TUGAS UTS
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas UTS mata kuliah
Dosen : Ibu L. F. Pesiwarissa, S.Pd., M.A.
Disusun Oleh :
RAMIATI RAMAN
NIM : 2015-35-043
KELAS : A
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah untuk
tugas UTS mata kuliah AnalisisKesalahan
Berbahasa ini dengan baik meskipun banyak
kekurangan di dalamnya. Dan juga penulis berterima kasih pada ibu L. F.
Pesiwarissa, S.Pd., M.A. selaku Dosen mata kuliah AnalisisKesalahan Berbahasa
yang telah memberikan tugas ini.
Makalah ini ditulis dari hasil
penyusunan data-data yang diperoleh dari buku panduan serta informasi dari media massa yang
berhubungan dengan judul makalah. Berisi tentang jawaban dari soal-soal UTS Analisis Kesalahan Berbahasa yang diberikan oleh dosen mata
kuliah tersebut.
Penulis mengharapkan, melalui
membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita. Memang makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dari pembaca demi
perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Ambon, Desember 2016
PENULIS
DAFTAR ISI
Halaman
Judul ......................................................................................................................... i
Kata
Pengantar ........................................................................................................................ ii
Daftar
Isi ................................................................................................................................. iii
Bab
I : Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2.
Rumusan Masalah .................................................................................................. 1
1.3.
Tujuan Penulisan..................................................................................................... 1
Bab
II : Pembahasan
2.1.Jawaban Soal Analisis Kesalahan Berbahasa .......................................................... 2
2.1.1. Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar................................................ 2
2.1.2. Jenis Batasan Kesalahan Menurut Corder.................................................. 3
2.1.3. Latar Belakang Analisis Kesalahan Berbahasa.......................................... 3
2.1.4. Jenis-jenis Kesalahan Berbahasa................................................................ 3
2.1.5. Analisis Gambar......................................................................................... 11
2.1.6. Konsep Analisis Kesalahan Berbahasa....................................................... 14
Bab
III : Penutup
3.1.Kesimpulan
............................................................................................................. 15
Daftar
Rujukan ........................................................................................................................ 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Latar
belakang dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengerjakan tugas take home untuk UTS mata kuliah Analisis
Kesalahan Berbahasa yang diberikan oleh Dosen mata kuliah tersebut. Tugas yang
diberikan adalah menjawab beberapa pertanyaan serta menganalisis tujuh
gambar yang terdapat kesalahan berbahasa di dalamanya.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diketahui adalah :
1)
Seperti apakah Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar itu ?
2)
Apa
sajakah jenis batasan
kesalahan menurut Corder ?
3)
Apa yang melatarbelakangi analisis kesalahan berbahasa ?
4)
Kesalahan berbahasa apa saja yang
terdapat di dalam gambar ?
5)
Bagaimanakah konsep analisis
kesalahan berbahasa ?
1.3.
Tujuan Penulisan
Tujuan
dari penulis membuat makalah ini adalah :
1)
Berbahasa
Indonesia yang Baik dan Benar
2)
Jenis
Batasan Kesalahan Menurut Corder
3)
Latar
Belakang Analisis Kesalahan Berbahasa
4)
Jenis-jenis
Kesalahan Berbahasa
5)
Analisis
Gambar
6)
Konsep
Analisis Kesalahan Berbahasa
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Jawaban Soal Analisis Kesalahan
Berbahasa
Di dalam soal UTS analisis kesalahan
berbahasa yang di berikan, terdapat enam soal yang satu di antaranya tentang
analisis gambar. Berikut adalah jawaban dari setiap soal tersebut :
2.1.1.
Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar
v
Bahasa Indonesia yang Baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang
digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam
situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di tempat arisan,
dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan
akrab yang tidak terlalu terikat oleh patokan. Dalam situasi resmi, seperti
dalam kuliah, dalam seminar, dalam sidang DPR, dan dalam pidato kenegaraan
hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi, yang selalu memperhatikan
norma bahasa.
v
Bahasa Indonesia yang Benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang
digunakan sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah
bahasa Indonesia itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah
penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran.
Jika ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata diperhatikan dengan
saksama, dan penataan penalaran ditaati dengan konsisten, pemakaian bahasa
Indonesia dikatakan benar. Sebaliknya, jika kaidah-kaidah bahasa itu kurang
ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar.
v
Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa
Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan
sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pemakaian lafal daerah,
seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia pada
situasi resmi sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan memuasken
bukanlah lafal bahasa Indonesia.
2.1.2.
Jenis Batasan Kesalahan Menurut Corder
Corder menyebut tiga
kategori dasar kesalahan, antara
lain sebagai berikut :
1) Kesalahan Presistematik : kesalahan yang muncul ketika siswa mencoba
mengatasi persoalan penggunaan bahasa
2) Kesalahan Sistematis : kesalahan yang muncul apabila siswa telah memiliki
kompetensi bahasa tertentu / bahasa sasaran
3) Kesalahan Pascasistematis : kesalahan yang dibuat
siswa ketika mempraktekkan bahasa
2.1.3.
Latar Belakang Analisis Kesalahan Berbahasa
Dalam konteks ini hal yang melatar belakangi kesalahan
itu adalah “ pergunakanlah bahasa indonesia yang baik dan benar” kemudian
dihubungkan dengan pembelajaran bahasa indonesia di sekolah, itulah latar belakang yang utama untuk analisis kesalahan bahasa.
Penyimpangan bahasa yang diukur berada pada tataran (wilayah)
fonologi,morfologi,sintaksis,semantik dan wacana yang dihubungkan dengan
faktor-faktor penentu dalam komunikasi.
2.1.4.
Jenis-jenis Kesalahan Berbahasa
Terdapat jenis-jenis dari kesalahan
berbahasa. Antara lain sebagai berikut :
1)
Kesalahan Acuan
Di dalam bidang makna, disinggung pula apa yang disebut
makna acuan (Pateda, 1986). Kesalahan acuan banyak
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan tertentu kita meminta
ini, yang dibawa itu, kita meminta dibelikan celana panjang yang dibeli celana
pendek. Singkatnya, kesalahan acuan berkaitan dengan realisasi benda, proses,
atau peristiwa yang tidak sesuai dengan acuan yang dikehendaki pembicara atau
penulis. Untuk menghindari kesalahan acuan tidak terjadi, sebaiknya pesan yang
kita sampaikan harus jelas dan tidak menimbulkan berbagai tafsiran. Misalnya,
kalau kita mengatakan kursi kuliah akan berbeda realisasinya kalau kita hanya
mengatakan kursi, karena kata kursi bersifat umum. Dapat kita katakan, makin
khusus yang dikatakan makin jelas pesan yang disampaikan dan makin kecil
kesalahan yang dibuat si pendengar.
2)
Kesalahan Register
Kesalahan register berhubungan dengan variasi bahasa yang
berkaitan dengan pekerjaan seseorang. Dengan demikian kesalahan register,
register error adalah kesalahan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan
seseorang. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata operasi. Bagi seorang dokter,
kata operasi selalu dihubungkan dengan usaha menyelamatkan nyawa seseorang
dengan jalan membedah tubuh atau bagian tubuh. Misalnya, kita dengar dari
kalimat dokter yang berbunyi “operasi
usus buntu anak Bapak, insyallah akan dilaksanakan besok”, terdengar
pula kalimat, “operasi jantung Pak Koko berjalan lancar ”. bagi seorang petugas
pemerintahan, kata operasi biasanya dihubungkan dengan pemungutan pajak,
penertiban keamanan, ajakan membersihkan selokan, sehingga muncul kalimat
“operasi IPEDA akan dilaksanakan hari Jumat”. Adapula kalimat, “operasi
pembersihan sampah berhasil dengan baik karena ada partisipasi para pegawai”.
Bagi seorang militer, kata operasi selalu dikaitkan dengan usaha penumpasan
musuh sehingga munculah kalimat, “operasi kami kelambung pertahanan musuh
berhasil baik”.
3)
Kesalahan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak mungkin hidup
sendiri dalam kenyataan seperti itu, ia harus berkomunikasi dengan orang lain.
Dalam sosial linguistik dikenal variasi bahasa yang dikaitkan dengan latar
belakang sosialpembicara dan pendengar. Yang dimaksud dengan latar belakang
sosial disini, misalnya yang berhubungan dengan jenis kelamin, pendidikan,
umur, tempat tinggal, dan jabatan. Latar belakang sosial ini mengharuskan kita
untuk pandai-pandai memilih kata kalimat yang sesuai dengan latar belakang
orang yang diajak bicara. Kesalahan memilih kata yang dikaitkan dengan status sosial
dengan orang yang diajak berbicara menimbulkan kesalahan yang disebut kesalahan
sosial, ‘social errors’ (Pateda, 1989:41).
4)
Kesalahan Tekstual
Kesalahan tekstual, ‘textual errors’ muncul sebagai akibat
salah menafsirkan pesan yang tersirat dalam kalimat atau wacana. (Pateda,
1989:42). Jelas disini bahwa kesalahan tekstual mengacu pada jenis kesalahan
yang disebabkan oleh tafsiran yang keliru terhadap kalimat atau wacana yang
kita dengar atau yang kita baca. Misalnya kalimat “anak dokter Ahmad Ali sakit”
memperlihatkan berbagai kemungkinan tafsiran. Seandainya yang dimaksud ada dua
orang yang sakit dan orang lain berpendapat bahwa ada empat orang yang sakit
maka tafsiran orang lain itu dapat digolongkan ke dalam kesalahan tekstual.
5)
Kesalahan Penerimaan
Kesalahan penerimaan, ‘receptive errors’, biasanya
berhubungan dengan keterampilan menyimak atau membaca. Dihubungkan dengan
menyimak kesalahan penerimaan disebabkan oleh, (1) pendengar yang kurang
memperhatikan pesan yang disampaikan oleh pembicara, (2) alat dengar pendengar,
(3) suasana hati pendengar, (4)
lingkungan pendengar, misalnya kebisingan, (5) ujaran yang disampaikan
tidak jelas, (6) kata atau kalimat yang di gunakan pembicara menggunakan makna
ganda, (7) antara pembicara dan pendengar tidak saling mengerti, dan (8)
terlalu banyak opesan yang disampaikan sehingga sulit diingat oleh si
pendengar.
6)
Kesalahan Pengungkapan
Kesalahan pengungkapan, ‘expressive errors’, berkaitan
dengan pembicara. Pembicara atau penulis salah mengungkapkan atau menyampaikan
apa yang dipikirkannya, dirasakannya, atau yang diinginkannya. Misalnya petugas
bandar udara mengungkapkan fifteen, padahal yang dimaksud fifty. Akibat salah
pengungkapan itu pilot segera menukikkan pesawat nya dan tentu saja kecelakaan
tidak dapat dihindari.
7)
Kesalahan Perorangan
Kesalahan perorangan, ‘errors of individuals’, jelas
menggambarkan yang dibuat oleh seseorang dan diantara kawan-kawannya sekelas.
Kalau kita mengajar, pelajaran yang kita berikan tentunya ditunjukan untuk
sekelompok terdidik yang terdapat dalam sebuah kelas namun yang belajar
sesungguhnya individu-individu itu sendiri. misalnya, semuanya menulis huruf
kapital diawal kalimat dan hanya seorang yang tidak. Kesalahan seperti ini
disebut kesalahan perorangan. Memperbaiki kesalahan perorangan tentu bersifat
perorangan pula.
8)
Kesalahan Kelompok
Mempelajari kesalahan kelompok, ‘errors of group’, hanya
berarti apabila kelompok itu homogen, misalnya menggunakan bahasa ibu yang sama
dan semuanya mempunyai latar belakang yang sama, baik intelektual maupun
sosial. Murid yang menggunakan bahasa yang berbeda-beda, kesalahannya lebih
banyak daripada murid-murid yang homogen. Guru yang menyuruh si terdidik
berbicara, membaca atau menulis pasti akan menemukan kesalahan. Kesalahan itu,
ada yang berulang-ulang dibuat oleh kelompok. Kesalahan seperti itu, disebut
kesalahan kelompok.
9)
Kesalahan Menganalogi
Kesalahan menganalogi, ‘errors of overgeneralisation or
analogycal errors’ adalah sejenis kesalahan pada si terdidik yang menguasasi
suatu bentuk bahasa yang dipelajari lalu menerapkannya dalam konteks, padahal
bentuk itu tidak dapat diterapkan. Si terdidik melakukan proses pemukul rataan,
tetapi proses pemukulrataan yang berlebihan. Si terdidik menggunakan kata atau
kalimat yang berpola pada kata atau kalimat yang didengarnya padahal bentuk itu
tidak dapat diterapkan. Kesalahan dengan jalan menganggap kata anggota,
sentosa, teladan berubah menjadi anggauta, sentausa, tauladan, termasuk
kesalahan menganalogi.
10) Kesalahan Transfer
Kesalahan transfer, ‘transfer errors’ terjadi apabila
kebiasaan-kebiasaan pada bahasa pertama diterapkan pada bahasa yang dipelajari.
Misalnya, dalam bahasa Indonesia tidak mempunyai bunyi /Ѳ/ seperti dalam kata
inggris “Thank, think”. Orang Indonesia sering menggantikan bunyi tadi dengan
/t/ atau /s/. Proses penggantian semacam ini yang disebut transfer (Pateda,
1989:45). Corder (dalam Allen dan Corder. Ed. 1974:130) berkata:
“this
observation has led to the widely accepted theory of transfer which states that
a learner of a second language transfers into his performance in the second
language the habits of his mother-tounge”.
11) Kesalahan Guru
Kesalahan guru sebenarnya berhubungan dengan teknik dan
metode pengajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Kesalahan guru,
‘teaching-induced’ adalah kesalahan yang dibuat si terdidik karena metode atau
bahan yang diajarkan salah. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat sisipan
–el- dan –er-. Guru yang kurang hati-hati mengatakan, sisipan –el- dan –er-
dapat di letakan pada beberapa kata yang dikiranya mungkin. Itu sebabnya ia
berkata, sisipan –el- terdapat pada kata belebas dan gelas, sisipan –er-
terdapat pada kata beras, dan sisipan –em- terdapat pada pemakai.
12) Kesalahan Lokal
Kesalahan lokal, ‘local errors’ adalah kesalahan yang tidak
menghambat komunikasi yang pesannya diungkapkan dalam sebuah kalimat. Menurut
Valdman (1975) yang dikutip oleh Ruru dan Ruru (1985:2), kesalahan lokal adalah
suatu kesalahan lungistis, ‘linguistic errors’ yang menyebabkan suatu bentuk
‘form’ atau struktur dalam sebuah kalimat tampak canggung, tetapi bagi seorang
penutur yang mahir bahasa asing hampir tidak ada kesulitan untuk mengerti apa
yang dimaksud dalam kalimat itu.
13) Kesalahan Global
Kesalahan global, ‘global errors’ adalah kesalahan karena
efek makna seluruh kalimat (Norrish, 1983:127). Kesalahan jenis ini menyebabkan
pendengar atau pembaca salah mengerti suatu pesan atau menganggap bahwa suatu
kalimat tidak dapat dimengerti. Valdman (1975) yang dikutip Ruru dan Ruru
(1985:2) mengadakan modifikasi terhadap batasan yang dikemukakan diatas.
Valdman mendefinisikan kesalahan global sebagai kesalahan komunikatif yang
menyebabkan seorang penutur yang mahir dalam suatu bahasa asing, salah tafsir
terhadap pesan lisan atau yang tertulis.
v
Berdasarkan komponen bahasa,
kesalahan berbahasa dikomponenkan menjadi:
(a)
Kesalahan pada
tataran fonologi,
Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi bahasa Indonesia
antara lain: fonem, diftong, kluster dan pemenggalan kata. Sumber kesalahan itu terdapat pada tataran berikut :
1.
Fonem /a/ diucapkan menjadi /e/.
2.
Fonem /i/
diucapkan menjadi /e/.
3.
Fonem /e/ diucapkan menjadi /é/.
4.
Fonem /é/ diucapkan menjadi /e/.
5.
Fonem /u/ diucapkan menjadi /o/.
6. Fonem /o/ diucapkan menjadi /u/.
7. Fonem /c/ diucapkan menjadi /se/.
8. Fonem /f/ diucapkan menjadi /p/.
9. Fonem /k/ diucapkan menjadi /?/ bunyi hambat glotal.
10. Fonem /v/ diucapkan menjadi /p/.
11. Fonem /z/
diucapkan menjadi /j/.
12. Fonem /z/
diucapkan menjadi /s/.
13. Fonem /kh/ diucapkan menjadi /k/.
14. Fonem /u/ diucapkan/dituliskan menjadi /w/.
15. Fonem /e/
diucapkan menjadi /i/.
16. Fonem /ai/ diucapkan menjadi /e/.
17. Fonem /sy/ diucapkan menjadi /s/.
18. Kluster /sy/ diucapkan menjadi /s/.
19. Penghilangan fonem /k/.
20. Penyimpangan pemenggalan kata.
1)
Kesalahan Ucapan adalah kesalahan
mengucapkan kata sehingga menyimpang
dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan makna. Contoh :
- Enam ====> anam,
anem
- Saudara ====> sudara,
sodara
2)
Kesalahan Ejaan adalah kesalahan
menuliskan kata atau kesalahan dalam
menggunakan tanda baca. Contoh :
- Tuhan Yang Mahakuasa ====> Tuhan Yang Maha Kuasa
(b)
Kesalahan pada
tataran morfologi,
Kesalahan Morfologi Kesalahan morfologi adalah kesalahan
memakai bahasa disebabkan salah memilih afiks, salah menggunakan kata ulang,
salah menyusun kata majemuk, dan salah memilih bentuk kata (Tarigan dikutip
oleh Yuniarti, 2006:12). Sedangkan Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006:12)
menyatakan bahwa kesalahan morfologi adalah kesalahan pada bidang tata bentuk
kata. Hal ini menyangkut masalah kosa kata. Kesalahan morfologi juga menyangkut
kesalahan penggunaan afiks, kesalahan penggunaan kata ulang, dan kesalahan kata
majemuk. Contoh Kesalahan Morfologi:
1)
Kesalahan afiks Ditulis
Seharusnya Ayah berkerja sebagai buruh bangunan. Ayah bekerja sebagai buruh
bangunan. Kakak sedang menyuci piring. Kakak sedang mencuci piring. Tiara
sedang mensapu halaman. Tiara sedang menyapu halaman.
2)
Kesalahan kata ulang Ditulis
Seharusnya Kayu itu dipotong semeter-meter. Kayu itu dipotong semeter-semeter.
Kami berlari2 di jalan. Kami berlari-lari di jalan. Kami sekali-kali menoleh ke
belakang. Kami sekali-sekali menoleh ke belakang.
3)
Kesalahan penulisan kata
majemuk Ditulis Seharusnya Nikita di rawat di rumahsakit. Nikita dirawat di
rumah sakit. Kakak membeli sapu tangan baru. Kakak membeli saputangan baru.
Mata hari sangat panas. Matahari sangat panas.
(c)
Kesalahan pada tataran
sintaksis.
Kesalahan Sintaksis Tarigan (dikutip oleh Yuniarti,
2006:13) menyatakan bahwa kesalahan sintaksis adalah kesalahan berbahasa
ditinjau dari segi kalimat, seperti kesalahan menyusun kalimat, kesalahan
penggunaan konjungsi, menggunakan kalimat yang tidak efektif, dan menghilangkan
bagian kalimat tertentu. Sedangkan kesalahan sintaksis menurut Pateda (dikutip
oleh Yuniarti, 2006:13) adalah sebagai berikut. Kesalahan sintaksis adalah
kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan kalimat, yaitu kalimat yang strukturnya
tidak baku, kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang digunakan
dalam kalimat tidak tepat, kontaminasi kalimat, kalimat mubazir, kesalahan
pemakaian kata serapan dalam kalimat, dan kalimat yang tidak logis.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesalahan
sintaksis adalah kesalahan yang berhubungan dengan kesalahan pada kalimat.
Kesalahan tersebut misalnya kesalahan pada struktur kalimat, kalimat tidak
efektif atau tidak jelas, kalimat tidak logis dan kesalahan menggunakan kata
serapan. Contoh Kesalahan Sintaksis:
1)
Kesalahan frasa Ditulis
Seharusnya ini malam malam ini itu orang orang itu ini hari hari ini
2)
Kesalahan klausa Ditulis
Seharusnya Jangan penjelasannya panjang lebar. Penjelasannya tidak boleh
panjang lebar. Rudi punya robot mainannya sudah rusak. Robot mainan Rudi sudah
rusak.
3)
Kesalahan kalimat Ditulis
Seharusnya Bagi kita diwajibkan membayar uang pendaftaran lomba. Kita
diwajibkan membayar uang pendaftaran lomba Dia tidak hadir oleh karena
disebabkan dia sakit. Dia tidak hadir karena sakit. Pembuatan tape itu saya
dibantu oleh ibu saya. Dalam pembuatan tape itu, saya dibantu oleh ibu.
(d)
Kesalahan pada
tataran semantik.
Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang
berhubungan dengan makna atau struktur makna. Sehubungan dengan analisis
kesalahan berbahasa yang berkaitan dengan bidang semantik, Tarigan mengemukakan
kesalahan berbahasa yang mungkin terjadi di bidang semantik adalah seperti
berikut:
1)
Adanya Penerapan Gejala Hiperkorek.
Gejala hiperkorek adalah suatu bentuk yang sudah betul lalu
dibetul-betulkan lagi dan akhirnya menjadi salah. Misalnya, Syaratdijadikan
sarat ’ atau sebaliknya, padahal kedua kata itu masing-masing mempunyai arti
yang berbeda. Syarat ‘ketentuan/aturan’sarat ‘penuh’.
Contoh
dalam kalimat:
-
Kita harus mengikuti syarat itu.
-
Perahu itu sarat muatan.
Syah dijadikan sah atau sebaliknya, padahal kedua kata
tersebut masing-masing mempunyai makna yang berbeda. Syah‘raja’ sedangkan sah
’sesuai dengan aturan’. Jadi, tidak dapat dipertukarkan penggunaannya. Contoh dalam
kalimat:
-
Tahun depan dia akan dinobatkan
sebagai Syah di negeri seberang.
-
Dia belum sah sebagai mahasiswa S1
di universitas itu.
2)
Gejala Pleonasme
Gejalan
pleonasme adalah suatu penggunaan unsur-unsur bahasa secara berlebihan. Contoh:
-
Lukisanmu sangat indah sekali.
Seharusnya:Lukisanmu sangat indah atau indah sekali.
-
Dia bekerja demi untuk
keluarganya. Seharusnya: Dia bekerja demi keluarganya, atau untuk keluarganya.
2.1.5.
Analisis Gambar
1.
Gambar pertama
: pada gambar pertama terlihat tulisan “GLORY. MELAYANI : NASI BUNGKU,
NASI KOTAK, SNACK. SIAP ANTARA”.
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada
gambar pertama, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata snack dan penulisan
yang menggunakan huruf kapital pada keseluruhan kata.
Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa pada tataran sintaksis yaitu pada penggunakan kata yang tidak sesuai dan morfologi pada
penggunaan huruf kapital pada semua kata.
Jadi kata snack merupakan kata
dari bahasa asing. Pada kalimat di atas, kata digunakan secara utuh dan tidak
diesuaiakan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Kesalahan juga terdapat pada
penggunaan huruf kapital. Huruf kapital hanya digunakan pada kata yang berada
di awal kalimat, penulisan nama, kota, dan lain sebagainya. Tetapi pada kalimat
di atas menggunakan huruf kapital pada semua katanya.
Kesalahan ini terjadi karena
kebiasaan penggunaan bahasa Asing yang digabungkan dengan bahasa Indonesia
setiap kali bertutur sehingga terbawa-bawa ketika menulis sesuatu yang
menggunakan bahasa Asing. Alasan yang logis hingga terjadinya kesalahan ini
adalah kesalahan pada pengetikan atau bisa juga yang membuat kalimat tersebut
tidak mengetahui kaidah dalam kepenulisan.
2. Gambar kedua : pada gambar kedua terlihat
tulisan “PERIVATE Bahasa Inggris. Satu Bulan Bisa
Berkomunikasi”.
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada
gambar kedua, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata perivate dan penggunaan huruf kapital. Kesalahan
tersebut merupakan kesalahan bahasa pada tataran fonologi yaitu pada penambahan fonem dan morfologi pada penggunaan huruf kapital yang tidak
sesuai.
