Winie The Pooh

My Widget

Rabu, 19 Juli 2017

TEKNIK PENYUTRADARAAN



A.    Pendahuluan
Dalam sebuah pementasan drama, perfilman atau lain halnya yang berhubungan dengan suatu pementasan pasti ada yang namanya sutradara. Sutradara mempunyai tugas mengkoordinasikan segala anasir pementasan, sejak latihan dimulai sampai dengan pementasan selesai. Sutradara mempunyai tugas sentral yang berat dalam sebuah pementasan tidak hanya akting para pemain yang diurusnya, tetapi juga kebutuhan yang berhubungan dengan artistik dan teknis. Musik yang bagaimana yang dibutuhkan, pentas seperti apa yang harus diatur, penyinaran, tata rias, kostum, dan sebagainya, semuanya diatur atas persetujuan sutradara. Oleh karena itu sutradara harus menguasai semuanya.
Penyutradaraan berhubungan dengan kerja sejak perencanaan pementasan, sampai pementasan berakhir. Sutradara mempunyai teknik sendiri dalam menjalankan tugasnya. Di dalam makalah ini pemakalah akan memaparkan tentang teknik penyutradaraan dan peran.
B.     Pembahasan
1.      Teknik Penyutradaraan
Sutradara adalah seorang pemimpin dalam pementasan sebuah drama atau teater. Sutradara merupakan sumber kekuatan yang sangat menentukan keberhasilan pentas drama. Tugas seorang sutradara adalah menentukan motif karya lakon, menentukan pemain, serta merencanakan cara dan teknik pentas. Pemain yang tepat untuk peran tertentu akan membuat peran menjadi lebih berkarakter. Dengan mengatur jalannya cerita, sutradara membuat drama menjadi lebih hidup sesuai dengan yang diinginkan oleh penonton. Penonton bisa terkesan, terbawa perasaan, tidak sabar untuk mengetahui penyelesaiannya, dan gandrung pada drama itu.
Teknik penyutradaraan adalah suatu cara seorang sutradara dalam melakonkan perannya untuk mengangkat sebuah naskah lakon ke dalam bentuk pementasan. Ajib Hamzah berpendapat bahwa “Sutradara ketika berkehendak menyutradarai suatu naskah lakon, keberangkatan naskah lakon itu didukung oleh konsep yang telah dimiliki sebagai hasil kontrak dengan naskah” (1985: 196-197). Sementara Suyatna Anirun berpendapat bahwa setiap pagelaran drama selalu bertolak dari pencetusnya ide-ide. Ide-ide yang telah melembaga menjadi suatu gagasan-gagasan itu mengembang menjadi bahasa teater” (1978: 19).Sutradara adalah orang yang dapat mengaktualisasikan naskah lakon ke dalam panggung pementasan. Sutradara tidak dapat bekerja sendiri. Dalam setiap proses pementasan, sutradara akan berhadapan dengan naskah, aktor, kru panggung, serta penonton Menurut Suyatna Anirun, adaempat unsur yang mengusung terciptanya sebuah teater yaitu, naskah, pemain, tempat pertunjukan, dan penonton.
Semua merupakan satu kesatuan yang meruang, hanya dari sana kita akan mendapat kemungkinan terciptanya atmosfer teateral. Atmosfer tersebut hanya tercita apabila naskah sedang dimainkan, dipertunjukkan dengan tingkat permainan yang optimal, bertenaga dan berpengaruh, diusung oleh kondisi ruangan dan teknik akustik yang memadai sehingga secara visual memungkinkan terjadinya komunikasi estetis maupun emosional dengan penonton (Suyatna Anirun, 2002: 41). Seorang sutradara adalah seorang seniman, ia menyiapkan dan merencanakan kerja dan usaha-usaha kreatif untuk dapat menyuguhkan pementasan yang baik, namun sutradara juga menyadari bahwa seni bukan suatu dogma, apa yang diharapkan objektif selalu menjadi subjektif. Hal ini berkaitan dengan citra seseorang terhadap keindahan masing-masing ditentukan oleh sikap dan penalaran yang berbeda-beda.
 Teknik penyutradaraan yang digunakan sutradara dalam memunculkan naskah lakon ke atas pangung meliputi beberapa cara. Menurut Japi Tambayong, teknik yang digunakan oleh sutradara meliputi “memilih naskah, menentukan pokok penafsiran, memilih pemain, bekerja dengan staff, melatih pemain, dan mengkoordinasi setiap bagian” (1981: 68-70). Sementara Harymawan dalam bukunya berjudul Dramaturgi menguraikan teknik dalam proses penyutradaraan adalah menentukan nada dasar, casting, tata dan teknik pentas, menyusun miss and scene, menguatkan dan melemahkan scene, menciptakan aspek-aspek laku,dan mempengaruhi jiwa pemain. Adapun penjelasan dari tugas dalam proses sutradara adalah sebagai berikut :
a.       Menentukan Nada Dasar
Menentukan nada dasar adalah mencari motif yang memasuki karya lakon dan kemudian memberi ciri kejiwaan dalam suatu perwujudan naskah lakon dasar dapat bersifat sebagaimana berikut:
1.      Menentukan dan memberikan suasana khusus.
2.      Membuat lakon gembira menjadi suatu banyolan.
3.      Mengurangi bobot tragedi yang terlalu berlebihan.
4.      Memberikan prinsip dasar pada lakon
5.      Ringan
b.      Menentukan Casting
Yang dimaksud casting ialah proses penuangan untuk menentukan pemeran berdasarkan analisis naskah untuk diwujudkan dalam pentas. Beberapa macam casting yang digunakan sutradara, adalah sebagai berikut:
1.      Casting by ability:castingberdasarkan kecakapan yang terbaik dan terpandai sebagai pemeran utama, serta menjadikan pemain dengan tokoh-tokoh yang penting dan sukar.
2.      Casting to type: castingberdasarkan kondisi/kesesuaian fisik dengan peran tokoh. Sutradara akan memilih pemainnya yang sesuai dalam memerankan tokoh dengan melihat kesesuaian fisik pemain dengan tokoh yang akan dilakoninya.
3.      Antitypecasting: castingyang agak bertentangan dengan keadaan watak maupun sifat pemeran dalam memerankan tokoh yang akan dimainkannya. Proses pengcastingan dengan model ini akan membuat pemain lebih mengeksplor dirinya.
4.      Casting to emotional temperament: castingberdasarkan pada hasil observasi hidup pribadi, adanya kesamaan/kesesuaian dengan peran yang dimainkan dalam hal emosi dan temperamen. Pada tipe pengkastingan gaya emotional temperament, sutradara akan lebih mudah menggarap para pemainnya karena pemain memiliki kemiripan kondisi keseharian dengan tokoh yang dilakoninya.
5.      Therapeutic casting: castingyang dikemukakan untuk seorang pelaku yang bertentangan sekali watak aslinya dengan maksud menyembuhkan atau terapi mengurangi ketakseimbangan jiwanya. Pada tipe penyutradaraan gaya therapeutic casting, sutradara sudah mencapai tahapan suhu di mana ia mengerti betul kondisi para pemainnya dan berusaha untuk menyeimbangkan kondisi kejiwaan para pemainnya.Dalam melakukan casting, sutradara harus memilih pemain atau orang yang sesuai untuk memainkan tokoh yang dimaksud. Kesesuaian itu berdasar pada fisik, karakter, warna suara, temperamen kesehariannya, dan mungkin juga pengalaman atau ““jam terbang”” yang dimilikinya dalam dunia panggung atau seni peran.

c.       Tata dan Teknik Pentas
Tata dan teknis pentas adalah segala yang menyangkut soal tata setting, tata rias dan busana, tata cahaya dan tata musik, kesemuanya disesuaikan dengan nada dasar. Dalam merencanakan tata pentas, seorang sutradara mempunyai konsep mengenai tata pentas sebuah lakon yang akan disutradarainya, yang memberikan gambaran mengenai tata setting, tata rias danbusana, tata cahaya, dan tata musiknya.Pelaksanaan tata pentas ini dikerjakan oleh pekerja panggung, seperti penata setting, perias dan penata kostum, penata lampu dan penata musik.Hubungan sutradara dengan pekerja panggung tersebut, sutradara hanya memberikan konsep tata pentas secara garis besarnya saja, dan pekerja panggung mengerjakan menurut konsep tata pentas sutradara.

d.      Menyusun Miss en Scene
Menyusun missen sceneadalah menyusun segala perubahan yang terjadi dan terdapat pada daerah pemain akibat adanya perpindahan pemeran atas perlengkapan panggung, pemberian bentuk bisa dicapai dengan hal-hal berikut :
1). Sikap pemain
2). Pengelompokan
3). Pembagian Tempat Kedudukan Para Pelaku
4). Variasi Saat Keluar dan Masuk
5). Variasi Posisi dari Dua Pemain yang Berhadap-hadapan
6). Komposisi dengan Menggunakan Garis dalam Penempatan Pelaku
7). Ekspresi Kontras dalam Pakaian Pemeran
8). Efek yang Ditimbulkan oleh Tata Sinar Lampu
9). Memperhatikan Latar Belakang Pentas
10). Keseimbangan dalam Komposisi Pentas
11). Dekorasi

Dalam menyusun miss en scene, sutradara akan menjumpai permasalahan mengenai bahasa naskah yang diangkat ke bahasa panggung, yang lazim disebut tekstur. Bahasa panggung atau tekstur meliputi, tata pentas, action, blocking, dan mood. Tatapentas meliputi aksi dan reaksi yang dilakukan oleh tokoh atau pelaku di panggung; baik dalam bentuk gesture(gerak isyarat), business(kesibukan), dan movement(gerak berpindah tempat). Adapun blocking meliputi pengelompokkan pemain, pembagian tempat kedudukan pemain, variasi saat keluar dan masuk panggung, keseimbangan dalam komposisi dengan menggunakan garis dalam penempatan pelaku. Moodmerupakan suasana jiwa yang tercipta atau diciptakan dalam setiap babak atau adegan.

e.       Menguatkan atau Melunakkan Scene
Teknik ini adalah cara penggarapan suatu lakon yang dituangkan pada bagian-bagian adegan lakon. Sutradara bebas menentukan tekanan pada bagian-bagian lakon menurut pandangannya sendiri tanpa mengubah naskah. Kondisi penguatan dan pelunakanscenebisa didukung dengan efek cahaya dan musikalitas.

f.       Menciptakan Aspek-aspek Laku
Sutradara memberikan saran-saran pada para aktor agar mereka menciptakan apa yang disebut laku simbolik atau akting kreatif, yaitu cara berperan yang biasanya tidak terdapat dalam instruksi naskah, tetapi diciptakan untuk memperkaya permainan,sehingga penonton lebih jelas dengan kondisi batin seorang pemeran.

g.      Mempengaruhi Jiwa Pemain
Ada dua macam kedudukan sutradara sebagai penggarap cerita lakon:
1). Ciri Sutradara Teknikus
Dia akan menciptakan suatu pagelaran pentas yang menyolok dan menarik perhatian publikdengan teknik dekor yang luar biasa, tata sinar yang mewujudkan kostum yang menarik. Penyutradaraan teknikus terkesan mengelabuhi penonton dengan tampilan secara visual tanpa memahami unsur keaktorannya yang notabene sebagai media penyampai suatu maksud dari teks drama.
2). Ciri Sutradara Psikolog
Gaya sutradara psikologi memang kurang memperhatikan aspek selain keaktoran karena dalam penggambaran watak dia akan lebih mengutamakan tekanan psikologis, khususnya pada cara actingyang murni ketika prestasi permainan pribadi ditempatkan dalam arti sebenarnya. Jadi aspek di luar wilayah keaktoran agak dikesampingkan.



h.      Koordinasi
Sutradara memerlukan koordinasi dengan semua pihak yang berhubungan dengan proses pementasan. Dalam sebuah proses penggarapan suatu naskah lakon, seorang sutradara harus mampu memilih jalur yang akan dipilihnya untuk menjalankan penyutradaraannya. Jalur yang dipilihnya akan menjadi pedoman kepemimpinannya dan menentukan tindakan yang akan diambilnya dalam sebuah proses tersebut. Japi Tambayong membagi kepemimpinan seorang sutradara, antara lain sebagai berikut :
1.      Sutradara Konseptor: sutradara, tak pelak, adalah dengan sendirinya konseptor. Tetapi, seorang sutradarakonseptor, berdiri sebagai pemegang konsep penafsiran yang ketat. Ia menyerahkan konsep penafsirannya pada para pemain, dan dibiarkannya pemain-pemain itu mengembangankan konsep itu secara kreatif, tetapi juga terikat.
2.      Sutradara Koordinator: jika sebuah pertunjukan bersifat komersial, tentu aktor-aktor yang dipilih bermain adalah aktor-aktor ternama, atau paling tidak aktor-aktor yang sudah jadi. Mereka dipakai dan dibayar. Tugas sutradara disini, kuran lebih adalah pengarah. Ia tinggal mengkoordinasi pemain-pemain itu dengan konsep penafsirannya.
3.      Sutradara Diktator, sutradara di sini tidak percaya pada pemain-pemainnya. Ia menjadi guru yang mengharapkan pemainnya dicetak persis seperti dirinya. Baginya tidak berlaku konsep penafsiran dua arah seperti sutradara konseptor. Ia mendambakan seni sebagai dirinya, “seni adalah aku”. Pemain-pemainnya tetap buta tuli, mereka hanya dibuat robot.
4.      Sutradara Suhu: untuk Indonesia, barangkali pedoman sutradara sebagai suhu, amat diperlukan bagi pembangunan jangka panjang. Sutradara adalah seorang suhu, yang mengamalkan ilmu bersamaan dengan mengasuh batin anggota pemainnya. Kelompok teaternya dibuat seperti sebuah padepokan. Ada masanya belajar bersama-sama, ada masanya membangkang dan menyanggah guru, lalu ada masanya berdiri sendiri. Para aktor diberi keyakinan, bahwa mereka adalah cantrik-cantrik yang kelak harus hadir dengan dirinya sendiri, melawan secara jantan kepada pemimpinnya. Jantan di sini berarti, ilmunya telah benar-benar mustaid. (JapiTambayong, 1981:73-74).Menurut Nano Riantiarno, dalam dunia penyutradaraan, tercatat ada empat jenis “gaya” sutradara. Semua berkaitan erat dengan perilaku atau perangainya sebagai seorang manusia.“gaya” dari sutradara tersebut yaitu sebagai berikut :

1.      Sutradara Pemarah
Dalam dunia penggarapan, banyak sutradara yang mengikuti “gaya” ini. Hal ini disebabkan karena adanya suatu pengertian bahwa seorang sutradara marah-marah untuk menghasilkan hasil yang optimal.Sutradara pemarah sulit sekali untuk menjalin komunikasi yangbaik dengan para pekerja panggung dan pemain-pemainnya. Padahal kerja panggung dalam suatu proses merupkan suatu kerja bersama. Dunia kesenian bagi sutradara pemarah makin lama akan makin sempit. Dia akan kehilangan banyak momen berharga.
2.      Sutradara Pendiam
Gaya jenis ini juga memiliki banyak pengikut. Sutradara jenis ini biasanya lebih suka bekerja sendirian. Dia kurang gemar memerintah atau berpetuah, tapi lebih suka langsung memberi contoh. Harapannya, semoga yang lain tak enak hati dan mau bekerja lebihoptimal pada masing-masing bidangnya. Sutradara jenis ini dapat menjadi bumerang bagi proses pementasan tersebut. Hal ini akan membuat orang yang ikut dalam proses pementasannya akan bertindak seenaknya.
3.      Sutradara Cerewet
Biasanya seorang sutradara yang cerewet menyimpan niat untuk membuat hasil kerjanya jadi sesempurna mungkin. Dia suka menganggap para pekerjanya adalah orang-orang yang bodoh yang harus selalu digiring dan wajib diberitahu hingga hal-hal paling detil. Perkembangan pekerjaan harus berasal dari dirinya saja. Pertimbangan orang lain kurang dihargai, dan semua keputusan harus atas ijinnya. Sutradara jenis ini mengatur sampai pada hal sekecil apapun. Ia ingin semua berjalan seperti keinginannya.
4.      Sutradara Romantis
Sutradara jenis ini entah mengapa selalu ingin memacari para pemainnya. Ia ingin merasa lebih dekat dengan pemainnya. Sutradara ini merasa bahwa kedekatan antara dirinya dengan aktor akan mempermudah dalam memberikan petunjuk maupun instruksi-instruksi meskipun hal tersebut tentunya mempunyai benberapa kendala seperti mengesampingkan profesionalismenya sebagai seorang sutradara. Hal yang berbeda dikemukakan oleh Harymawan dalam bukunya, dramaturgi. Menurut Harymawan, terdapat dua gaya sutradara, yaitu gaya Gordon Craig dan Gaya Laisez Faire. Gordon Craig menyatakan bahwa ide dan gagasan seorang sutradara harus dilaksanakan oleh para aktor. para aktor harus mendedikasikan dirinya pada ide-ide sutradara. Gaya Gordon Craig ini menciptakan sesuatu yang sesuai dengan harapan sutradara, sempurna, dan teliti, namun gaya ini akan menjadikan seorang sutradara terkesan diktator. Gaya Laisez Faire merupakan kebalikan dari Gordon Craig. Sutradara memberikankesempatan bagi para aktornya untuk lebih leluasa berekspresi. Sutradara bertindak sebagai pendamping, namun hal ini akan menimbulkan adanya kekacauan dan kurang teratur karena tiap-tiap aktor dibiarkan berkembang menurut kemampuannya, sehingga hanya aktor-aktor yang berpengalaman saja yang dapat menghadirkan pementasan yang baik.

2.      Teknik Berperan
Berperan adalah menjadi orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama. Sejauh mana ketrampilan seorang aktor dalam berperan ditentukan oleh kemampuannya meninggalkan egonya sendiri dan memasuki serta mengekspresikan tokoh lain yang dibawakan.
Dalam berperan harus diperhatikan adanya hal-hal berikut ini:
1.      Kreasi yang di lakukan oleh aktor atau aktris.
2.      Peran yang dibawakan harus bersifat alamiah dan wajar.
3.      Peran yang dibawakan harus sesuai dengan tipe, gaya, jiwa, dan tujuan dari pementasan.
4.      Peran yang dibawakan harus sesuai dengan periode tertentu dan watak yang harus direpresentasikan.
Untuk berperan secara natural dan realisitis, diperlukan penghayatan untuk mendalam tentang tokoh yang diperankan itu. Dalam kaitan itu, gaya, tipe, dan jiwa permainan menentukan corak penghayatan peran.
a.       Aktor bintang
Aktor bintang menjadi sumber gaya artinya kesuksesan pementasan ditentukan oleh pemain-pemain kuat yng mengandalkan kecantikan, kemasyhuran, ketampanan atau kecantikan atau gaya tarik seksualnya. Jika yang dijadikan sumber gaya adalah aktor bukan bintang, maka kecakapan berperan diandalkan untuk memikat penonton.


b.      Sutradara
Sutradara sebagai sumber gaya artinya dengan kemampuan sutradara diharapakan pementasan akan berhasil. Penonton mengharap pertunjukkan drama yang bermutu. Dalam hal ini, penonoton mempercayakan nama sutradara sebagai jaminan mutu drama.
c.       Lingkungan
Lingkungan sebagai sumber gaya artinya lingkungan pementasan dapat memungkinkan suksesnya pementasan. Jika kita mementaskan drama “Ken Arok dan Ken Dedes”, maka kehidupan pentas oleh dekorasi dan tata pentas yang menggambarkan secara nyatakerajaan Singasari dapat menjadi modal kesuksesan drama tersebut.
d.      Penulis
Penulis sebagai sumber gaya berarti di tangan penulis yang hebat akan lahir naskah yang hebat pula yang mempunyai kemungkinan sukses jika dipentaskan.
Di dalam berperan, imajinasi sangat penting karena dalam berperan, seorang aktor berpura-pura menjadi orang lain. Menghadirkan kepura-puraan menjadi realitas membutuhkan daya imajinasi. Aktor harus menghayati setiap situasi yang diperankan dan mampu secara sempurna menyelami jiwa tokoh yang dibawakan serta menghidupkan jiwa tokoh itu sebagai jiwanya sendiri, sehingga penonton yakin yang ada dipentas bukan diri sang aktor tetapi diri tokoh yang diperankan.
Untuk mengembangkan pribadi, diperlukan daya kreativitas (kemampuan untuk mencipta) dan sikap fleksibel (dapat menyesuaikan diri dimana saja berada).
1.      Sensitif, Mudah memahami aktor yang akan diperrankan.
2.      Sensibel, Sadar akan yang baik dan yang buruk.
3.      Kualitas, personal yang memadai
4.      Daya imajinasi yang kuat
5.      Stamina fisik dan mental yang baik.
Kelima hal tersebut harus disertai lima macam daya kepekaan yaitu sebagai berikut
·         Kepekaan (mudah mengerti) akan ekpresi mimik.
·         Kepekaan terhadap suasana pentas.
·         Kepekaan terhadap penonton.
·         Kepekaan terhadap suasana dan ketepatan proporsi peran yang dibawakan (tidak lebih dan tidak kurang)

C.    Kesimpulan
Sutradara adalah seorang pemimpin dalam pementasan sebuah drama atau teater. Sutradara merupakan sumber kekuatan yang sangat menentukan keberhasilan pentas drama. Tugas seorang sutradara adalah menentukan motif karya lakon, menentukan pemain, serta merencanakan cara dan teknik pentas. Pemain yang tepat untuk peran tertentu akan membuat peran menjadi lebih berkarakter. Dengan mengatur jalannya cerita, sutradara membuat drama menjadi lebih hidup sesuai dengan yang diinginkan oleh penonton. Penonton bisa terkesan, terbawa perasaan, tidak sabar untuk mengetahui penyelesaiannya, dan gandrung pada drama itu.Teknik penyutradaraan adalah suatu cara seorang sutradara dalam melakonkan perannya untuk mengangkat sebuah naskah lakon ke dalam bentuk pementasan. Sedangkan Berperan adalah menjadi orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama. Sejauh mana ketrampilan seorang aktor dalam berperan ditentukan oleh kemampuannya meninggalkan egonya sendiri dan memasuki serta mengekspresikan tokoh lain yang dibawakan.




Daftar Kepustakaan
file:///C:/Users/windows/Downloads/Documents/211051011201101441.pdf
http://3pilar.blogspot.com/2011/02/keaktoran-dalam-pementasan-drama-atau.html
http://shangpemberontak.blogspot.com/2013/09/penyutradaraan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar