Winie The Pooh

My Widget

Rabu, 19 Juli 2017

NASKAH DRAMA "ANAK BANGSA"



ANAK BANGSA
Pengarang Naskah : Ramiati Raman

On                   : Seorang lelaki masuk sambil memegang bantal, ia terlihat kebingungan seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Ia pun duduk di tengah-tengah panggung sambil menggaruk-garuk kepalanya.


TT                    : “Ada di mana? su seng ada lai. Akan su ilang ka mana?”. Ia kemudian berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki itu pun meletakkan bantalnya dan mengatur posisi untuk tidur.

BO                  : Terdengar suara gentong dipukul-pukul berkali-kali. Seseorang keluar dari belakang panggung sambil memegang gentong. Ia berjalan dari sudut panggung satu menuju ke sudut panggung yang satunya.

BO                  : “SSShhhhttttt… Badiam, padahal ada yang tidor” wanita tersebut berjalan mendekati lelaki yang sedang tidur. Ia meletakkan gentongnya dan mengambil ranting yang ia bawa. “Hoee, bangun… use kanapa tidor di sini?”. Ia memang ke arah penonton sambil mengangkat bahunya dan menggeleng-gelengkan kepalanya “Anak-anak zaman sekarang, tidor tapi kaya orang mati… Hahahaha… Dari pada use seng ada guna, lebe bae use jadi beta pung alas duduk”.

Wanita itupun menduduki lelaki yang sedang tertidur. Ia kembali mengambil gentongnya dan memukul-mukulnya berkali-kali.


Masuk seorang wanita yang membawa koran, ia membuka korannya dan terlihat membaca-baca korannya sebentar. Dari belakang panggung muncul dua makhluk berpakaian hitam yang berjalan mengendap endap. Mereka pergi ke sudut sebelah kanan panggung yang berlawanan dengan tempat duduk wanita berkoran.

WBK                 : “Dong bilang generasi muda penentu masa depan bangsa”

BYN                 : “PARLETE…” sahut kedua makhluk hitam.

WBK                 : “Dong bilang generasi muda yang mau bikin bae bangsa”

BYN                 : “PARLENTE…”

Wanita berkoran itu berdiri dari tempat duduknya dan merobek-robek korannya.

WBK                 : “Penentu masa depan, bikin bae bangsa, generasi muda cuiih…” ia kemudaian meludah.

BYN                 : “Generasi muda cuih… cuih… cuih…” kedua makhluk hitam menggemakan suara wanita berkoran tersebut.

WBK                 : “Dong su parsis kaya sampah… (menghamburkan koran yang dirobek-robeknya tadi) kaya sampah, sampah… Hahaha…” Berjalan menuju belakang panggung.

Tiba-tiba wanita yang memegang gentong membanting gentongnya. Makhluk hitam lari terbirit-birit menuju ke sisi kiri dan kanan panggung.

BO                  : “DENGAAAR… Apa kamong seng bisa dengar?.
WBK               : (Dari belakang panggung) “Hai, Kamu!”


BO                  : (Membaca Puisi) dan para makhluk hitam membuat peragaan
Luka-luka di dalam lembaga,
Intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
Noda di dalam pergaulan antara manusia
Duduk di dalam kemacetan angan-angan
Aku berontak dengan memandang cakrawala
Wanita itu pun setelah membaca puisi, ia kembali menduduki lelaki yang sedang tidur dan kembali memukul-mukul gentongnya. 

WBK               : (Keluar dari belakang panggung sambil merangkak)
Jari-jari waktu menggamitku
Aku menyimak kepada arus kali
Lagu mergasatwa agak mereda
Indahnya ketenangan turun ke hati
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku

Makhluk hitam pun menyeret wanita yang membaca puisi terakhir menuju belakang panggung
Wanita yang memegang gentongan itu berdiri sambil terus memukul gentongannya.

BO                  : “Bangun… Ayo Bangun para ANAK BANGSA… Bangun… Bangun… Bangun…” (ia berjalan menuju belakang panggung sambil terus memukul gentongannya.

TT                    : (beberapa menit kemudian) ia terbangun sambil menggaruk-garuk kepalanya… sambil merengkan otot-otot tubuhnya. Ia mengemasi bantalnya dan berjalan menuju ke depan panggung.
Kemudian disusul oleh empat pemeran lainnya. 


-------------------------------------------------- SELESAI --------------------------------------------------






Tidak ada komentar:

Posting Komentar