TIDAK BAKU BAKU
perivate ====> perivat
Jadi, perivate merupakan bentuk tidak
baku dan bentuk bakunya yaitu pervat
maka terjadi penambahan fobem pada fonem /e/ sehingga membuat kata tidak memiliki makna, karena
kata perivat memiliki makna pribadi. Penggunaan huruf kapital pada
kalimat di atas juga sama seperti gambar yang pertama, penggunaanya atau
penempatannya tidak tepat.
Kesalahan ini terjadi karena
kebiasaan dari penutur dan penggunaan huruf kapitalnya juga sama seperti pada
gambar pertama yaitu karena kesalahan pada penulisan.
3.
Gambar ketiga :
pada gambar ketiga terlihat tulisan
“Jawablah pertanyaan berikut dengan BENAR
dan TEPAT”
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada
gambar ketiga, dapat dilihat bahwa kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada
kata TEPAT.
Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam sintaksis karena kata BENAR
dan TEPAT memiliki makna yang
sama.
Jadi, kata BENAR dan TEPAT karena
memiliki makna yang sama tidak perlu ditulis keduanya sekaligus sehingga
menimbulkan mubazir pada kata.
Kesalahan ini terjadi karena
kebiasaan sering menggunakan kedua kata tersebut sekaligus. Dan pada gambar
ketiga juga terlihat siswa yang menjawab pertanya-pertanya dengan jawaban benar dan tepat. Hal terjadi karena kesalah pengertian siswa atau siswa
tersebut tidak paham dan tidak mengetahui jawaban dari pertanyaa tersebut.
4.
Gambar keempat
: pada gambar keempat terlihat tulisan “MOHON ANTRI. ENTRY PLEASE”
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada
gambar keempat, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata ENTRY. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam semantik yaitu pada penempatan kata yang tidak memiliki makna. Jadi kata
ENTRY tidak memiliki makna karena
kata tersebut tidak terdapat di dalam kamus.
Kesalahan yang terdapat pada gambar
ketiga tersebut terjadi karena yang membuat kalimat hendak membuat kalimat yang
memiliki makna pada kalimat bahasa Inggris yang sama dengan makna pada bahasa
Indonesia “MOHON ANTRI”. Tetapi kata yang digunakan sesai tetapi tidak memiliki
makna.
5. Gambar kelima : pada gambar kelima terlihat tulisan “Daftar Menu
Makanan. Prett Ciken+nasi = 8000. Kulit Ciken = 3000. Ceker Ciken = 10000”
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada
gambar keempat, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata Ciken
dan Prett . Kesalahan tersebut
merupakan kesalahan bahasa dalam tataran
fonologi yaitu pada kurangnya fonem pada kedua kata tersebut dan sintaksis pada penempatan
kata yang tidak sesuai. Contoh :
TIDAK BAKU BAKU
Ciken ====> Chicken
Prett ====> Fried
Jadi Ciken dan Prett merupakan bentuk tidak baku dan bentuk bakunya yaitu Chicken
dan Fried maka terjadi
perubahan dan kurangnya pada fonem /h/ dan /c/ pada kata Ciken yang harusnya Chicken
dan fonem /f/, /i/ dan /d/ pada kata Prett yang harusnya Fried.
Terjadi juga penempatan kata yang tidak sesuai, yaitu kata Ciken (Chicken) yang merupaka kata dalam bahasa Inggris di gabungkan
dengan bahasa Indonesia yaitu pada kalimat “Kulit
Ciken dan Ceker Ciken”.
Kesalahan ini dapat terjadi karena
kebiasaan dari penutur yang menggunakan bahasa asing dan digabungkan dengan
bahasa Indonesia. Dan pembuat kalimat tersebut menulis kalimat bahasa Inggris Prett Ciken yang disesuaikan dengan apa
yang dilisankan, sedangkan bahasa Inggris memiliki tulisan yang berbeda dengan
apa yang dilisankan.
6. Gambar keenam : pada gambar keenam terlihat tulisan “Dicari
Karyawan Fart Time”
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada
gambar kedua, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata Fart. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam tataran fonologi yaitu pada perubahan fonem. Contoh :
TIDAK BAKU BAKU
Fart ====> Part
Jadi kata Fart dikatakan tidak baku dan kata bakunya adalah Part yang
memiliki makna sebagian. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam fonologi
yaitu pada perubahan fonem /p/ pada
kata Fart.
7. Gambar ketujuh : pada gambar ketujuh terlihat tulisan “WASPALAH!
Dimana ada KESEMPATANI. Disitu ada DANA UMUM”.
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada
gambar ketujuh, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata Dimana,
Disitu, dan DANA UMUM.
Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam morfologi yaitu pada penggabungan kata dan sintaksis yaitu penggunaan kata yang tidak tepat. Contoh :
TIDAK BAKU BAKU
dimana ====> di
mana
disitu ====> di
situ
Jadi dimana dan
disitu dikatakan tidak baku
karena kata di dan mana
serta di dan situ yang harusnya dipisah tetapi pada kalimat di atas
digabung. Maka yang benar adalah di mana
dan di situ. Kesalahan ini masuk ke dalam tataran morfologi tenatng
pembentukan kata. Sedang pada kata DANA
UMUM merupakan kesalahan sintaksis yaitu pada penempatan kata tidak tepat
sehingga makna dari keseluruhan kalimat juga berubah.
Kesalahan tersebut terjadi karena
kalimat yang terdapat pada gambar termasuk Meme
atau pelesatan dari peribahasa atau kata-kata mutiara. Kesalahan penulisan juga
ada yaitu pada kata dimana dan disitu, kesalahan ini terjadi karena
pembuat meme bias jadi tidak mengetahui tentang kaidah penulisan bahasa
Indonesia.
2.1.6.
Konsep Analisis Kesalahan Berbahasa
Bahasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia,
sebab bahasa merupakan alat pemersatu antara satu dengan yang lainnya, mulai
dari tingkat skala kehidupan yang paling kecil keluarga, masyarakat, hingga ke
skala yang paling besar kehidupan bernegara.
Tapi tidak menutup kemungkinan akan
terjadi kesalahan berbahasa, baik ketika berkomunikasi ataupun ketika sedang
menulis sesuatu. Maka dari itulah perlu dilakukannya analisis kesalahan
berbahasa agar kita lebih mengetahui tentang kaidah bahasa Indonesia serta
seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu.
BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dikemukakan oleh Corder bahwa yang dimaksud dengan
kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini
bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga merupakan tanda kurang sempurnanya
pengetahuan dan penguasaan terhadap kode. Si pembelajar bahasa belum
menginternalisasikan kaidah bahasa (kedua) yang dipelajarinya.
Istilah kesalahan berbahasa memiliki
pengertian yang beragam. Kesalahan berbahasa adalah penyimpangan – penyimpang yang
dilakuan oleh seseorang secara sistematis dan konsisten. Menurut Djargo Tarigan (1997:29) kesalahan
berbahasa adalah penggunaan bahasa secara lisan maupun tulisan yang menyimpang
dari faktor-faktor penentu berkomunikasi dan kaidah bahasa.
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa
Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan
sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pemakaian lafal daerah,
seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia
pada situasi resmi sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan memuasken
bukanlah lafal bahasa Indonesia.
Berdasarkan komponen bahasa, kesalahan berbahasa
dikomponenkan menjadi:
(a) kesalahan pada tataran fonologi.
(b) kesalahan pada
tataran morfologi.
(c) kesalahan pada tataran sintaksis.
(d) kesalahan pada tataran semantik.
(e) kesalahan pada tataran reduplikasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Pateda, Mansoer.
1989. Analisis Kesalahan. Flores: Nusa Indah.
Ainun, Salimah. 2010. “Sekilas Perubahan Bahasa-bahasa di
Indonesia” (Online). http://bahasa.kompasiana.com/2011/12/14/sekilas-perubahan-bahasa-bahasa-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 29 November 2016.
Rama, Berbagi. 2012. “Contoh Analisis Kesalahan Berbahasa” (Online). http://ramaberbagi.blogspot.com/2012/03/contoh-analisis-kesalahan-berbahasa.html. Diakses pada tanggal 29 November 2016.

