku saja.
Aku pun kembali ke kelas dan menuju ke meja ku. “Nah, ini dia buku yang aku cari-cari. Kenapa sih kamu harus ketinggalan?” kata ku yang berbicara pada buku bahasa Indonesia (seperti orang gila -_-).
Saat aku berjalan menuju pintu keluar kelas, tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari buku bahasa Indonesia ku. “Apa ini?” kata ku sambil mengambil sebuah kertas yang terjatuh dari buku ku. Rupanya itu sebuah surat. Aku pun membuka dan membaca surat itu.
Dari : Leon
Mei, hari ini kamu ada waktu?. Tolong datang ke taman bunga matahari yang jarak nya tidak terlalu jauh dari sekolah kita. Aku ingin kamu datang sekarang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu. Tolong datang ya aku mohon, sekarang aku sedang menunggu mu….
“Dari Leon?” kata ku kaget. “Ada apa ya?, kenapa tiba-tiba dia ingin bertemu denganku?” aku semakin heran. Aku membalik surat itu dan ada sebuah foto yang tertempel, rupanya itu foto aku dan Leon sewaktu kami berusia empat tahun. “I-ini bukanya foto sewaktu tahun baru itu ya?, kenapa dia memilikinya sementara aku tidak?, ya sudah lah aku harus cepat pergi ke taman nanti Leon keburu pulang lagi” kata ku sambil berjalan menuju ke luar kelas.
***
Aku pun berlari menuju ke taman untuk menemui Leon. Sesampai ku di taman, aku tidak melihat seorang pun. Aku menengok ke kanan dan ke kiri tapi tidak tampak seorang pun.
“Kamu sudah datang ya?, aku pikir kamu gak bakalan datang” kata Leon dari balik pohon yang ada di belakangku.
Aku pun berbalik, “kamu ini, aku pikir kamu mau mengerjai ku” kata ku kesal.
Leon tersenyum melihatku, ia pun tiba-tiba memegang pipiku dengan tangannya. “Aku tidak mungkin mengerjai mu” kata Leon.
Untuk beberapa menit kami berdua diam dan saling bertatapan.
Aku pun akhirnya tersadar dan teringat akan isi surat Leon, “oh iya, apa hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan ku?” tanya ku dengan wajah yang serius.
Leon melepaskan tangannya dari pipiku dan berjalan menuju ke bangku taman yang ada di bawah pohon. Leon duduk di bangku itu sambil memejamkan matanya seperti dia sedang merasakan tiupan angin yang sepoi-sepoi dan wangi bunga matahari, karena di sekitar taman terdapat banyak sekali bunga matahari.
Aku menghampiri Leon dan duduk di sampingnya, “kamu ini aneh sekali, kamu yang mengajak ku tapi kenapa diam saja?” tanya ku yang semakin kesal.
“Aku mengajak mu kesini memang ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu, tapi sebelum itu tutup lah dan hirup aroma bunga matahari ini” kata Leon yang masih memejamkan matanya. Aku semakin heran “apa kata mu?”. Leon pun membuka matanya “coba lah dulu” kata Leon sambil tersenyum manis.
Aku mengikuti kata Leon. Saat aku menutup mata dan menarik napas dalam-dalam, aku mencium aroma bunga matahari yang begitu wangi. Entah kenapa aku teringat, sewaktu usia ku empat tahun aku pernah pergi ke taman ini bersama Leon dan kami berdua juga duduk di bangku ini. Saat itu kami berdua pun sama-sama memejamkan mata dan menghirup aroma bunga matahari. Tanpa aku sadari, tiba-tiba saja air mataku menetes. Aku pun membuka mata ku dan menyeka air mata ku.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Leon, Leon mengambil sapu tangan dari kantong jaketnya dan ia pun melap air mataku. “Ah tidak, tidak apa-apa kok” kata ku. “Kamu teringat kejadian sepuluh tahun yang lalu bukan?” tanya Leon. “Iya” jawab ku.
Leon pun tersenyum, “kenapa kamu tersenyum?” tanya ku heran. “Aku pikir kamu sudah lupa” kata Leon. “Aku tidak mungkin lupa, itu kan …… itu kan…..” aku tidak tau mau mengatakan apa-apa lagi.
            Leon melihat ku, “itu kan apa?, kamu mau mengatakan apa?” tanya Leon. “Ah, tidak apa-apa kok” aku menundukkan kepala.
            Leon berdiri dan mengulurkan tangannya ke padaku, aku melihat Leon. “Ayo berikan tanganmu” kata Leon, ia tersenyum kepada ku. Aku pun memberikan tangan ku kepada Leon. “Ayo cepat berdiri, ada yang ingin aku tunjukkan pada mu” kata Leon menarik tanganku, aku terpaksa harus berdiri.
             “Kayaknya sebentara lagi akan turun hujan, aku akan antarkan kamu puang” kata Leon mulai berjalan tapi tetap memegang tangan ku.
Aku sempat berjalan beberapa langkah tapi kemudian berhentin. Leon menoleh ke arah ku, “kenapa kamu berhenti?” tanya Leon.
 “Kenapa kamu mengajakku ke sini?, katanya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan ku” kata ku.
Leon tersenyum manis kepada ku, “memang benar ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu tapi tidak sekarang. Tujuanku mengajakmu ke sini hanyalah untuk mengingatkanmu tentang masa kecil kita dulu” kata Leon. Dia masih saja tersenyum kepada ku.
Leon kemudian melanjutkan jalannya, “ayo kita harus segera pulang nanti keburu turun hujan lagi” kata Leon. Aku mulai melangkah tapi tangan ku berkeringat karena sejak tadi di genggam kuat oleh Leon.
***
            Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Sesampai ku di dalam kelas, Winda sudah menyambut ku dengan senyuman. Aku duduk di kursi ku. Aku melihat ke bangku Leon tapi tidak ada Leon, aku perbikiran mungkin Leon belum datang.
            Beberapa menit kemudian bel pun berbunyi. Aku melihat lagi ke bangku Leon tapi Leon belum datang, aku heran kenapa ya dia belum datang?. Aku terus beartanya-tanya di dalam hati.
            Beberapa saat setelah bel berbunyi wali kelas ku pun masuk ke kelas.
“Selamat pagi anak-anak” sapa bu Anita, semua murid berdiri “SELAMAT PAGI BU….” jawab semua murid. Bu Anita tersenyum kepada kami tapi aku melihat senyuman bu Anita itu seperti di paksa.
“Baiklah anak-anak, hari ini ada berita yang sangat mengejutkan untuk kalian” kata bu Anita. Semua murid bingung dan penasaran tentang berita yang di maksud bu Guru. Bu Anita pun memberi tahukan berita tersebut kepada kami semua dan sebenanya aku juga penasaran dengan berita itu.
“Hari ini teman kalian Leon tidak bisa berangkat sekolah” kata bu Anita, “KENAPA BU….???” tanya semua murid. Bu Anita pun melanjutkan “Leon telah pindah sekolah, tadi kedua orang tuanya sudah datang ke sekolah untuk meminta surat pindah. Mereka meminta maaf kepada pihak sekolah karena baru satu hari sekolah di sini. Mereka juga mengatakan kalau Leon hari ini akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan sekolahnya di sana” jelas bu Anita.
Semua murid yang ada di kelas termaksud aku pun kaget mendengar berita tersebut. Tiba-tiba tanpa aku sadari air mata ku menetes. Winda menoleh ke arah ku, “kamu kenapa Mei?” tanya Winda. Aku melihat Winda, “aku harus segera mengejar Leon, aku tidak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kalinya” kata ku. “Kalau begitu ayo cepat kamu kejar nanti keburu Leon nya pergi” kata Winda sambil menarik tangan ku.
Kami berdua berlari ke arah bu Anita, “bu kapan Leon pergi ke bandara?” tanya Winda. Bu Anita menoleh ke arah kami berdua “sebenarnya Leon sudah sampai di bandara” kata bu Anita.
Aku dan Winda saling bertatap-tatapan. Aku bertanya “kalau begitu bu, jam berapa dia akan berangkat dan tinggal berapa jam lagi pesawatnya lepas landas?”
“Dia akan akan berangkat jam 08.00 dan tinggal setengah jam lagi pesawatnya akan lepas landas” jawab bu Anita yang melihat jam tangannya.
Aku menunduk terdiam dan murung, Winda melihat ku yang murung. Winda kemudian memegang bahuku, aku menatap Winda dengan tatapan yang berkaca-kaca.
 “Ayo tegar lah Mei, kamu harus segera mengejar cintamu. Ingat Mei masih ada waktu” kata Winda. Mendengar perkataan dari Winda, aku pun mulai bersemangat, “bu, apa aku boleh pinjam sepeda motor ibu?” tanya ku. Bu Anita pun tersenyum “tentu saja boleh”, beliau memegang bahu ku “kejar lah cintamu Mei, dan jangan pernah putus asa dan menyerah” kata bu Anita. “Pasti bu” jawab ku dengan senyuman.
Aku pun keluar dari kelas dan menuju ke tempat parkir, kemudian aku menyalakan mesin motor dan mulai mengendarai motor menuju ke bandara. Di sepanjang jalan aku terus merasa gelisah, aku bertanya di dalam hati “apakah aku sempat sampai di bandara sebelum pesawat yang akan di naiki oleh Leon berangkat?. Bisakah aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya kepada Leon?, perasaan yang sudah lama aku pendam ini!”.
Saat di dalam perjalanan menuju ke bandara, tiba-tiba saja jalanan macet. Aku semakin panik saat melihat jam tanganku, “aduhhh, bagaimana ini?” kataku yang semakin panik.
“Aku harus segera bertemu dengan Leon, aku pasti bisa, aku pasti bisa” kataku di dalam hati.
Aku pun segera turun dari sepeda motor dan kemudian memarkirkan motor bu Anita dan mengambil kunci motor. Kemudian dengan penuh keberanian yang ku kumpulkan sejak tadi, aku menerobos kendaraan-kendaraan yang ada di depanku dengan cara berlari. Aku terus berlari dan berlari walau pun saat itu kakiku sedang sakit. Dan akhirnya aku pun sampai di bandara. Aku melihat lagi jam tangan ku, “masih ada 2 menit lagi, aku harus segera mencari Leon, aku pasti bisa”.
Aku mencari Leon ke sana kemari, tapi tidak ketemu-ketemu, “LEOOOON KAMU DIAMANA???” teriak ku yang begitu keras sehingga semua orang yang ada di bandara menengok ke arah ku.
“I-itu bukannya suara Mei” kata Leon. Leon berlari mencari sumber dari suaraku.
“Leon kamu mau kemana?, sudah saatnya untuk naik ke pesawat” kata ibu Leon. “Sebentar bu, aku akan segera kembali. Kalin naik saja duluan ke pesawat” kata Leon sambil terus berlari mencari ku.
Hiks hiks hiks…..
Aku menangis karena tidak bisa bertemu dengan Leon.
“Kenapa kamu menangis?, bukannya dulu kamu berjanji supaya tidak menangis di hadapanku?” kata Leon yang berdiri menatapku sambil tersenyum manis.
“Le-Leon…..” teriak ku. Aku pun langsung berdiri dan memelok Leon sambil menangis.
“Kenapa menangismu tambah kencang?, aku kan sudah ada di sini” kata Leon. Dia pun memelukku.
Tiba-tiba aku merasa kalau ada air yang menetes membasahi rambutku, “Leon kamu menangis?”. “Ti-tidak kok, aku hanya terharu karena bisa memelukmu” kata Leon yang mengusap air matanya. Aku memegang dan mengusap air mata Leon “dulu kamu yang selalu mengusap air mataku dikalau aku menangis, dan sekarang aku yang akan mengusap air matamu” kata ku sambil tersenyum kepada Leon.
Leon pun menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah dahi ku, kemudian mencium dahi ku.
“Le-Leon?” kata ku yang kaget.
“Sebenarnya kemarin saat aku mengajakmu ke taman itu, aku ingin mengatakan hal yang panting padamu, dan hal itu adalah tentang perasaan ku” kata Leon yang menatapku dalam “Mei, aku mencintamu”. “Sejak dulu, sejak kita kecil aku mencintaimu dan akan terus mencintaimu. Aku tidak bisa membohongi perasaanku ini Mei, karena kamu lah orang yang bisa membuatku tersenyum sejak dulu hingga sekarang” kata Leon.
“Leon!?” aku kaget saat Leon mengatakan itu kepadaku. Kemudian aku pun tersenyum “aku juga mencintaimu” dan aku kembali memeluk Leon.
“Syukurlah” kata Leon.
“Leon, apakah kamu akan pergi?” tanya ku dengan raut wajah yang sedih. Leon malah tertawa mendengar pertanyaan ku itu. “Kenapa kamu malah tertawa?, tidak lucu tahu” kata ku dengan cemberut. “Tidak kok, aku tidak jadi pergi setelah tahu kalau kamu juga mencintaiku” kata Leon sambil tersenyum manis kepadaku.
“Tunggu sebentara ya Mei”, “iya…”.
Drrrrrrttt...drrrrrttt...
“Halo”, “Halo ibu, aku tidak jadi ikut ke Australia, tapi aku berjanji akan ke sama jika ada libur semester” kata Leon. “Oh begitu yah, ya sudah kalau itu pilihanmu, ibu tidak akan memaksamu kok. Bersemangatlah dan melajar yang giat” kata ibu Leon. Leon pun menutup teleponnya.
“Sekarang kita akan selalu bersama, dan aku akan selalu ada untuk mu” kata Leon sambil tersenyum kepada ku.
Aku merasa heran dengan senyuman Leon itu, “senyuman apa itu?, kamu tidak pernah tersenyum seperti itu”. “Owh, ini senyuman spesial untuk mu” kata Leon. “Begitu ya, kalau begitu aku juga akan tmemberikan senyuma spesial ku untuk mu” kata ku. Aku pun tersenyum untuk Leon.
Dan kami berdua pun berjalan keluar bandara sambil bergandengan tangan.
“Aku merasa hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku karena aku telah menemukan cintaku, aku sekarang akan membuat mimpi baru lagi karena mimpiku yang dulu telah terkabul walau pun aku harus bersabar untuk waktu yang cukup lama. Untuk yang pertama kalinya aku melihat diantara ribuan tetesan air hujan dan langit yang mendung aku melihat cahaya cinta yang begitu terang. Cahaya itu menyinariku dengan manis dan lembut”.
TAMAT 

1 komentar:

  1. Walaupun ini cerpen yg q tulis pas SMP, tapi semoga kalian suka. Dan tolong komentarnya...

    BalasHapus