Winie The Pooh

My Widget

Kamis, 27 Juli 2017

MAKALAH ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA



TUGAS UTS
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas UTS mata kuliah
Dosen : Ibu L. F. Pesiwarissa, S.Pd., M.A.

Disusun Oleh :
RAMIATI RAMAN
NIM : 2015-35-043
KELAS : A

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
2016

 KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah untuk tugas UTS mata kuliah AnalisisKesalahan Berbahasa ini dengan baik meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Dan juga penulis berterima kasih pada ibu L. F. Pesiwarissa, S.Pd., M.A. selaku Dosen mata kuliah AnalisisKesalahan Berbahasa yang telah memberikan tugas ini.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data yang diperoleh dari buku panduan  serta informasi dari media massa yang berhubungan dengan judul makalah. Berisi tentang jawaban dari soal-soal UTS Analisis Kesalahan Berbahasa yang diberikan oleh dosen mata kuliah tersebut.
Penulis mengharapkan, melalui membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita. Memang makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.


Ambon, Desember 2016

   PENULIS

DAFTAR ISI
Halaman Judul ......................................................................................................................... i
Kata Pengantar ........................................................................................................................ ii
Daftar Isi ................................................................................................................................. iii
Bab I : Pendahuluan
1.1. Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................................. 1
1.3. Tujuan Penulisan..................................................................................................... 1
Bab II : Pembahasan
2.1.Jawaban Soal Analisis Kesalahan Berbahasa .......................................................... 2
2.1.1.      Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar................................................ 2
2.1.2.      Jenis Batasan Kesalahan Menurut Corder.................................................. 3
2.1.3.      Latar Belakang Analisis Kesalahan Berbahasa.......................................... 3
2.1.4.      Jenis-jenis Kesalahan Berbahasa................................................................ 3
2.1.5.      Analisis Gambar......................................................................................... 11
2.1.6.      Konsep Analisis Kesalahan Berbahasa....................................................... 14
Bab III : Penutup
3.1.Kesimpulan ............................................................................................................. 15
Daftar Rujukan ........................................................................................................................ 16

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang
Latar belakang dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengerjakan tugas take home untuk UTS mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa yang diberikan oleh Dosen mata kuliah tersebut. Tugas yang diberikan adalah menjawab beberapa pertanyaan serta menganalisis tujuh gambar yang terdapat kesalahan berbahasa di dalamanya.

1.2.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diketahui adalah :
1)      Seperti apakah Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar itu ?
2)       Apa sajakah jenis batasan kesalahan menurut Corder ?
3)      Apa yang melatarbelakangi analisis kesalahan berbahasa ?
4)      Kesalahan berbahasa apa saja yang terdapat di dalam gambar ?
5)      Bagaimanakah konsep analisis kesalahan berbahasa ?

1.3.       Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulis membuat makalah ini adalah :
1)      Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar
2)      Jenis Batasan Kesalahan Menurut Corder
3)      Latar Belakang Analisis Kesalahan Berbahasa
4)      Jenis-jenis Kesalahan Berbahasa
5)      Analisis Gambar
6)      Konsep Analisis Kesalahan Berbahasa

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Jawaban Soal Analisis Kesalahan Berbahasa
Di dalam soal UTS analisis kesalahan berbahasa yang di berikan, terdapat enam soal yang satu di antaranya tentang analisis gambar. Berikut adalah jawaban dari setiap soal tersebut :
2.1.1.      Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar
v  Bahasa Indonesia yang Baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan akrab yang tidak terlalu terikat oleh patokan. Dalam situasi resmi, seperti dalam kuliah, dalam seminar, dalam sidang DPR, dan dalam pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi, yang selalu memperhatikan norma bahasa.

v  Bahasa Indonesia yang Benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa Indonesia itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata diperhatikan dengan saksama, dan penataan penalaran ditaati dengan konsisten, pemakaian bahasa Indonesia dikatakan benar. Sebaliknya, jika kaidah-kaidah bahasa itu kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar.

v  Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pemakaian lafal daerah, seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia pada situasi resmi sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan memuasken bukanlah lafal bahasa Indonesia.
2.1.2.      Jenis Batasan Kesalahan Menurut Corder
Corder  menyebut tiga kategori dasar kesalahan, antara lain sebagai berikut :
1)      Kesalahan Presistematik  : kesalahan yang muncul ketika siswa mencoba mengatasi persoalan penggunaan bahasa
2)      Kesalahan Sistematis : kesalahan  yang muncul apabila siswa telah memiliki kompetensi bahasa tertentu / bahasa sasaran
3)      Kesalahan Pascasistematis : kesalahan yang dibuat siswa ketika mempraktekkan bahasa

2.1.3.      Latar Belakang Analisis Kesalahan Berbahasa
Dalam konteks ini hal yang melatar belakangi kesalahan itu adalah “ pergunakanlah bahasa indonesia yang baik dan benar” kemudian dihubungkan dengan pembelajaran bahasa indonesia di sekolah, itulah latar belakang  yang utama untuk analisis kesalahan bahasa. Penyimpangan bahasa yang diukur berada pada tataran (wilayah) fonologi,morfologi,sintaksis,semantik dan wacana yang dihubungkan dengan faktor-faktor penentu dalam komunikasi.

2.1.4.      Jenis-jenis Kesalahan Berbahasa
Terdapat jenis-jenis dari kesalahan berbahasa. Antara lain sebagai berikut :
1)      Kesalahan Acuan
Di dalam bidang makna, disinggung pula apa yang disebut makna acuan (Pateda, 1986).  Kesalahan acuan banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan tertentu kita meminta ini, yang dibawa itu, kita meminta dibelikan celana panjang yang dibeli celana pendek. Singkatnya, kesalahan acuan berkaitan dengan realisasi benda, proses, atau peristiwa yang tidak sesuai dengan acuan yang dikehendaki pembicara atau penulis. Untuk menghindari kesalahan acuan tidak terjadi, sebaiknya pesan yang kita sampaikan harus jelas dan tidak menimbulkan berbagai tafsiran. Misalnya, kalau kita mengatakan kursi kuliah akan berbeda realisasinya kalau kita hanya mengatakan kursi, karena kata kursi bersifat umum. Dapat kita katakan, makin khusus yang dikatakan makin jelas pesan yang disampaikan dan makin kecil kesalahan yang dibuat si pendengar.


2)      Kesalahan Register
Kesalahan register berhubungan dengan variasi bahasa yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang. Dengan demikian kesalahan register, register error adalah kesalahan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan seseorang. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata operasi. Bagi seorang dokter, kata operasi selalu dihubungkan dengan usaha menyelamatkan nyawa seseorang dengan jalan membedah tubuh atau bagian tubuh. Misalnya, kita dengar dari kalimat dokter yang berbunyi “operasi  usus buntu anak Bapak, insyallah akan dilaksanakan besok”, terdengar pula kalimat, “operasi jantung Pak Koko berjalan lancar ”. bagi seorang petugas pemerintahan, kata operasi biasanya dihubungkan dengan pemungutan pajak, penertiban keamanan, ajakan membersihkan selokan, sehingga muncul kalimat “operasi IPEDA akan dilaksanakan hari Jumat”. Adapula kalimat, “operasi pembersihan sampah berhasil dengan baik karena ada partisipasi para pegawai”. Bagi seorang militer, kata operasi selalu dikaitkan dengan usaha penumpasan musuh sehingga munculah kalimat, “operasi kami kelambung pertahanan musuh berhasil baik”.

3)      Kesalahan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak mungkin hidup sendiri dalam kenyataan seperti itu, ia harus berkomunikasi dengan orang lain. Dalam sosial linguistik dikenal variasi bahasa yang dikaitkan dengan latar belakang sosialpembicara dan pendengar. Yang dimaksud dengan latar belakang sosial disini, misalnya yang berhubungan dengan jenis kelamin, pendidikan, umur, tempat tinggal, dan jabatan. Latar belakang sosial ini mengharuskan kita untuk pandai-pandai memilih kata kalimat yang sesuai dengan latar belakang orang yang diajak bicara. Kesalahan memilih kata yang dikaitkan dengan status sosial dengan orang yang diajak berbicara menimbulkan kesalahan yang disebut kesalahan sosial, ‘social errors’ (Pateda, 1989:41).

4)      Kesalahan Tekstual
Kesalahan tekstual, ‘textual errors’ muncul sebagai akibat salah menafsirkan pesan yang tersirat dalam kalimat atau wacana. (Pateda, 1989:42). Jelas disini bahwa kesalahan tekstual mengacu pada jenis kesalahan yang disebabkan oleh tafsiran yang keliru terhadap kalimat atau wacana yang kita dengar atau yang kita baca. Misalnya kalimat “anak dokter Ahmad Ali sakit” memperlihatkan berbagai kemungkinan tafsiran. Seandainya yang dimaksud ada dua orang yang sakit dan orang lain berpendapat bahwa ada empat orang yang sakit maka tafsiran orang lain itu dapat digolongkan ke dalam kesalahan tekstual.

5)      Kesalahan Penerimaan
Kesalahan penerimaan, ‘receptive errors’, biasanya berhubungan dengan keterampilan menyimak atau membaca. Dihubungkan dengan menyimak kesalahan penerimaan disebabkan oleh, (1) pendengar yang kurang memperhatikan pesan yang disampaikan oleh pembicara, (2) alat dengar pendengar, (3) suasana hati pendengar, (4)  lingkungan pendengar, misalnya kebisingan, (5) ujaran yang disampaikan tidak jelas, (6) kata atau kalimat yang di gunakan pembicara menggunakan makna ganda, (7) antara pembicara dan pendengar tidak saling mengerti, dan (8) terlalu banyak opesan yang disampaikan sehingga sulit diingat oleh si pendengar.

6)      Kesalahan Pengungkapan
Kesalahan pengungkapan, ‘expressive errors’, berkaitan dengan pembicara. Pembicara atau penulis salah mengungkapkan atau menyampaikan apa yang dipikirkannya, dirasakannya, atau yang diinginkannya. Misalnya petugas bandar udara mengungkapkan fifteen, padahal yang dimaksud fifty. Akibat salah pengungkapan itu pilot segera menukikkan pesawat nya dan tentu saja kecelakaan tidak dapat dihindari.

7)      Kesalahan Perorangan
Kesalahan perorangan, ‘errors of individuals’, jelas menggambarkan yang dibuat oleh seseorang dan diantara kawan-kawannya sekelas. Kalau kita mengajar, pelajaran yang kita berikan tentunya ditunjukan untuk sekelompok terdidik yang terdapat dalam sebuah kelas namun yang belajar sesungguhnya individu-individu itu sendiri. misalnya, semuanya menulis huruf kapital diawal kalimat dan hanya seorang yang tidak. Kesalahan seperti ini disebut kesalahan perorangan. Memperbaiki kesalahan perorangan tentu bersifat perorangan pula.

8)      Kesalahan Kelompok
Mempelajari kesalahan kelompok, ‘errors of group’, hanya berarti apabila kelompok itu homogen, misalnya menggunakan bahasa ibu yang sama dan semuanya mempunyai latar belakang yang sama, baik intelektual maupun sosial. Murid yang menggunakan bahasa yang berbeda-beda, kesalahannya lebih banyak daripada murid-murid yang homogen. Guru yang menyuruh si terdidik berbicara, membaca atau menulis pasti akan menemukan kesalahan. Kesalahan itu, ada yang berulang-ulang dibuat oleh kelompok. Kesalahan seperti itu, disebut kesalahan kelompok.

9)      Kesalahan Menganalogi
Kesalahan menganalogi, ‘errors of overgeneralisation or analogycal errors’ adalah sejenis kesalahan pada si terdidik yang menguasasi suatu bentuk bahasa yang dipelajari lalu menerapkannya dalam konteks, padahal bentuk itu tidak dapat diterapkan. Si terdidik melakukan proses pemukul rataan, tetapi proses pemukulrataan yang berlebihan. Si terdidik menggunakan kata atau kalimat yang berpola pada kata atau kalimat yang didengarnya padahal bentuk itu tidak dapat diterapkan. Kesalahan dengan jalan menganggap kata anggota, sentosa, teladan berubah menjadi anggauta, sentausa, tauladan, termasuk kesalahan menganalogi.

10)  Kesalahan Transfer
Kesalahan transfer, ‘transfer errors’ terjadi apabila kebiasaan-kebiasaan pada bahasa pertama diterapkan pada bahasa yang dipelajari. Misalnya, dalam bahasa Indonesia tidak mempunyai bunyi /Ѳ/ seperti dalam kata inggris “Thank, think”. Orang Indonesia sering menggantikan bunyi tadi dengan /t/ atau /s/. Proses penggantian semacam ini yang disebut transfer (Pateda, 1989:45). Corder (dalam Allen dan Corder. Ed. 1974:130) berkata:
“this observation has led to the widely accepted theory of transfer which states that a learner of a second language transfers into his performance in the second language the habits of his mother-tounge”.

11)  Kesalahan Guru
Kesalahan guru sebenarnya berhubungan dengan teknik dan metode pengajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Kesalahan guru, ‘teaching-induced’ adalah kesalahan yang dibuat si terdidik karena metode atau bahan yang diajarkan salah. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat sisipan –el- dan –er-. Guru yang kurang hati-hati mengatakan, sisipan –el- dan –er- dapat di letakan pada beberapa kata yang dikiranya mungkin. Itu sebabnya ia berkata, sisipan –el- terdapat pada kata belebas dan gelas, sisipan –er- terdapat pada kata beras, dan sisipan –em- terdapat pada pemakai.

12)  Kesalahan Lokal
Kesalahan lokal, ‘local errors’ adalah kesalahan yang tidak menghambat komunikasi yang pesannya diungkapkan dalam sebuah kalimat. Menurut Valdman (1975) yang dikutip oleh Ruru dan Ruru (1985:2), kesalahan lokal adalah suatu kesalahan lungistis, ‘linguistic errors’ yang menyebabkan suatu bentuk ‘form’ atau struktur dalam sebuah kalimat tampak canggung, tetapi bagi seorang penutur yang mahir bahasa asing hampir tidak ada kesulitan untuk mengerti apa yang dimaksud dalam kalimat itu.

13)  Kesalahan Global
Kesalahan global, ‘global errors’ adalah kesalahan karena efek makna seluruh kalimat (Norrish, 1983:127). Kesalahan jenis ini menyebabkan pendengar atau pembaca salah mengerti suatu pesan atau menganggap bahwa suatu kalimat tidak dapat dimengerti. Valdman (1975) yang dikutip Ruru dan Ruru (1985:2) mengadakan modifikasi terhadap batasan yang dikemukakan diatas. Valdman mendefinisikan kesalahan global sebagai kesalahan komunikatif yang menyebabkan seorang penutur yang mahir dalam suatu bahasa asing, salah tafsir terhadap pesan lisan atau yang tertulis.
v  Berdasarkan komponen bahasa, kesalahan berbahasa dikomponenkan menjadi:
(a)        Kesalahan pada tataran fonologi,
Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi bahasa Indonesia antara lain: fonem, diftong, kluster dan pemenggalan kata. Sumber kesalahan itu terdapat pada tataran berikut :
1.      Fonem /a/ diucapkan menjadi /e/.
2.      Fonem /i/ diucapkan menjadi /e/.
3.      Fonem /e/ diucapkan menjadi /é/.
4.      Fonem /é/ diucapkan menjadi /e/.
5.      Fonem /u/ diucapkan menjadi /o/.
6.  Fonem /o/ diucapkan menjadi /u/.
7.  Fonem /c/ diucapkan menjadi /se/.
8.  Fonem /f/ diucapkan menjadi /p/.
9.  Fonem /k/ diucapkan menjadi /?/ bunyi hambat glotal.
10. Fonem /v/ diucapkan menjadi /p/.
11. Fonem /z/ diucapkan menjadi /j/.
12. Fonem /z/ diucapkan menjadi /s/.
13. Fonem /kh/ diucapkan menjadi /k/.
14. Fonem /u/ diucapkan/dituliskan menjadi /w/.
15. Fonem /e/ diucapkan menjadi /i/.
16. Fonem /ai/ diucapkan menjadi /e/.
17. Fonem /sy/ diucapkan menjadi /s/.
18. Kluster /sy/ diucapkan menjadi /s/.
19. Penghilangan fonem /k/.
20. Penyimpangan pemenggalan kata.

1)      Kesalahan Ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga menyimpang   dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan makna. Contoh  :             
-          Enam        ====>    anam, anem
-          Saudara        ====>       sudara, sodara

2)      Kesalahan Ejaan adalah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan dalam  menggunakan tanda baca. Contoh :
-          Tuhan Yang Mahakuasa    ====>     Tuhan Yang Maha Kuasa

(b)       Kesalahan pada tataran morfologi,
Kesalahan Morfologi Kesalahan morfologi adalah kesalahan memakai bahasa disebabkan salah memilih afiks, salah menggunakan kata ulang, salah menyusun kata majemuk, dan salah memilih bentuk kata (Tarigan dikutip oleh Yuniarti, 2006:12). Sedangkan Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006:12) menyatakan bahwa kesalahan morfologi adalah kesalahan pada bidang tata bentuk kata. Hal ini menyangkut masalah kosa kata. Kesalahan morfologi juga menyangkut kesalahan penggunaan afiks, kesalahan penggunaan kata ulang, dan kesalahan kata majemuk. Contoh Kesalahan Morfologi:
1)      Kesalahan afiks Ditulis Seharusnya Ayah berkerja sebagai buruh bangunan. Ayah bekerja sebagai buruh bangunan. Kakak sedang menyuci piring. Kakak sedang mencuci piring. Tiara sedang mensapu halaman. Tiara sedang menyapu halaman.
2)      Kesalahan kata ulang Ditulis Seharusnya Kayu itu dipotong semeter-meter. Kayu itu dipotong semeter-semeter. Kami berlari2 di jalan. Kami berlari-lari di jalan. Kami sekali-kali menoleh ke belakang. Kami sekali-sekali menoleh ke belakang.
3)      Kesalahan penulisan kata majemuk Ditulis Seharusnya Nikita di rawat di rumahsakit. Nikita dirawat di rumah sakit. Kakak membeli sapu tangan baru. Kakak membeli saputangan baru. Mata hari sangat panas. Matahari sangat panas.

(c)        Kesalahan pada tataran sintaksis.
Kesalahan Sintaksis Tarigan (dikutip oleh Yuniarti, 2006:13) menyatakan bahwa kesalahan sintaksis adalah kesalahan berbahasa ditinjau dari segi kalimat, seperti kesalahan menyusun kalimat, kesalahan penggunaan konjungsi, menggunakan kalimat yang tidak efektif, dan menghilangkan bagian kalimat tertentu. Sedangkan kesalahan sintaksis menurut Pateda (dikutip oleh Yuniarti, 2006:13) adalah sebagai berikut. Kesalahan sintaksis adalah kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan kalimat, yaitu kalimat yang strukturnya tidak baku, kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang digunakan dalam kalimat tidak tepat, kontaminasi kalimat, kalimat mubazir, kesalahan pemakaian kata serapan dalam kalimat, dan kalimat yang tidak logis.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesalahan sintaksis adalah kesalahan yang berhubungan dengan kesalahan pada kalimat. Kesalahan tersebut misalnya kesalahan pada struktur kalimat, kalimat tidak efektif atau tidak jelas, kalimat tidak logis dan kesalahan menggunakan kata serapan. Contoh Kesalahan Sintaksis:
1)      Kesalahan frasa Ditulis Seharusnya ini malam malam ini itu orang orang itu ini hari hari ini
2)      Kesalahan klausa Ditulis Seharusnya Jangan penjelasannya panjang lebar. Penjelasannya tidak boleh panjang lebar. Rudi punya robot mainannya sudah rusak. Robot mainan Rudi sudah rusak.
3)      Kesalahan kalimat Ditulis Seharusnya Bagi kita diwajibkan membayar uang pendaftaran lomba. Kita diwajibkan membayar uang pendaftaran lomba Dia tidak hadir oleh karena disebabkan dia sakit. Dia tidak hadir karena sakit. Pembuatan tape itu saya dibantu oleh ibu saya. Dalam pembuatan tape itu, saya dibantu oleh ibu.

(d)       Kesalahan pada tataran semantik.
Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna atau struktur makna. Sehubungan dengan analisis kesalahan berbahasa yang berkaitan dengan bidang semantik, Tarigan mengemukakan kesalahan berbahasa yang mungkin terjadi di bidang semantik adalah seperti berikut:
1)      Adanya Penerapan Gejala Hiperkorek.
Gejala hiperkorek adalah suatu bentuk yang sudah betul lalu dibetul-betulkan lagi dan akhirnya menjadi salah. Misalnya, Syaratdijadikan sarat ’ atau sebaliknya, padahal kedua kata itu masing-masing mempunyai arti yang berbeda. Syarat ‘ketentuan/aturan’sarat ‘penuh’.
Contoh dalam kalimat:
-          Kita harus mengikuti syarat itu.
-          Perahu itu sarat muatan.

Syah dijadikan sah atau sebaliknya, padahal kedua kata tersebut masing-masing mempunyai makna yang berbeda. Syah‘raja’ sedangkan sah ’sesuai dengan aturan’. Jadi, tidak dapat dipertukarkan penggunaannya. Contoh dalam kalimat:
-          Tahun depan dia akan dinobatkan sebagai Syah di negeri seberang.
-          Dia belum sah sebagai mahasiswa S1 di universitas itu.

2)      Gejala Pleonasme
Gejalan pleonasme adalah suatu penggunaan unsur-unsur bahasa secara berlebihan. Contoh:
-          Lukisanmu sangat indah sekali. Seharusnya:Lukisanmu sangat indah atau indah sekali.
-          Dia bekerja demi untuk keluarganya. Seharusnya: Dia bekerja demi keluarganya, atau untuk keluarganya.



2.1.5.      Analisis Gambar
1.      Gambar pertama : pada gambar pertama terlihat tulisan GLORY. MELAYANI : NASI BUNGKU, NASI KOTAK, SNACK. SIAP ANTARA.
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada gambar pertama, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata snack dan penulisan yang menggunakan huruf kapital pada keseluruhan kata. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa pada tataran sintaksis yaitu pada penggunakan kata yang tidak sesuai dan morfologi pada penggunaan huruf kapital pada semua kata.
Jadi kata snack merupakan kata dari bahasa asing. Pada kalimat di atas, kata digunakan secara utuh dan tidak diesuaiakan dengan kaidah bahasa Indonesia. Kesalahan juga terdapat pada penggunaan huruf kapital. Huruf kapital hanya digunakan pada kata yang berada di awal kalimat, penulisan nama, kota, dan lain sebagainya. Tetapi pada kalimat di atas menggunakan huruf kapital pada semua katanya.
Kesalahan ini terjadi karena kebiasaan penggunaan bahasa Asing yang digabungkan dengan bahasa Indonesia setiap kali bertutur sehingga terbawa-bawa ketika menulis sesuatu yang menggunakan bahasa Asing. Alasan yang logis hingga terjadinya kesalahan ini adalah kesalahan pada pengetikan atau bisa juga yang membuat kalimat tersebut tidak mengetahui kaidah dalam kepenulisan.

2.      Gambar kedua : pada gambar kedua terlihat tulisanPERIVATE Bahasa Inggris. Satu Bulan Bisa Berkomunikasi”.
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada gambar kedua, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata perivate dan penggunaan huruf kapital. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa pada tataran fonologi yaitu pada penambahan fonem dan morfologi pada penggunaan huruf kapital yang tidak sesuai.
TIDAK BAKU                                                           BAKU
perivate                                ====>                          perivat

Jadi, perivate merupakan bentuk tidak baku dan bentuk bakunya yaitu pervat maka terjadi penambahan fobem pada fonem /e/ sehingga membuat kata tidak memiliki makna, karena kata perivat memiliki makna pribadi. Penggunaan huruf kapital pada kalimat di atas juga sama seperti gambar yang pertama, penggunaanya atau penempatannya tidak tepat.
Kesalahan ini terjadi karena kebiasaan dari penutur dan penggunaan huruf kapitalnya juga sama seperti pada gambar pertama yaitu karena kesalahan pada penulisan.

3.      Gambar ketiga : pada gambar ketiga terlihat tulisanJawablah pertanyaan berikut dengan BENAR dan TEPAT 
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada gambar ketiga, dapat dilihat bahwa kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata TEPAT. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam sintaksis karena kata BENAR dan TEPAT memiliki makna yang sama.
Jadi, kata BENAR dan TEPAT karena memiliki makna yang sama tidak perlu ditulis keduanya sekaligus sehingga menimbulkan mubazir pada kata.
Kesalahan ini terjadi karena kebiasaan sering menggunakan kedua kata tersebut sekaligus. Dan pada gambar ketiga juga terlihat siswa yang menjawab pertanya-pertanya dengan jawaban benar dan tepat. Hal terjadi karena kesalah pengertian siswa atau siswa tersebut tidak paham dan tidak mengetahui jawaban dari pertanyaa tersebut.

4.      Gambar keempat : pada gambar keempat terlihat tulisan “MOHON ANTRI. ENTRY PLEASE
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada gambar keempat, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata ENTRY. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam semantik yaitu pada penempatan kata yang tidak memiliki makna. Jadi kata ENTRY tidak memiliki makna karena kata tersebut tidak terdapat di dalam kamus.
Kesalahan yang terdapat pada gambar ketiga tersebut terjadi karena yang membuat kalimat hendak membuat kalimat yang memiliki makna pada kalimat bahasa Inggris yang sama dengan makna pada bahasa Indonesia “MOHON ANTRI”. Tetapi kata yang digunakan sesai tetapi tidak memiliki makna.

5.      Gambar kelima : pada gambar kelima terlihat tulisanDaftar Menu Makanan. Prett Ciken+nasi = 8000. Kulit Ciken = 3000. Ceker Ciken = 10000
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada gambar keempat, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata Ciken dan Prett . Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam tataran fonologi yaitu pada kurangnya fonem pada kedua kata tersebut dan sintaksis pada penempatan kata yang tidak sesuai. Contoh :
TIDAK BAKU                                                           BAKU
Ciken                               ====>                             Chicken
Prett                                 ====>                            Fried

Jadi Ciken dan Prett merupakan bentuk tidak baku dan bentuk bakunya yaitu Chicken dan Fried maka terjadi perubahan dan kurangnya pada fonem /h/ dan /c/ pada kata Ciken  yang harusnya Chicken dan fonem /f/, /i/ dan /d/ pada kata Prett  yang harusnya Fried. Terjadi juga penempatan kata yang tidak sesuai, yaitu kata Ciken (Chicken) yang merupaka kata dalam bahasa Inggris di gabungkan dengan bahasa Indonesia yaitu pada kalimat “Kulit Ciken dan Ceker Ciken”.
Kesalahan ini dapat terjadi karena kebiasaan dari penutur yang menggunakan bahasa asing dan digabungkan dengan bahasa Indonesia. Dan pembuat kalimat tersebut menulis kalimat bahasa Inggris Prett Ciken yang disesuaikan dengan apa yang dilisankan, sedangkan bahasa Inggris memiliki tulisan yang berbeda dengan apa yang dilisankan.

6.      Gambar keenam : pada gambar keenam terlihat tulisanDicari Karyawan Fart Time
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada gambar kedua, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata Fart. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam tataran fonologi yaitu pada perubahan fonem. Contoh :
TIDAK BAKU                                                           BAKU
Fart                                    ====>                           Part

Jadi kata Fart dikatakan tidak baku dan kata bakunya adalah Part yang memiliki makna sebagian. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam fonologi yaitu pada perubahan fonem /p/ pada kata Fart.

7.      Gambar ketujuh : pada gambar ketujuh terlihat tulisanWASPALAH! Dimana ada KESEMPATANI. Disitu ada DANA UMUM”.
Berdasarkan tulisan yang terdapat pada gambar ketujuh, kesalahan berbahasanya yaitu terdapat pada kata Dimana, Disitu, dan DANA UMUM. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan bahasa dalam morfologi yaitu pada penggabungan kata dan sintaksis yaitu penggunaan kata yang tidak tepat. Contoh  :
TIDAK BAKU                                                           BAKU
dimana                              ====>                            di mana
disitu                                 ====>                            di situ
Jadi dimana dan disitu dikatakan tidak baku karena kata di dan mana serta di dan situ yang harusnya dipisah tetapi pada kalimat di atas digabung. Maka yang benar adalah di mana dan di situ. Kesalahan ini masuk ke dalam tataran morfologi tenatng pembentukan kata. Sedang pada kata DANA UMUM merupakan kesalahan sintaksis yaitu pada penempatan kata tidak tepat sehingga makna dari keseluruhan kalimat juga berubah.
Kesalahan tersebut terjadi karena kalimat yang terdapat pada gambar termasuk Meme atau pelesatan dari peribahasa atau kata-kata mutiara. Kesalahan penulisan juga ada yaitu pada kata dimana dan disitu, kesalahan ini terjadi karena pembuat meme bias jadi tidak mengetahui tentang kaidah penulisan bahasa Indonesia.

2.1.6.      Konsep Analisis Kesalahan Berbahasa
Bahasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, sebab bahasa merupakan alat pemersatu antara satu dengan yang lainnya, mulai dari tingkat skala kehidupan yang paling kecil keluarga, masyarakat, hingga ke skala yang paling besar kehidupan bernegara.
Tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi kesalahan berbahasa, baik ketika berkomunikasi ataupun ketika sedang menulis sesuatu. Maka dari itulah perlu dilakukannya analisis kesalahan berbahasa agar kita lebih mengetahui tentang kaidah bahasa Indonesia serta seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dikemukakan oleh Corder bahwa yang dimaksud dengan kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga merupakan tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap kode. Si pembelajar bahasa belum menginternalisasikan kaidah bahasa (kedua) yang dipelajarinya.
Istilah kesalahan berbahasa memiliki pengertian yang beragam.  Kesalahan berbahasa adalah penyimpangan – penyimpang yang dilakuan oleh seseorang secara sistematis dan konsisten.  Menurut Djargo Tarigan (1997:29) kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa secara lisan maupun tulisan yang menyimpang dari faktor-faktor penentu berkomunikasi dan kaidah bahasa.
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pemakaian lafal daerah, seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia pada situasi resmi sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan memuasken bukanlah lafal bahasa Indonesia.
Berdasarkan komponen bahasa, kesalahan berbahasa dikomponenkan menjadi:
(a)    kesalahan pada tataran fonologi.
(b)   kesalahan pada tataran morfologi.
(c)    kesalahan pada tataran sintaksis.
(d)   kesalahan pada tataran semantik.
(e)    kesalahan pada tataran reduplikasi.


DAFTAR PUSTAKA

Pateda, Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan. Flores: Nusa Indah.

Ainun, Salimah. 2010. “Sekilas Perubahan Bahasa-bahasa di Indonesia” (Online).  http://bahasa.kompasiana.com/2011/12/14/sekilas-perubahan-bahasa-bahasa-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 29 November 2016.

Rama, Berbagi. 2012. “Contoh Analisis Kesalahan Berbahasa” (Online). http://ramaberbagi.blogspot.com/2012/03/contoh-analisis-kesalahan-berbahasa.html. Diakses pada tanggal 29 November 2016.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar