TUGAS DRAMA
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Drama
Dosen : Ibu M. Rutumalessy, S.Pd., M.A.
Disusun Oleh :
RAMIATI RAMAN
NIM : 2015-35-043
KELAS : A
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
2017
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur penulis
ucapkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas
kedua, dalam mata kuliah Drama, mengenai drama di dunia dan di Indonesia.
Dan juga penulis berterimakasih kepada ibu M. Rutumalessy, S.Pd., M.A. selaku dosen mata Drama yang telah
memberikan tugas ini kepada penulis.
Adapun makalah Drama ini diambil dari berbagai referensi
seperti internet,
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Makalah ini
berisi tentang sejarah dan perkembangan drama di dunia dan di Indonesia.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi
manfaat bagi kita serta dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah
drama di dunia maupun di Indonesia. Memang makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka
penulis mengharapkan kritik dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih
baik.
Ambon,
Maret 2017
PENULIS
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul ...................................................................................................................... i
Kata
Pengantar ..................................................................................................................... ii
Daftar
Isi ............................................................................................................................... iii
Bab
I : Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2.
Rumusan Masalah .............................................................................................. 1
1.3.Tujuan
Penulisan ................................................................................................. 1
Bab
II : Pembahasan
2.1.
Sejarah Drama Yunani ....................................................................................... 2
2.1.1. Drama Klasik ............................................................................................ 2
2.1.2. Teater Abad Pertengahan
......................................................................... 3
2.1.3. Sejarah Drama Modern ............................................................................ 5
2.2. Sejarah dan
Perkembangan Drama di Indonesia ............................................... 9
2.2.1. Periode
Drama Melayu-Rendah ............................................................... 10
2.2.2. Periode
Drama Pujangga Baru ................................................................. 10
2.2.3. Periode
Drama Zaman Jepang .................................................................. 11
2.2.4. Periode
Drama Sesudah Kemerdekaan .................................................... 11
2.2.5. Periode
Drama Mutakhir .......................................................................... 11
Bab
III : Penutup
3.1.
Kesimpulan .................................................................................................................... 12
Daftar
Pustaka ...................................................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Drama merupakan
bagian dari bahan pengajaran sastra sebagai bahan sastra, paling tidak kita
mempelajari apa itu drama, bagaimana cara mementaskannya. Unsur-unsur apa saja
dan lain sebagainya. Terlepas dari semua itu, bukan hal yang lucu, apabila kita
mempelajari suatu ilmu yang kita tidak tahu asal usulnya.
Sejarah itu
penting. Bagaimanakah sejarah drama mulai dari awal terbentuk hingga
perkembangannya, khususnya di negara Indonesia. Dikarenakan sejarah itu
penting, maka harapannya supaya orang-orang dapat mengimplementasikan drama
dalam praktiknya, dapat menghargai jasa mereka yang telah berhasil membentuk
nama drama hingga ke seluruh pelosok tanah air. Melalui artikel inilah penulis
paparkan sejarah dan perkembangan drama di Indonesia.
1.2.Rumusan
Masalah
Dari utaian
latar belakang di atas dapat kita rumuskan masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah sebagai berikut:
1)
Bagaimanakah
sejarah perkembangan di dunia maupun di Indonesia?
1.3. Tujuan
Penulisan
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk mengerjakan tugas mata kuliah Drama,
mengenai sejarah perkembangan drama di dunia dan di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Drama
di Yunani
2.1.1.
Drama
Klasik
Yang disebut
drama klasik adalah pada zaman Yunani dan Romawi. Pada masa kejayaan kebudayaan
Yunani dan Romawi banyak sekali karya drama yang bersifat abadi, terkenal
sampai kini.
a)
Drama
Yunani
Asal mula drama adalah kultus
Dyonesos. Pada waktu itu, drama dikaitkan dengan upacara penyembahan kepada dewa, dan disebut
tragedi. Kemudian tragedi mendapat makna lain, yaitu perjuangan manusia melawan
nasib. Komedi sebagai lawan kata dari tragedi, pada zaman Yunani Kuno merupakan
karikatur cerita duka dengan tujuan menyindir penderitaan hidup manusia. Ada
tiga tokoh Yunani terkenal, yaitu Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Menurut
Plato, keindahan bersifat relatif. Karya seni dipandangnya sebagai mimetik,
yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia. Imitasi menurut Plato bukan
demi kepentingan imitasi itu sendiri, tetapi demi kepentingan kenyataan. Karya
Plato yang terkenal adalah “The Republic”.
Aristoteles juga tokoh Yunani yang
terkenal. Ia memandang karya seni bukan hanya imitasi kehidupan fisik, tetapi
harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebajikan dalam dirinya.
Dengan demikian karya-karya itu mempunyai watak tertentu. Sophocles adalah
tokoh drama terbesar zaman Yunani. Tiga karyanya yang merupakan tragedi,
merupakan karyanya bersifat abadi, dan temanya relevan sampai saat ini.
Dramanya adalah "Oedipus Sang Raja", "Oedipus", dan
"Antigone". Tragedi tentang nasib manusia yang mengenaskan. Dari
karyanya bentuk tragedi Yunani mendapatkan warna kas. Sedang Aristophanes,
adalah tokoh komedi dengan karya karyanya “The Frogs”, “The Waps”, “The
Clouds”.
b)
Drama
Zaman Romawi
Terdapat tiga
tokoh drama Romawi Kuno, yaitu Plutus, Terence, atau Publius Terence Afer, dan Lucius Seneca. Teater
Romawi mengambil alih gaya teater Yunani. Mula-mula bersifat religius,
lama-lama bersifat mencari uang. Bentuk pentas lebih megah dari zaman Yunani.
2.1.2.
Teater
Abad Pertengahan
Pengaruh gereja
Katolik atas drama sangat besar pada zaman pertengahan ini. Dalam pementasan
ada nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan koor. Kemudian
ada pagelaran "Pasio" seperti yang sering dilaksanakan di gereja
menjelang upacara Paskah sampai saat ini.
Ciri khas abad
Pertengahan, adalah sebagai berikut:
1) Pentas
kereta;
2) Dekor
bersifat sederhana dan simbolis;
3) Pementasan
simultan bersifat berbeda dengan pementasan simultan drama modern.
a)
Zaman
Italia
Istilah yang
populer dalam jaman Italia adalah Comedia del
'Arte yang bersumber dari
komedi Yunani. Tokoh-tokohnya antara lain Dante, dengan karya-karyanya ”The
Divina Comedy”, Torquato Tasso dengan karyanya drama-drama liturgis dan
pastoral, dan Niccolo Machiavelli dengan karyanya “Mandrake”. Ciri-ciri drama
pada zaman ini, adalah sebagai berikut:
1) Improvisatoris
atau tanpa naskah;
2) Gayanya
dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru kemudian
pemain berimprovisasi (bandingkan teater tradisional di Indonesia);
3) Cerita
berdasarkan dongeng dan fantasi dan tidak berusaha mendekati kenyataan;
4) Gejala
akting, pantomime, adegan dan urutan tidak
diperhatikan.
Komedi Italia
meluas ke Inggris dan Nederland. Gaya komedi Italia ini di Indonesia kita kenal
dengan nama "seniman sinting" atau "seniman miring" dengan
tokoh antara lain Marjuki . Dibandingkan dengan drama Yunani, maka pada zaman
Italia ini materi cerita disesuaikan dengan adegan yang terbatas itu. Trilogi
Aristoteles mendapat perhatian. Tokoh-tokoh pelaku dalam komedi Italia mirip
tokoh-tokoh cerita pewayangan, sudah dipolakan yaitu:
1.
Arlecchino (The Hero,
pemain utama);
2. Harlekyn
(punakawan/badut/clown);
3. Pantalone
(ayah sang gadis lakon) ;
4. Dottere
(tabib yang tolol);
5. Capitano
(kapten perebut gadis lakon);
6. Columbina
(punakawan putri);
7.
Gadis lakon (primadona
yang menjadi biang lakon).
b)
Jaman Elizabeth
Pada
awal pemerintahan Raru Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang
dengan pesatnya. Teater-teater didirikan sendiri atas prakarsa sang ratu.
Shakespeare, tokoh drama abadi adalah tokoh yang hidup pada jaman Elizabeth.
Ciri-ciri naskah drama jaman Elizabeth, adalah:
1) Naskah
puitis;
2) Dialognya
panjang-panjang;
3) Penyusunan
naskahnya lebih bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada;
4) Laku
bersifat simultan, berganda dan rangkap;
5) Campuran
antara drama dan humor.
Tokoh besarnya
adalah William Shakespeare (1564-1616), dengan karya-karyanya “The Taming of
the Schrew”, “Mid Summer Night Dream”,“King Lear”, “Anthony and Cleopatra”,
“Hamlet”, “Macbeth”, dan sebagainya. Hampir semuanya telah diterjemahkan oleh
Trisno Sumardjo, Muh. Yamin, dan Rendra.
c)
Perancis
(Moliere dan Neoklasikisme)
Tokoh-tokoh drama
di Perancis antara lain Pierre Corneille (Melite, Le Cid), Jean Raccine
(Phedra), Moliere, Jean Baptista Poquelin (Le Docteur Amoureux/The Love Sick
Doctor, Les Preciueuses Rudicules/The Affected Young Lady, dan lain-lain),
Voltaire (dengan filsafat dan karyanya yang aneh), Denis Diderot (Le Per De
Famille dan Le Fils Naturel), Beaumarchais (La Barbier De Seville/Barber of
Seville, Le Mariage de Fogaro/The Marriage of Fogaro).
d)
Jerman
(jaman Romantik)
Tokoh-tokohnya
antara lain Gotthol Ephraim Lessing (Emilia Galotti, Miss Sara Sampson, dan
Nathan der Weise), Wolfgang von Goethe(Faust), Christhop Friedrich von Schiller
(The Robbers, Love and Intrique, Wallenstein, dan beberapa adaptasi dari
Shakespeare).
2.1.3.
Sejarah Drama
Modern
Dalam bagian ini
akan dijelaskan perkembangan drama modern di beberapa negara yang melanjutkan
kejayaan tradisi pementasan dan penulisan drama yang telah dimulai pada jaman
Yunani Kuno. Akan dikemukakan tokoh drama seperti Ibsen (Norwegia), Strindberg
(Swedia), Bernard Shaw (Inggris), tokoh dari Irlandia, Perancis, Jerman,
Italia, Spanyol, Rusia, dan terakhir Amerika Serikat yang menunjukkan
perkembangan pesat. Semua ini sekedar informasi untuk memperluas cakrawala
pengetahuan kita di Indonesia tentang perkembangan drama di luar Indonesia.
a)
Norwegia
(Ibsen)
Tokoh paling
terkemuka dalam penulisan drama di Norwegia adalah Henrick Ibsen (1828-1906).
Karyanya yang paling terkenal dan banyak dipentaskan di Indonesia adalah
"Nora", saduran dari terjemahan Armyn Pane "Ratna".
Karya-karya Ibsen adalah “Love's Comedy”, “The Pretenders”, “Brand and Peer
Gynt” (drama puitis), “A doll's House”, “An Enemy of the people”, “The Wild
Duck”, “Hedda Gableer”, dan “Roshmersholm”. Ibsen tidak memberikan karakter
hitam putih, tetapi tokoh penuh tantangan, watak yang digambarkan kompleks
dengan penggambaran berbagai segi kehidupan manusia.
Dialognya dengan gaya prosa yang
realistis dengan menekankan mutu
percakapan dan bersifat realistis. Gagasan yang dikemukakan dapat
membangkitakan gairah dan memikat perhatian. Problem yang di angkat dapat
menjadi lelucon drama yang besar dan diambil dari problem yang timbul dalam masyarakat biasa.
b)
Swedia
(August Strindberg)
Tokoh drama
paling terkenal di Swedia adalah Strindberg (1849-1912). Karya-karya drama yang
bersifat historis dari Strindberg di antaranya adalah “Saga of the Folkung” dan
“The Pretenders”. “Miss Julia” dan “The Father” adalah drama naturalis. Drama
penting yang bersifatekspresionistis adalah “A Dream Play”, “The Dance of
Death”, dan “The Spook Sonata”.
c)
Inggris
(Bernard Shaw dan Drama Modern)
Tokoh drama
modern Inggris yang terpenting (setelah Shakespeare) adalah George Bernard Shaw
(1856-1950). Ia dipandang sebagai penulis lakon terbesar dan penulis terbesar
pada abad modern. Di Ingris Bernard Shaw menduduki peringkat kedua setelah
Shakespeare.Karya karyanya antara lain adalah “Man and Superma ”, “Major
Barbara”, “Saint Joan”, “The Devil's Disciple , dan “Caesar and Cleopatra”.
Tokoh drama modern di Inggris yang lain adalah James M. Barrie (1860-1937),
dengan karya “Admirable Crichton”, “What Every Woman Knows”, “Dear Brutus”, dan
“Peter Pan”. Noel Coward dengan karya “Blithe Spirit”. Somerest Mugham dengan
karya “The Circle”. Christoper Fry dengan karya-karyanya “A Phoenic Too
Frequent”, “The Lady's Not for Burning”.
d)
Irlandia
(Yeats sampai O'Casey)
Tokoh penting
drama Irlandia Modern adalah William Butler Yeats yang merupakan pemimpin
kelompok sandiwara terkemuka di Irlandia dan Sean O'Casey (1884) dengan
karyanya “The Shadow of a Gunman”, “Juno and the Paycock”, “The Plough and the
Stars”, “The Silver Tassie”, “Within the Gates”, dan “The Stars Turns Red”.
Tokoh lainnya adalah John Millington Synge (1871-1909) dengan karya-karya
“Riders to the Sea” dan “The Playboy of the Western World”. Synge Merupakan
pelopor teater Irlandia yang mengangkat dunia teater menjadi penting di sana.
e)
Perancis
(dari Zola sampai Sartre)
Dua tokoh
terkemuka di Perancis adalah Emile Zola (1840-1902) dan Jean Paul Sartre
(1905). Karya-karya Emile Zola adalah “Therese Raquin” yang mirip “A Doll's
House”. Eugene Brieux (1858-1932), menulis naskah “Corbeaux” (The Vultures),
“La Parisienne” (The Woman of Paris), dan “Les Avaries” (Damaged Gods). Edmond
Rostan (1868-1918) dengan karya “Les Romanasques” (The Romancers) dan “Cyrano
de Bergerac”. Maurice Materlinck (1862-1949), dengan karyanya “Pelleas et
Melisande” yang bercorak romantik. Jean Giraudoux (1882-1944), dengan karyanya
“Amphitryen 38” dan “La Folle de Challiot” (The Madwoman of Challiot). Jean
Giraudoux juga mengarang karya yang sangat terkenal, yaitu “La Guerre de Troie
N'aura pas Lieu” yang diproduksi oleh Teater Broadway dengan judul "Tiger
at the Gates". Di Indonesia pernah dipentaskan oleh Darmanto Jt. dengan
judul "Perang Troya Tidak Akan Meletus", kisah tentang Hektor dan
Helena. Jean Cocteau (1891-…) dengan karyanya La Machine Internale. Di antara
pengarang selama Perang Dunia II, Jean Paul Sartre merupakan spotlight. Ia
lahir pada tahun 1905 dan merupakan tokoh aliran eksistensialisme.
Karya-karyanya antara lain “Huis Clos” (Ni Exit) dan “Les Mouches” (The Flies).
Pengarang lainnya adalah Jean Anaoulih (1910-…) dengan karyanya “Le Bal des
Voleurs” (Thieve's Carnivaly) dan “Antigone” (terjemahan dari drama Sophocles).
f)
Jerman
dan Eropa Tengah (Hauptman sampai Brecht)
Banyak sekali
sumbangan Jerman terhadap drama modern. Tokoh seperti Hebbel dan temannya telah
mempelopori aliran realisme. Penulis naturalis terkenal adalah Gerhart Hauptman
(1862-1946) dan Arthur Schnitzler (1862-1931). Karya Hauptman antara lain adalah
“The Weavers”, “The Sunken Bell”, dan “Hannele”. Karya Schnitzler antara lain
“Liebelei”, “Anatol” dan “Reigen”. Pengarang lainnya Fernc Molnar (1878-1952)
dengan karya “The Play's the Thing”, “The Guardsman”, dan “Liliom”. Karel Capek
(1890-1938) dengan karya “The Insect Comedy” yang ditulis bersama kakaknya
Yosef. Bertolt Brecht (1898-1956) dengan teaternya yang memiliki ciri-ciri an
enthrailling, masterfull, achievment, energetic, forceful, full of humor. Nama
teaternya adalah Berliner Ensemble (ciri tersebut berarti memikat, indah
sekali, penuh prestasi, penuh energi, daya kekuatan yang tinggi, dan penuh
cerita humor). Karya-karya Brecht antara lain “Threepenny Opera”, “Mother
Courage”, dan “The Good Woman Setzuan”. Berline Ensemble sangat berpengaruh di
masa sesudah Brecht.
g)
Italia
(dari Goldoni sampai Pirandillo)
Setelah zaman
Renaissance, karya-karya drama banyak berupa opera di samping comedia
dell'arte. Tokoh drama Italia antara lain Goldoni (1707-1793) dengan karyanya
“Mistress of the Inn”. Gabrielle D'Annunzio (1863-1938) dan Luigi Pirandello
(1867-1936) dengan karyanya “Right You Are”, “If You Think You Are”, “As You
Desire Me”, “Henry IV”, “Naked”, “Six Characters in Search of an Author”, dan
“Tonight We Improvise”.
h)
Spanyol
(dari Benavente sampai Lorca)
Bagi Spanyol,
abad XX sebagai abad kebangkitan dramatic spirit. Tokohnya antara lain Jacinto
Benavente (1866-1954) yang pernah mendapat hadiah Nobel tahun 1922. Yang
terkenal di Amerika, adalah karyanya yang berjudul “Los Intereses Creados” (The
Bonds of Interest) dan “La Marquerida” (The Passion Flower). Sejaman dengan
Benavente adalah Gregorio Martinez Sierra (1881-1947) dengan karyanya “The
Cradle Song”. Pengarang paling penting pada jaman modern di Spanyol adalah
penyair dan penulis drama Frederico garcia Lorca (1889-1936). Dia dipandang
sebagai orang yang dikagumi oleh penyair dan dramawan W.S. Rendra. Karya Lorca
antara lain adalah “Shoemaker's Prodigius Wife” dan “The House of Bernarda
Alba”.
i)
Rusia
(dari Pushkin sampai Andreyev)
Tzarina Katerin
Agung dipandang sebagai pengembang drama di Rusia. Pengarang pertama yang
dipandang serius adalah Alexander Pushkin (1799-1837) dengan karyanya “Boris
Godunov”, Sebuah tragedi historis. Nikolai Gogol (1809-1852), menulis antara
lain “The Inspector General”. Alexander Ostrovski (1823-1886) menulis “Enough
Stupidity in Every Wise Man”. Leo Tolkstoy (1828-1910) menulis “The Power of
Darkness” Selanjutnya Anton Pavlovich Chekov(1860-1904) sangat terkenal di
Indonesia, dengan karyanya yang diterjemahkan menjadi "Pinangan" dan
"Kebun Cherry" (The Cherry Orchid). Pohon Cherry merupakan karya
besar Chekov. Karya lainnya adalah “Uncle Vanya”, “The Sea Gull”, dan “The
Three Sisters”. Ada kualitas dan ciri yang sama dari karya Chekov, yaitu
tragedi senyap, hasrat, kerinduan, dan karakter yang hidup. Pengarang lain
adalah Maxim Gorki (1868-1936) dengan karyanya “The Lower Depth”. Leonid
Andreyev (1971-1919) dengan karyany “The Live of Man”, “King Hunger”, dan “He
Who Gets Slapped”.
j)
Amerika
(Godfrey sampai Miller)
Pengarang drama
yang paling awal di Amerika adalah Thomas Godfrey, dengan karya “The Prince of
Parthia” (1767). Harriet Beecher Stowe (1811-1896) menulis “The Octoroon”.
David Belasco (1854-1931) menulis “The Girl of Goldent West”. Bronsin Howard
(1842-1908) menulis “Shenandoah”. James A. Henre (1839-1901).
2.2. Sejarah
Dan Perkembangan Drama Di Indonesia
Sejarah
perkembangan penulisan drama meliputi:
1) Periode
Drama Melayu-Rendah;
2) Periode
Drama Pujangga Baru;
3) Periode
Drama Zaman Jepang;
4) Periode
Drama Sesudah Kemerdekaan;
5) Periode
Drama Mutakhir.
Dalam Periode
Melayu-Rendah penulis lakonnya didominasi oleh pengarang drama Belanda
peranakan dan Tionghoa peranakan.
Dalam Periode
Drama Pujangga Baru lahirlah Bebasari karya Roestam Effendi sebagai lakon simbolis
yang pertama kali ditulis oleh pengarang Indonesia.
Dalam Periode
Drama Zaman Jepang setiap pementasan drama harus disertai naskah lengkap untuk
disensor terlebih dulu sebelum dipentaskan. Dengan adanya sensor ini, di satu
pihak dapat menghambat kreativitas, tetapi di pihak lain justru memacu
munculnya naskah drama.
Pada Periode
Drama Sesudah Kemerdekaan naskah-naskah drama yang dihasilkan sudah lebih baik
dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah meninggalkan gaya Pujangga Baru.
Pada saat itu penulis drama yang produktif dan berkualitas baik adalah Utuy
Tatang Sontani, Motinggo Boesye dan Rendra.
Pada Periode
Mutakhir peran TIM dan DKJ menjadi sangat menonjol. Terjadi pembaruan dalam
struktur drama. Pada umumnya tidak memiliki cerita, antiplot, nonlinear,
tokoh-tokohnya tidak jelas identitasnya, dan bersifat nontematis.
Penulis-penulis dramanya yang terkenal antara lain Rendra, Arifin C. Noer, Putu
Wijaya, dan Riantiarno.
Di Indonesia
sebelum abad ke-XX belum ada naskah dan pentas, yang ada hanya kisah-kisah yang
disajikan secara lisan. Drama
pada waktu itu dilakukan di istana atau di lapangan.
Pada awal abad XX mulai ada pentas
tetapi belum ada naskah. Naskah mulai timbul pada jaman Pujangga Baru. Grup
amatir memakai naskah, sedangkan grup professional tidak memakai naskah.
Sedangkan pada
jaman Jepang, rombongan professional maupun amatir memakai naskah. Hal ini
disebabkan oleh adanya sensor Jepang yang paling ketat.
Perkembangan
drama pada dewasa ini kelihatan makin maju. Rombongan profesional tidak memakai
naskah, organisasi amatir masih memakai naskah tetapi mengabaikan pengarang,
penyadur dan penyalin. Akhir-akhir ini tidak mengherankan bahwa timbul drama
yang tidak memakai dialok kata tetapi dilakukan dengan gerak.
Pembabakan drama
Indonesia antara lain sebagai berikut :
2.2.1.
Sastra
drama melayu rendah (1891-1940)
Sastra drama
melayu rendah pada masa – masa ini muncul karena adanya tuntutan dari teater
modern Indonesia yang merupakan produk dari budaya kota Indonesia. Untuk itu,
penduduk itu yang pada saat itu terjadi dari beberapa kebangsaan dari beberapa
kota, yakni Indo, Arab, Cina, Indosia sendiri yang juga didominasi oleh Belanda
dan Cina. Muncul komedi Stambul yang
bersifat opera (tahun 1891), menampilkan hikayat-hikayat dari Persia, India, Eropa.
penampilannya realistis, walaupun secara structural belum berbentuk lakon.
2.2.2.
Sastra Drama Pujangga Baru
(1926-1939)
Seperti
mengalami perkembangan dari Sastra Drama Melayu Rendah ke Sastra Drama Pujangga
Baru. Hal ini kerena memang penulis naskah pada periode ini dikenal sebagai
pujangga baru, dialah Roestam Effendi. Ada perbedaan yang mencolok antara
naskah yang ditulis oleh orang – orang Tionghoa dan naskah yang ditulis oleh
Roestam Effendi sangat berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada dialog. Satu
hal lagi yang mencolok dari karakteristik dari sastra drama Pujangga Baru,
yakni sasrta yang ditulis memang untuk tujuan karya sastra dan bukan ditulis
dengan dasar akan dipentaskan. Tidak hanya Rustam Effendi yang menulis naskah
pada periode ini. Namun masih ada lainnya yakni Mohammad Yamin (Ken Arok dan
Ken Dedes), Sanusi Pane (Airlangga), Armijn Pane (Lukisan Masa).
2.2.3.
Sastra Drama Zaman Jepang
(1941-1945)
Sastra ini lahir pada zaman
pendudukan Jepang. Pada zaman ini, mula – mula berkembang rombongan sandiwara
profesional. Disebut sandiwara profesional kerena bekerja tanpa naskah drama
berdialog, tetapi hanya garis besar cerita. Selain itu, jalannya cerita masih
diselingi nyanyian.
2.2.4.
Sastra
Drama Setelah Kemerdekaan (1945-1970)
Pada masa ini masa
– masa Indonesia sedang sibuk mempertahankan keutuhan Indonesia dan serangan
dari Belanda. Pada masa – masa ini, tidak memberikan peluang yang lebar kepada
para sastrawan untuk membuat karya sastra. Maka, tidak dapat dihindari, jumlah
karya sastra yang tercipta pada periode ini menurun sangat drastis. Hanya
beberapa karya sastra yang dihasilkan, yakni Keluarga Surono oleh Idrus (1948),
Suling (1946), Bunga Rumah Makan (1947) oleh Utuy Tatang Sontai, dan Tumbang
oleh Trisno Sumardjo. Adapun dari segi tema yang ditampilkan pada penulis
inipun sudah jauh berbeda. Jika sebelumnya tema – tema yang ditampilkan adalah
masalah politik maka pada saat ini lebih banyak dihadirkan tema – tema tentang
kejiwaan.
2.2.5.
Sastra
Drama Mutakhir (1970-Sekarang)
Sastra drama
mutakhir yang dimulai sejak tahun 1970 dan sampai saat ini tidak dapat
dilepaskan begitu saja dengan berdirinya Dewan Kesenian Jakarta. Melalui Dewan
Kesenian Jakarta yang melakukan sayembara – sayembara naskan drama kemudian
lahirlan banyak sekali naskah drama Indonesia yang tidak lagi bertema – tema
tertentu, tetapi dengan tema – tema yang lebih umum. Setelah mengerahui
perkembangan sastra drama, tidak dapat melepaskan diri pada seniman pada
periode mutakhir ini. Berbicara mengenai drama, tidak dapat dilepaskan dari
tokoh drama yang tetap legendaris, meskipun sudah meninggal dunia.tokoh
tersebut adalah WS Rendra. WS Rendra adalah pendiri Bengkel Teater. Bengkel
Teater didirikan pada tahun 1967. WS Rendra yang mendapat julukan Burung Merah
Merak ini, turut membentuk sejarah drama Indonesia. Rendra turut mewarnai dunia
drama dengan memainkan drama, kadan Rendra sendiri juga yang membuat naskan
drama sendiri , menyutradarai, sakaligus memerankan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Drama sudah ada
sejak sebelum masehi. Drama muncul pertama kali di Yunani, setelah terkenal di
yunani terkenal di Romawi. Di pertengahan abad muncul teater yang terbagi dalam
empat zaman yaitu zaman Italia, Elizabeth, Prancis, dan zaman Jerman. Drama
juga mengalami yang lebih pesat dari pada zaman sebelumnya dalam
pertunjukannyapun juga lebih menarik seperti dinegara Norwegia, Swedia, Inggris, Irlandia,
Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Rusia, dan terakhir Amerika Serikat .
Setelah mengalami berbagai perkembangan yang cukup panjang melalui para
bangsawan yang melakukan perdagangan sampailah drama itu ke tanah Indonesia.
Masuknya drama di Indonesia muncul pada tahun 1901 ditandai dengan balum adanya
naskah dan pentas, yang ada hanya kisah yang disajikan secara lisan dengan kata
lain pemain harus menciptakan dilognya sendiri.
DAFTAR RUJUKAN
Nurul Mienyu. 2014. “Sejarah dan Perkembangan Drama di
Indonesia” (Online). http://
nurulmienyu.blogspot.co.id/2014/04/sejarah-dan-perkembangan-drama-di.html.
Diakses
pada tangal 14
Maret 2017.
Eka Pratiwi. 2012. “Sejarah Drama di Indonesia”
(Online). http://ekapratiwi55. blogspot.co.
id/2012/01/sejarah-drama-di-indonesia.html.
Diakses pada tangal 14 Maret 2017.
Savira Febrina. 2015. “Sejarah Drama Dunia” (Online). http://savirafebrina18.blogspot.co.
id/2015/12/sejarah-drama-dunia.html.
Diakses pada tangal 14 Maret 2017.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar