ANAK BANGSA
Pengarang
Naskah : Ramiati Raman
On : Seorang lelaki masuk sambil
memegang bantal, ia terlihat kebingungan seperti mencari-cari sesuatu yang
hilang. Ia pun duduk di tengah-tengah panggung sambil menggaruk-garuk
kepalanya.
TT :
“Ada di mana? su seng ada lai. Akan su
ilang ka mana?”. Ia kemudian berdecak sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. Lelaki itu pun meletakkan bantalnya dan mengatur posisi untuk tidur.
BO : Terdengar suara gentong
dipukul-pukul berkali-kali. Seseorang keluar dari belakang panggung sambil
memegang gentong. Ia berjalan dari sudut panggung satu menuju ke sudut panggung
yang satunya.
BO : “SSShhhhttttt… Badiam, padahal ada yang tidor” wanita tersebut
berjalan mendekati lelaki yang sedang tidur. Ia meletakkan gentongnya dan
mengambil ranting yang ia bawa. “Hoee,
bangun… use kanapa tidor di sini?”. Ia memang ke arah penonton sambil
mengangkat bahunya dan menggeleng-gelengkan kepalanya “Anak-anak zaman sekarang, tidor tapi kaya orang mati… Hahahaha… Dari
pada use seng ada guna, lebe bae use jadi beta pung alas duduk”.
Wanita itupun menduduki lelaki yang
sedang tertidur. Ia kembali mengambil gentongnya dan memukul-mukulnya berkali-kali.
Masuk seorang wanita yang membawa koran,
ia membuka korannya dan terlihat membaca-baca korannya sebentar. Dari belakang
panggung muncul dua makhluk berpakaian hitam yang berjalan mengendap endap.
Mereka pergi ke sudut sebelah kanan panggung yang berlawanan dengan tempat
duduk wanita berkoran.
WBK : “Dong
bilang generasi muda penentu masa depan bangsa”
BYN : “PARLETE…”
sahut kedua makhluk hitam.
WBK : “Dong
bilang generasi muda yang mau bikin bae bangsa”
BYN : “PARLENTE…”
Wanita berkoran itu berdiri dari tempat
duduknya dan merobek-robek korannya.
WBK : “Penentu
masa depan, bikin bae bangsa, generasi muda cuiih…” ia kemudaian meludah.
BYN : “Generasi
muda cuih… cuih… cuih…” kedua makhluk hitam menggemakan suara wanita
berkoran tersebut.
WBK : “Dong
su parsis kaya sampah… (menghamburkan koran yang dirobek-robeknya tadi) kaya sampah, sampah… Hahaha…” Berjalan
menuju belakang panggung.
Tiba-tiba wanita yang memegang gentong
membanting gentongnya. Makhluk hitam lari terbirit-birit menuju ke sisi kiri
dan kanan panggung.
BO :
“DENGAAAR… Apa kamong seng bisa dengar?.
WBK :
(Dari belakang panggung) “Hai, Kamu!”
BO :
(Membaca Puisi) dan para makhluk hitam membuat peragaan
Luka-luka di dalam lembaga,
Intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
Noda di dalam pergaulan antara
manusia
Duduk di dalam kemacetan
angan-angan
Aku berontak dengan memandang
cakrawala
Wanita
itu pun setelah membaca puisi, ia kembali menduduki lelaki yang sedang tidur
dan kembali memukul-mukul gentongnya.
WBK :
(Keluar dari belakang panggung sambil merangkak)
Jari-jari waktu menggamitku
Aku menyimak kepada arus kali
Lagu mergasatwa agak mereda
Indahnya ketenangan turun ke hati
Lepas sudah himpitan-himpitan yang
mengekangku
Makhluk hitam pun menyeret wanita yang
membaca puisi terakhir menuju belakang panggung
Wanita yang memegang gentongan itu
berdiri sambil terus memukul gentongannya.
BO :
“Bangun… Ayo Bangun para ANAK BANGSA…
Bangun… Bangun… Bangun…” (ia berjalan menuju belakang panggung sambil terus
memukul gentongannya.
TT :
(beberapa menit kemudian) ia terbangun sambil menggaruk-garuk kepalanya… sambil
merengkan otot-otot tubuhnya. Ia mengemasi bantalnya dan berjalan menuju ke
depan panggung.
Kemudian disusul oleh empat pemeran
lainnya.
--------------------------------------------------
SELESAI
--------------------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar